Iseng-iseng buka kulkas, taraaa!!
Nampaklah sebuah nanas ukuran besar yang sedang berbaring di dalam kulkas
bagian tengah. Sudah berhari-hari buah yang kaya vitamin C itu dicuekin, gak
diapa-apain. Ehh selain nanas ada rambutan juga nih lagi nganggur. Nah, daripada
kelamaan dianggurin mendingan diolah. Mumpung lagi panas-panasnya nih cuaca.
Terik banget di siang bolong.
Sunday, 4 March 2018
Segarnya Rujak Kuah di Siang Bolong
at March 04, 2018
Tadinya
sih, aku pengen makan buah nya utuh-utuh aja gitu, gak usah dirujak. Tapi
mamahku pengen rujak kuah tuh dan bumbunya gampang banget! Aku belum pernah
bikin sendiri sebelumnya. Seringnya tinggal hap! Langsung makan aja :p Tapi
waktu kemarin, aku diajarin mama sekilas cara membuat bumbunya. Sekali eksekusi
langsung berhasil. Alhamdulillah! :D
Yuk
langsung simak aja cara membuat Rujak Kuah nan segerrr banget ini.
Bahan
buah :
- Nanas 1 buah
- Boleh ditambah buah lain seperti: mangga, rambutan atau buah
yang asem-asem. Bebas.
Bahan
bumbu :
- Cabai rawit jawa 15 bh (kalau mau pedas banget bisa ditambah
lagi, kalau gak mau, ya
dikurangin aja)
- Terasi 4 jumput (cubitan) atau sesuai selera
- Garam secukupnya
- Gula merah 2 bh
- Gula pasir 4 sdt
- Air mineral 4 gls belimbing
- Lemon ½ bh
Cara membuat :
1.Potong buah nanas dan kupas rambutan. Keluarkan bijinya.
(Kalau gak mau ribet gak dikeluarin bijinya juga no problem).
2.Rebus gula merah dan gula pasir. Diamkan hingga larut dengan
sendirinya.
3.Sambil menunggu larutan gula larut. Haluskan cabai rawit
jawa, terasi dan garam. Disarankan selalu dicicipi supaya jika ada kekurangan
rasa bisa diatur.
4.Ketika larutan gula sudah larut, aduk rata. Matikan api.
Diamkan hingga dingin.
5.Tuangkan larutan gula ke wadah yang berisi buah. Masukkan
bumbu yang sudah dihaluskan. Aduk rata. Tambahkan perasan lemon. (Bisa pakai
asam matang juga)
6. Dinginkan dalam kulkas.
Jadi deh !!!
Udah gitu
aja bikinnya. Gampang banget kan? Rasanya.. wuih seger banget dan pedasnya juga
mantap! Selamat mencoba dan mengkonsumsi rujaknya dengan penuh nikmat panas-panas
terik di siang bolong yaa !! ;)
Gumoh/Muntah pada Bayi? Jangan disepelekan!
at March 04, 2018 Gumoh/muntah pada bayi atau bahasa
medisnya itu Gastroesophageal Reflux (GER) memang bukanlah
suatu hal yang aneh lagi bagi para ibu. Namun, jika dibiarkan saja, tentu dapat
menyebabkan penyakit yang serius lhoo.
Gumoh/muntah ini sebenarnya terjadi karena isi
lambung bayi (ASI atau susu yang telah diminum) mengalir ke esophagus (kerongkongan)
bisa dengan muntah atau tidak. Pada bayi sehat, gumoh hanya berlangsung selama
<3 menit dan terjadi setelah makan. Bisa sedikit atau tiba-tiba.
Nahh, tapi pada kondisi penyakit atau Gastroesophageal
Reflux Disease (GERD), ada beberapa gejala yang bisa dilihat yaitu :
- Muntah berwarna kuning/hijau bahkan bisa ada darah.
- Berat badan susah naik
- Susah makan
- Ada masalah pernapasan/batuk kronik (terjadi dalam waktu menahun)
Sedangkan, pada anak-anak atau remaja akan merasakan heartburn (rasa
panas di dada, dan bisa sampai kerongkongan). Gejalanya juga sama tuh seperti
bayi, tambahannya yaitu: sering merasakan ada makanan/cairan di belakang mulut,
sering sakit perut/dada serta sakit ketika menelan dan batuk. Ilmu tambahan nih
hehee..
Don’t worry. GERD ini bisa diatasi dengan perubahan gaya hidup,
obat dan tindakan bedah (wah ini sih kalau udah parah ya).
Tapi… lebih baik lagi kalau kita mencegah .. karena mencegah lebih
baik daripada mengobati betul?
Nah cara mencegahnya gimana?
1. Menghindari pemberian makan berlebihan. Sebaiknya makanan diberikan dengan porsi kecil tapi sering. Atau bila perlu mengentalkan tepung beras/maizena dicampur susu formula (untuk bayi >6 bulan).
2. Jangan langsung memberi makan setelah muntah. Tunggu beberapa saat.
3. Bayi harus dalam posisi tegak setelah makan dan minum selama 30 menit.
4. Jangan memberi minum dengan botol saat bayi sedang tiduran.
5. Menghindari pakai celana/popok terlalu ketat.
6. Posisi kepala bayi ditinggikan dengan cara menaruh bantal yang agak tinggi.
1. Menghindari pemberian makan berlebihan. Sebaiknya makanan diberikan dengan porsi kecil tapi sering. Atau bila perlu mengentalkan tepung beras/maizena dicampur susu formula (untuk bayi >6 bulan).
2. Jangan langsung memberi makan setelah muntah. Tunggu beberapa saat.
3. Bayi harus dalam posisi tegak setelah makan dan minum selama 30 menit.
4. Jangan memberi minum dengan botol saat bayi sedang tiduran.
5. Menghindari pakai celana/popok terlalu ketat.
6. Posisi kepala bayi ditinggikan dengan cara menaruh bantal yang agak tinggi.
Terus, kenapa sih GERD bisa terjadi? Apa penyebab awalnya?
www.google.com
GERD itu terjadi karena adanya gangguan katup sphincter bagian
bawah kerongkongan. Katup tersebut sedang lemah sehingga cairan dari lambung
bisa merembes naik lagi ke kerongkongan.
Jadi, akibatnya cairan yang naik tadi bisa menyebabkan rasa
panas/terbakar di dada dan kerongkongan, karena sifat asam dalam cairan dari
lambung itu yang bersifat korosif (merusak).
Jika asam lambung terus-menerus naik, maka kerongkongan bisa
iritasi/luka dan bahkan berdarah.
Faktor risiko penyebab GERD yaitu :
1. Obesitas = Timbunan lemak di perut bisa menekan lambung sehingga cairan lambung bisa naik ke atas.
2. Hernia hiatal = Pada keadaan ini, letak katup sphincter dengan diafragma ada di level yang berbeda sehingga cairan lambung mudah naik ke atas. Sedangkan, pada kondisi normal berada di level yang sama, yaitu bisa mencegah cairan lambung naik ke atas.
1. Obesitas = Timbunan lemak di perut bisa menekan lambung sehingga cairan lambung bisa naik ke atas.
2. Hernia hiatal = Pada keadaan ini, letak katup sphincter dengan diafragma ada di level yang berbeda sehingga cairan lambung mudah naik ke atas. Sedangkan, pada kondisi normal berada di level yang sama, yaitu bisa mencegah cairan lambung naik ke atas.
Nah yang terakhir ada tata laksana diet buat GERD pada bayi nih.
1. Bayi gak perlu diet (pada bayi
yang masih ASI), cukup menghindari minum yang berlebihan. Terus, tetap
diperhatikan yaa jangka waktu antara setelah minum ASI dan tidur si bayi 😉
2.Untuk bayi yang sudah minum
susu formula, coba tambahkan tepung beras/maizena 1 sdt (senilai 20 kkal) per
30 ml susu formula.
Selagi bisa diatasi dirumah gak ada salahnya dicoba dulu, nanti
jika bayi belum membaik juga atau bahkan naudzubillah yaa malah semakin
memburuk keadaannya bisa langsung dikonsultasi ke dokter untuk mendapatkan
penanganan lebih lanjut.
Semoga bermanfaat 😊
Sumber:
- - AsDI, IDAI, PERSAGI.
(2015). Penuntun Diet Anak. (edisi ke-3.). Fakultas
KedokteranUniversitas Indonesia.
- - www.mediskus.com
Saturday, 24 February 2018
Semua yang Kutanam telah Kutuai
at February 24, 2018
Selesai
melaksanakan tugas praktik di Rumah Sakit, ada tugas skripsi yang siap menanti.
Aku melaksanakan penelitian untuk skripsi pada bulan Juli tahun 2017 dan hanya
berlangsung selama dua minggu. Setelah penelitian, aku segera diskusi dengan
dosen pembimbing mengenai hasil penelitianku dan menyusun pembahasan hingga
selesai. Sungguh tidak menyangka, aku bisa ikut sidang skripsi gelombang pertama.
Tentunya, dengan segala pengorbanan yaitu ketiduran di kereta dan bus karena
selalu tidur larut malam, sakit badan serta stress dikejar waktu. Sungguh,
ingin mencapai suatu kesuksesan itu memang harus sakit dulu.
***
Tepat pada tanggal
29 Agustus 2017, aku sidang skripsi pukul sepuluh pagi. Dosen yang menilaiku
ada tiga, pembimbing I, penguji I dan penguji II. Semua berjalan lancar. Aku
dapat menjawab semua pertanyaan dengan tenang dan yakin sehingga dosen tidak
menanyakan hal yang macam-macam. Aku dinyatakan lulus pada hari itu juga, tapi
ada banyak revisi dari penguji. Tidak apa-apa, yang penting aku sudah lega
karena sudah sidang. Pada saat revisi skripsi, aku wajib konsultasi dengan
ketiga dosen tersebut dan dosen pembimbing II. Jadi aku harus mendapatkan tanda
tangan empat dosen sebagai bukti bahwa revisi skripsiku telah disetujui.
Revisi yang
kukerjakan juga tidak langsung disetujui dosen. Ditengah perjalanan revisi,
mereka menambah-nambahkan sesuatu yang tidak didiskusikan pada saat sidang. Aku
sangat lelah, harus merubah banyak skripsiku sampai lebih dari sebulan. Namun,
tidak ada suatu perjuangan yang sia-sia. Meskipun nilai skripsiku tidak sebagus
nilai praktik di Rumah Sakit, aku bersyukur nilai IP-ku semester delapan masih
bagus. Tetapi, nilai rata-rata IP semester atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)
yang aku raih tidak cumlaude atau diatas 3,50. Meski begitu, aku
bersyukur IPK-ku bisa bertahan diatas 3,00 dan orang tuaku sama sekali tidak
mempermasalahkan IPK-ku yang tidak cumlaude itu karena mereka tahu betul
perjuanganku selama kuliah. Itu memang benar adanya, aku selalu sungguh-sungguh
belajar dan tidak pernah main-main.
Seperti itulah kisah dari awal perkuliahan hingga lulus. Cukup berat hati ini selama itu karena harus perang melawan batin, karena segala permasalahan yang kuhadapi saat itu. Mungkin bagi kamu yang memiliki masalah yang lebih berat dariku, akan berpikir ini belum ada apa - apanya. Tapi, sungguh ... Aku lega sudah melewati fase-fase dimana mentalku diasah sedemikian rupa untuk menjadikanku lebih baik lagi.
Aku jadi teringat dengan suatu pepatah.. siapa yang akan menanam, dia yang akan menuai. Aku menanam proses .. proses yang tidak mudah. Menghadapi rintangan, melawan emosi, menghargai teman .. Hasilnya sudah kutuai sendiri. Nilai yang cukup baik, emosi yang bisa kukontrol, ketika ingin marah karena lelah aku masih tetap bisa menahan dan tidak memasukkan kedalam hati. Aku juga akhirnya bisa perlahan menghargai pendapat teman.
Semoga kisah ini bisa jadi pembelajaran untuk pembaca serta pasti banyak hikmah yang dapat dipetik juga dari sini.
Perang itu --- Belum Berakhir
at February 24, 2018
Selama bertugas
memantau pasien, aku mengalami kegagalan sebanyak tiga kali. Pertama, pasien
usus buntu gagal dipantau karena pindah ruangan, kedua pasien anemia gagal
karena pulang, ketiga pasien tumor usus besar gagal karena penyakitnya terlalu
berat dan disuruh oleh AG untuk mencari pasien lain. Rasanya aku mau pulang ke
rumah saja ingin menyudahi ini karena lelah sekali sudah dua hari mau selesai,
pasien malah pulang atau meninggal.
Aku berharap
pasien keempatku ini bisa selesai sampai tuntas. Penyakitnya yaitu Stroke
Hemoragic Intracerebral Hematoma atau disebut stroke (pecahnya pembuluh
darah diotak) dengan komplikasi DM dan Hipertensi. Jadi, aku memberikannya diet
DM nomor sekian dan diet rendah garam serta menyesuaikan Tekanan Darah (TD)
pasien termasuk kedalam kategori derajat sekian. Alhamdulillah tiga hari
berturut-turut bisa selesai sampai tuntas.
Masih ada
perjuangan berikutnya. Setelah selesai pemantauan, aku masih harus konsultasi
kepada AG dan ini cukup menguras tenaga dan otak. Aku bolak-balik karena
disuruh ganti dietnya, otomatis aku juga harus mengganti angka-angkanya yang
membuat laporanku berubah semua sampai halaman terakhir. Namun aku tidak
menyerah, kuturuti semua perintah AG. Sampai dimarahi pun aku rela. Justru, aku
merasa bersyukur beliau selalu memberi tahu kesalahanku.
Akhirnya, setelah
sekian lama laporanku selalu direvisi oleh AG, sampai beliau bilang “Saya bosan
melihat kamu lagi, kenapa sih laporannya salah terus? Kamu orangnya kurang
teliti, coba perbaiki lagi, saya tidak mau laporannya seperti ini”. Meskipun
sejuta kritikan pedas selalu terlontar dari AG, aku tidak pernah memasukkannya
kedalam hati. Pada saat presentasi, sepuluh orang AG konsentrasi
memperhatikanku, tetapi hanya satu orang yang bertanya. Pertanyaannya tidak
susah dan banyak mengandung saran jadi aku dengan percaya diri menjawabnya.
Nilai yang kudapat juga sangat memuaskan.
***
Last sekuel = "Semua yang kutanam telah kutuai"
Perang di Kampus dan di Rumah Sakit
at February 24, 2018
Akhirnya, dengan
kerja keras, aku bisa sidang proposal skripsi gelombang pertama pada tanggal 8
Maret 2017. Judul proposal skripsiku ditentukan oleh Ketua Jurusan dan sungguh
tidak beruntung, judul yang disarankan beliau tidak sesuai dengan keinginanku.
Mendalami judul yang tidak kusukai bukanlah perkara yang mudah, aku harus terus
belajar mengenai ruang lingkupnya, hingga benar-benar paham sampai bisa
merencanakan apa yang akan kulakukan untuk penelitian skripsi. Tugas proposal
sudah selesai, masih ada tugas berat lain yaitu Praktik Kerja Lapangan (PKL) di
Rumah Sakit yang cukup menguras tenaga dan otak. Tidak bisa sambil menyelam
minum air, kedua tugas itu harus fokus dikerjakan satu-satu.
Tugas
yang kulakukan saat praktik di Rumah Sakit yaitu memantau asupan gizi pasien
rawat inap. Aku harus mencari pasien yang punya masalah gizi atau asupan makan.
Jika sudah dapat pasien, aku harus menentukan diet pasien itu misalnya dia
punya penyakit Diabetes Melitus (DM), maka aku harus memberikan diet DM nomor
sekian karena dietnya ada bermacam-macam tergantung kebutuhan energinya.
Kemudian aku juga harus membuat takaran makanannya sesuai dengan kebutuhan
pasien dan masuk ambang batas toleransi. Jika tidak, maka akan salah semua
perhitungannya. Pekerjaan yang aku lakukan harus dikonsultasikan kepada Ahli Gizi
(AG), agar bisa diberikan masukan dan saran. Lalu aku memantau perkembangan
asupan makan pasien selama tiga hari berturut-turut. Jika pasien itu pindah
ruangan, dipulangkan dokter atau meninggal, maka aku harus mencari pasien lagi.
***
After this = "Perang itu ... Belum Berakhir"
Kesempurnaan yang Melebihi Dugaan
at February 24, 2018
Semakin tinggi
tingkat, maka semakin sulit mata kuliahnya. Semester enam terasa sangat menakutkan
bagiku. Mata kuliah kompetensi telah memenuhi pikiran dan menghabiskan
tenagaku. Bukan teori lagi yang kupelajari, melainkan praktik mengaplikasikan
teori yang sudah dipelajari selama lima semester dalam ruang lingkup yang
berkaitan dengan jurusanku. Tugas praktiknya yaitu mencari kasus pasien dengan
penyakit Tuberculosis (TBC) di Rumah Sakit, kemudian dikaji
data-datanya, berkunjung ke panti sosial untuk menilai status gizi orang-orang
lanjut usia, datang ke catering untuk menilai bagaimana penyelenggaraan
makanannya dan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama sebulan di Cianjur.
***
Tidak terasa waktu
cepat berlalu. Perasaanku lega karena sudah menyelesaikan semua tugas, ujian
semester enam digantikan oleh tugas praktik kompetensi tersebut. Aku sangat
penasaran IP-ku berapa sekarang. Sungguh tidak disangka, aku mendapat IP 4,00.
Jujur, aku tidak berharap terlalu tinggi mendapatkan IP sesempurna itu,
bersyukur sekali hasil kerja kerasku tidak sia-sia. Tidak selamanya manusia
berada dibawah maupun diatas, dunia ini seperti roda berputar. Keterpurukan
tidak boleh membuatku putus asa, dan kenikmatan juga tidak boleh membuatku
menjadi tinggi hati. Jadi, walaupun aku sangat senang mendapat IP tinggi,
tetapi aku tidak boleh merendahkan orang lain dan masih harus terus belajar.
Selepas semester
enam, aku mendapatkan tugas yang tidak kalah luar biasa disemester tujuh sampai
delapan. Aku yakin, banyak mahasiswa yang dilanda ketakutan saat harus
berhadapan dengan tugas ini, ketakutannya yaitu tidak bisa lulus tepat waktu.
Tugas itu adalah proposal skripsi dan skripsi.
***
Next = "Perang di Kampus dan di Rumah Sakit"
Menerima, Introspeksi, Memperbaiki
at February 24, 2018
Naik semester
lima, ada salah satu mata kuliah yang sudah mulai menjurus tentang cara
menyusun skripsi yaitu metode penelitian. Meskipun masih umum pembahasannya, tetapi
aku harus serius. Bukan hanya serius dimetode penelitian saja tetapi juga mata
kuliah yang lain. Pada semester ini, aku rajin mengejar nilai tambahan
bagaimanapun caranya. Sebagai contoh, pada saat ujian dimana dosen hanya
mewajibkan untuk mengumpulkan berkas tugas metode penelitian saja, aku
mengajukan diri untuk presentasi, padahal itu tidak wajib. Dosen juga
memberikan kebebasan siapa saja yang bersedia untuk presentasi. Pada saat mata
kuliah diagnosa gizi, aku antusias untuk menjawab pertanyaan dosen atau sering
bertanya kepada teman yang sedang presentasi.
***
Masalah sulit untuk
menyelaraskan berbagai pendapat kedalam satu persepsi dengan teman kelompok
terulang lagi disemester ini. Aku mengerti setiap orang mempunyai pendapat yang
berbeda-beda, dan aku tidak pernah merasa menjadi ketua dalam kelompok
tersebut. Kudengar mereka tidak suka kepadaku, katanya aku terlalu banyak
mengingatkan hingga mereka bosan mendengarku. Padahal maksudnya supaya mereka
tidak lupa dengan tugasnya agar bisa lanjut dikerjakan dengan teman yang lain
dan tidak terhambat. Akhirnya aku lebih memilih untuk diam, tidak terlalu
banyak mengingatkan. Percaya saja kepada temanku. Toh kalau ada apa-apa, risiko
ditanggung bersama dan dia nanti juga akan merasa bersalah serta bisa menjadikan
kesalahan itu sebagai pelajaran.
***
Alhamdulillah, tidak
terasa ujian semester lima telah usai dan akhirnya IP-ku naik lagi. Tentunya
dengan kerja keras dan tidak menyontek pada saat ujian, meskipun tidak mencapai
IP seperti semester satu dan dua. IP yang kudapat adalah 3,30. Walaupun IP
sudah naik, tetapi semangat belajarku tetap harus ditingkatkan, aku harus lebih
keras lagi belajarnya supaya nilaiku stabil. Ini bukan semata-mata karena
mengejar nilai, tetapi aku bisa mengukur kemampuanku melalui akademik, apalagi
jika dilakukan dengan jujur. Dari sini aku bisa membuktikan kepada orang tuaku
bahwa aku telah kuliah dengan sungguh-sungguh.
***
Move to sekuel = "Kesempurnaan yang Melebihi Dugaan"
Tidak Sesuai Harapan
at February 24, 2018
Pada tahun 2015,
aku menempuh ujian semester tiga dan kali ini nilai IP-ku turun yaitu menjadi
3,00, mungkin karena kurang giat belajar, padahal aku sudah tahu semester ini pasti
lebih berat lagi. Seperti itulah kenyataan yang harus kuterima, jadi aku harus
semangat untuk memperbaiki IP-ku yang turun. Seperti biasa setelah ujian, aku
menikmati liburan di kota tinggalku di Karawang. Walaupun liburnya hanya
sebulan, tidak seperti libur saat pergantian semester genap ke ganjil yang
mencapai tiga bulan, aku sangat menikmatinya. Terlebih teman-temanku disana
sudah menunggu kepulanganku.
***
Liburan tidak
terasa telah usai, saatnya aku kembali kedalam rutinitasku yaitu kuliah dan
siap menghadapi mata kuliah yang lebih sulit lagi serta banyak praktiknya yaitu
semester empat. Pada semester ini, aku sering mengalami masalah yang menurutku
lumayan membuatku stress dan naik darah. Masalah kuliah, teman dan lain-lain. Aku
belum cukup dewasa menghadapi permasalahan sehingga sering melampiaskan
kemarahanku terhadap orang lain. Hidupku jauh dari keluarga, aku bingung harus
bercerita dengan siapa di rumah saudaraku yang terletak di Jakarta Barat. Perasaan
canggung, tidak enak, serba salah, takut ini itu selalu menyelimutiku setiap
saat. Aku ingin sekali cepat lulus kuliah agar bisa kembali ke rumahku yang
sesungguhnya dan mencari pekerjaan disana.
***
Aku bekerja sama
dalam suatu kelompok, ternyata menyatukan banyak pemikiran menjadi satu
persepsi itu bukan suatu perkara yang mudah. Aku mengalami tekanan batin yang luar
biasa karena dalam satu tim, ada teman yang kerjanya tidak maksimal atau kurang
memuaskan, jadi terpaksa harus kuperhatikan lagi tugasnya karena semua anggota
wajib mengoreksi ulang demi nilai yang memuaskan.
Sekian lama
menjalani semester ini, ujian pun siap untuk ditempuh. Aku belajar giat,
berusaha untuk memperbaiki IP-ku yang sempat turun, tetapi ternyata harapanku
tidak sesuai dengan kenyataan. Ada dua mata kuliah yang nilainya C dan itu
membuatku sangat terpukul karena menjatuhkan IP-ku dari 3,00 menjadi 2,96.
Hatiku hancur saat itu, aku merasa sudah belajar tapi hasilnya tidak sesuai,
dan tentunya butuh waktu lama untuk berlapang dada. Namun, IP dibawah 3,00
tidak menurunkan semangat belajarku, aku berpikir Allah tidak akan memberikan
ujian diluar batas kemampuan umatnya. Itu artinya aku bisa melewati ini semua. Dibalik
IP-ku yang turun, pasti ada rencana Allah yang lebih indah.
***
Lanjutan = "Menerima, Introspeksi, Memperbaiki"
Lanjutan = "Menerima, Introspeksi, Memperbaiki"
Sangat Tergores
at February 24, 2018
Padahal, aku selalu
berusaha mengerjakan tugas dengan baik, tetapi mereka tetap berlaku sinis kepadaku.
Bahkan, salah satu dari mereka ada yang bilang aku lambat memotong sayuran. Saat
itu tanganku sedang terluka karena teriris pisau sebelum berangkat ke lokasi,
jadi aku sangat berhati-hati. Mereka semua bisa memasak nasi tidak menggunakan magic
jar, sedangkan aku belum bisa. Saat itu aku ingin membantu memasak, tetapi
mereka selalu menyuruhku untuk mengerjakan pekerjaan yang lain saja. Akhirnya
aku memutuskan untuk menyuci piring.
Malam telah tiba,
tubuhku terasa sakit, meriang, dan sudah tidak bisa maksimal lagi untuk
bekerja. Jadi, aku izin kepada salah satu teman satu divisi untuk beristirahat
di ruang sebelah dapur. Senior yang duduk disampingku menanyakan keadaanku “Kamu
sakit? Kenapa kerjanya tidak bergantian saja supaya bisa kebagian istirahat?
Istirahat di kamar saja dik” Aku hanya diam, tubuhku sudah lemas sekali.
Akhirnya aku masuk kedalam kamar dan tidur. Keesokan harinya, Kia datang ke kamar
dan menyuruhku untuk membantu teman-teman di dapur dengan nada sinis. Dia mengungkapkan
rasa kecewa dengan nada sinis karena aku tidak membantu teman yang lain di
dapur, kemudian akan membicarakan soal ini untuk evaluasi nanti. Aku tahu
seharusnya dari awal aku izin ke Kia mengenai kondisiku, tetapi pada saat itu
Kia sedang tidak ada didapur, jadi aku hanya memberi tahu teman yang lain,
tubuhku juga sudah sakit sekali.
Selesai sudah
kegiatan itu, sepulang dari sana aku menangis, hatiku tergores karena perbuatan
Kia, kenapa dia seperti itu? Tidak membicarakan ini secara baik-baik. Dua hari
berikutnya, para pengurus HIMA Gizi serta panitia lainnya dipertemukan untuk evaluasi
di kampus. Tidak semua datang, tapi aku bertekad untuk datang. Semua kekurangan
dan kesalahan pada saat acara yang telah berlangsung akan dibicarakan, agar
kedepannya bisa lebih baik lagi. Lalu, aku terkejut Kia membuka suara soal itu,
dia berkata sambil melirik kearahku, “Ada salah satu anggotaku yang kerjanya
cuma tidur saja tidak membantu yang lain”. Tanpa rasa takut aku tunjuk tangan
untuk mengklarifikasi itu semua. Teman-teman yang lain langsung menegurnya
“Kia, kamu tidak seharusnya membicarakan kesalahan anggotamu didepan kita semua,
kalau dia punya salah, sebaiknya didiskusikan dengan teman-teman satu divisi”.
Mereka membelaku karena walaupun aku tidak masuk kedalam organisasi kepengurusan,
tapi aku masih mau berpartisipasi untuk membantu acara HIMA Gizi. Kia hanya
tertawa kecil, lalu meminta maaf. Aku tidak menyangka dia akan menjatuhkanku
didepan banyak orang.
***
Jika pembaca berkenan untuk membaca cerita selanjutnya, boleh banget, silahkan :) "Tidak Sesuai Harapan"
Sebelum Berperang
at February 24, 2018
Terlahir menjadi
anak sulung dituntut harus mandiri, kuat dan bisa memberikan contoh yang baik
untuk adik-adiknya. Aku adalah anak
pertama dari tiga bersaudara yang berasal dari keluarga berkecukupan. Usiaku 22
tahun. Kisahku bermula dari awal aku masuk kuliah, mengalami masa sulit
ditengah perkuliahan, masalah pertemanan hingga masa yang paling menakutkan
diakhir kuliah. Aku yakin, bagi yang sudah pernah duduk dibangku kuliah pasti pernah
merasakan hal yang sama seperti diriku, dan untuk yang akan kuliah atau belum
pernah kuliah, kisah ini dapat dijadikan pelajaran serta motivasi bagi pembaca.
Pada tahun 2013,
aku mulai memasuki bangku kuliah program S1 di Perguruan Tinggi Swasta Islam,
Jakarta Selatan. Jurusan yang kuambil adalah Ilmu Gizi, karena aku memang sangat
minat dibidang tersebut dari SMA. Sebelumnya, aku sempat daftar disalah satu Perguruan
Tinggi Negeri di Bogor dan Purwokerto melalui jalur seleksi online, tetapi
gagal dan hal itu tidak membuatku berkecil hati, karena kesempatan untuk
menuntut ilmu ada dimana saja.
Tahun 2013 berlalu,
bulan Januari tahun 2014 aku melaksanakan ujian akhir semester satu, dan
Alhamdulillah nilaiku bagus-bagus, apalagi untuk mata kuliah Ilmu Gizi Dasar. Aku
mendapatkan nilai terbaik satu angkatan. Itu adalah suatu hal yang mengejutkan,
dan dosen mata kuliah tersebut menghadiahiku sebuah buku Gizi Daur dalam
Kehidupan karya Sunita Almatsier, aku sangat senang sekali. Indeks Prestasi
(IP) yang kudapat pada saat semester satu dan dua cukup memuaskan yaitu 3,41.
Aku bertekad untuk meningkatkannya lagi pada semester berikutnya.
Saat memasuki
semester tiga, aku berpartisipasi dalam acara Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar
sebagai panitia konsumsi. Acara tersebut, diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Gizi
(HIMA Gizi). Kegiatan itu dilaksanakan selama tiga hari dua malam pada bulan
November akhir, tahun 2014 di Mega Mendung, Bogor. Di sini, aku mendapatkan
pengalaman buruk yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Aku bekerja sama dengan
lima orang panitia konsumsi, dan ketuanya adalah Kia. Dia teman dekatku di kampus
saat itu. Jujur, aku merasa seperti tidak dianggap dalam kelompok tersebut,
entah karena tidak unggul atau mengapa. Aku pernah memberikan saran kepada Kia
mengenai makanan selingan yang akan diberikan kepada peserta, tetapi dia menjawabnya
dengan membentak.
Kisah ini adalah nyata, yang penulis alami sendiri. Berikut ada sekuelnya yang berjudul "Sangat Tergores"
Kisah ini adalah nyata, yang penulis alami sendiri. Berikut ada sekuelnya yang berjudul "Sangat Tergores"
Wednesday, 21 February 2018
Kenangan Tegal Kota Bahari
at February 21, 2018
Pagi itu, hari Sabtu tepatnya tanggal 03 Februari 2018, sebuah pesan singkat memberitahuku saat baru saja bangun tidur.
Ternyata pesan itu bukan sembarang pesan
biasa, melainkan pemberitahuan yang kuanggap tantangan pertama untuk menggapai
cita-cita.
Panggilan tes kerja di salah satu Rumah
Sakit di Kabupaten Tegal. Aku sangat senang .. walaupun aku tahu, nanti masih
harus bersaing dengan teman seperjuangan tes.
Segera kuberitahu orang tuaku, awalnya papa
ragu-ragu mengijinkanku untuk mengikuti tes itu, tapi mama sangat
antusias ingin aku bekerja disana. Sedangkan, aku sendiri biasa saja. Senang pasti, karena sudah sekian lama aku lamar kerja belum ada satupun panggilan, ini adalah panggilan pertama. Tapi tetap tergantung ijin orang tua, jika keduanya setuju maka tanpa berpikir panjang, aku akan berangkat.
Akhirnya setelah berdiskusi, orang tuaku
setuju dan malam itu juga kami (aku dan orang tuaku) berangkat ke Brebes untuk menginap selama semalam
dirumah budeku.
Selesai menginap, orang tuaku pamit pulang
dan menitipkanku kepada kakak sepupu (perempuan) yang rumahnya tidak jauh dari
rumah bude. Disana aku disambut hangat oleh keluarga kakakku. Bahkan, dalam sehari
saja aku sudah akrab dengan anak perempuannya yang masih balita.
Hari Senin, aku mempersiapkan dengan matang
apa saja soal yang kemungkinan keluar pada saat tes. Membaca dan merangkum materi
gizi, kemudian kubaca berulang-ulang.
Keesokan harinya, sebelum kakakku berangkat
ke kantor, aku diantar olehnya ke Rumah Sakit naik mobil. Dia mengantar aku
sampai bertemu dengan panitia pelaksanaan tes. Setelah itu, aku masuk ke
ruangan yang terdiri dari beberapa calon pegawai (Ahli Gizi).
Untuk jurusan Gizi, yang ikut tes hanya 11
orang, namun aku tidak tahu berapa banyak AG yang dibutuhkan di RS ini. Tapi yang
sangat membludak adalah peserta perawat, yaitu sekitar 100 orang. Wah, RS ini
sepertinya butuh banyak sekali perawat. Dua lowongan terakhir yaitu Customer
Service dan Pendaftaran yang aku tidak ingat berapa banyak jumlah pesertanya.
***
Sebelum tes, aku berkenalan dengan teman calon
AG disekitarku. Mereka baik-baik sekali, ramah dan kami cepat akrab. Setelah tes
tulis selesai, aku dipanggil untuk wawancara dan tes komputer, begitu keluar dan kembali ke
ruangan, teman-teman menanyakan apa yang Ahli Gizi dan HRD tanyakan kepadaku serta tes komputernya bagaimana. Tes komputernya yaitu, peserta disuruh membuat menu sehari untuk pasien Diabetes Melitus dalam suatu aplikasi. Kebutuhan kalori dan zat gizi lainnya mutlak ditentukan oleh Ahli Gizi dalam bentuk persentase dan harus selesai dalam waktu 10 menit sudah termasuk menghitung dari persentase menuju satuan gram. Alhamdulillah aku sudah terbiasa menggunakan aplikasi itu di kampus ketika mengerjakan tugas. Aplikasi tersebut digunakan sebagai cara cepat/alternatif untuk menghitung asupan zat gizi. Tetapi, ketika mengerjakan tugas harian kampus, aku harus menggunakan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) untuk menghitung seluruh jumlah asupan zat gizi. Jadi, untuk latihan/tugas memang harus manual.
***
Aku berteman bukan hanya dengan 1
atau 2 orang saja, tetapi kami ngobrol dengan teman satu ruangan sambil
menunggu giliran untuk dipanggil, sehingga jadi kenal. Semuanya saling berbagi
dan mendengarkan tentang pengalaman kerja mereka di RS sebelumnya.
Semua tes sudah dilakukan, HRD bilang bahwa
hasil semua tes nanti akan diumumkan lagi lewat sms/telepon dan facebook. Jarum
jam menunjukkan angka 14.30, aku segera memesan ojek online dan begitu dapat, aku pamit dengan temanku duluan.
***
Aku memutuskan untuk pulang ke Karawang
hari Rabu naik kereta. Baru pertama kali aku naik kereta jarak jauh sendirian.
Tiket segera kupesan online pada hari selasa malam, tetapi kereta ekonomi Tegal
Ekspres ternyata tidak berhenti di stasiun Karawang. Jadi, kupilih tujuan akhir stasiun Cikampek yang dekat dengan Karawang. Harga tiket relatif murah yaitu 49 ribu
ditambah administrasi lainnya jadi totalnya 56 ribu.
Saat mau berangkat ke stasiun, aku diantar
oleh kakak sepupu ipar pakai mobil, dan mengucapkan terimakasih kepadanya. Sebelumnya,
aku juga sudah bilang makasih kekakak sepupuku karena sudah mau direpotin dan
memberikanku oleh-oleh telur asin segala.
***
Jam sudah menunjukkan angka 14.04, waktunya
aku naik kereta. Yeaay!! Berasa sedang berpetualang saja, sendirian naik
kereta. Tempat dudukku di kursi 1 A gerbong 7. Ternyata cuma aku sendiri yang
duduk disana. Kursi keretanya sama persis dengan KA lokal Purwakarta/Cikampek-Tanjung
Priuk yang biasa kunaiki ketika hendak pergi ke Jakarta. Hanya saja AC-nya lebih
dingin dan aromanya harum sekali.
Waktu tidak terasa begitu cepat, 3 jam 22
menit perjalanan sudah kutempuh sehingga aku sampai di stasiun Cikampek dengan
selamat. Papaku sudah menunggu di parkiran, kami pulang dan mampir makan sop
iga + ikan nila di rest area setelah tol Cikampek.
Pengalaman ini sungguh berharga, tentunya akan
menjadi kenangan yang indah dan luar biasa…
Untuk hasilnya nanti.. kupasrahkan semua kepada Allah Swt... jika memang rezekiku Alhamdulillah,, jika belum/bukan juga tidak apa-apa...
Manusia wajib berikhtiar, berdo'a dan tawakal. Selebihnya Allah yang mengatur ..
Untuk hasilnya nanti.. kupasrahkan semua kepada Allah Swt... jika memang rezekiku Alhamdulillah,, jika belum/bukan juga tidak apa-apa...
Manusia wajib berikhtiar, berdo'a dan tawakal. Selebihnya Allah yang mengatur ..
Subscribe to:
Posts (Atom)

