Wednesday, 17 April 2019

Suara Hati

Hanya sebuah uraian yang sempat terngiang dibenak.

Terngiang. Bukan berarti melekat hingga tidak bisa berpindah.
Jalanku adalah maju ke depan. Bukan mundur melihat ke belakang. Dimana pada saat itu, aku adalah wanita yang tentunya belum seperti sekarang.
Allah sudah benar-benar membersihkan semuanya. Segala rasa kecewa, sakit hati dan hal apapun yang dulu sempat nano-nano kurasakan.


Terima kasih … Kepada pribadi-pribadi yang sudah membuatku kecewa kala itu. 
Untukmu yang lebih memilih dia dikala hubungan dekat itu sudah menginjak 3,5 tahun.
Hikmah : Aku mengerti bahwa belum tentu pribadi yang mudah berkata manis/memberikan komitmen untuk tetap tinggal itu akan beneran tinggal.
Kejenuhan bisa menjadi faktor alasan untuk mencari yang lebih baik lagi. Aku sadar pada saat itu kau kurang mengerti kesibukanku dikala aku berada dalam ambang batas terbawah (sedang masa-masa sulit) praktik kerja lapangan dan penyusunan proposal skripsi. Sehingga perhatianku sebagian besar tercurahkan kedalam proses menuntut ilmu itu.
***
Dan… untukmu yang lebih memilih menghilang tanpa kabar disaat menjalani hubungan dekat sudah 8 bulan. Kau yang memulai semua, dari perhatian dan kepedulian. Sampai akhirnya aku tergiur dengan pribadi yang santun dan pendiam sepertimu. Selama itu pula berjalan baik-baik saja. Terima kasih. Terakhir kali ingat… aku masih saja mengucapkan selamat ulang tahun pada waktu dini hari. Jam 00.30 WIB. Kau merespon jam 14.00.
Setelah itu aku bertanya, kau tidak membalas lagi seterusnya.

Dua bulan kemudian, aku menanyakan kabar via media sosial, 3 hari kemudian dibalas. Tapi kau tidak membahas alasan mengapa tiba-tiba pergi. Kemudian, aku memutuskan untuk “read” saja. Tidak membalasnya lagi. Aku yang mengakhiri pembicaraan.
Ya Rabb..  Mengapa aku bodoh sekali. Sudah jelas-jelas diperlakukan seperti itu, aku masih baik saja menanyakan kabarnya.

Hikmahnya, aku jadi mengerti akan arti sabar dan tegar. Dimana, aku tidak mengerti sama sekali mengenai alasannya yang pergi tanpa sebab.
Aku benar-benar bisa menerima ketika teman-temanku, mamahku memberikan saran yang begitu menguatkan. “Sudah adel, lepaskan. Kamu wanita baik-baik dan berhak mendapatkan yang jauh lebih baik dan bisa menghargai”

Baik saat itu, aku memohon ampun kepada Allah, karena aku sudah terlalu berharap melebihi harapanku pada-Nya meminta diberikan sosok yang terbaik untukku.
Sungguh. Aku bertekad akan terus memperbaiki diri hingga tiba saatnya nanti dipertemukan dengan pribadi yang tulus membahagiakanku untuk selamanya. Diridhoi oleh-Nya. Dunia Akhirat.
Maka, aku yakin sekali, setiap kepergian atau kehilangan. Pasti tergantikan dengan yang lebih baik.
Karena sejatinya, laki-laki yang baik tidak akan sudi mempermainkan perasaan wanita.
Dia akan memperjuangkan masa depannya, dan perempuan pujannya pun akan selalu terlibat dalam rencananya.

Kemudian, setengah tahun telah berlalu………………

Sampai saat ini, Alhamdulillah aku sudah ikhlas dan benar-benar move on dengan perasaan itu. Karena yang terpenting adalah masa depanku dengannya. Dengan dia yang sedang berusaha memperjuangkanku. 

Menurutku perasaan harus balance. Dia terhadapku dan aku terhadapnya. Tidak bisa hanya salah satu saja.

Itulah sebabnya, mengapa aku sekarang hati-hati dekat dengan seseorang. Satu-satunya yang bisa membuktikan bahwa pribadi itu benar baik adalah keseriusan yang nyata. Yang tentunya bisa terlihat secara bertahap. Membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengenal pribadi tersebut. Daya terima dia terhadap diriku, serta rencana-rencana yang akan disusun untuk kedepannya.

Dan bagi pribadi yang sempat menginginkanku. Aku mohon maaf karena tidak bisa membalas  keinginanmu itu.
Hati tidak bisa dipaksakan.
Kebaikanku terhadapmu adalah wajar dan tidak ada perhatian khusus.
Maaf, jika dulu kau salah mengartikan responku.
Waktu itu aku belum paham betul… Bahwa respon positif berkelanjutan akan memengaruhi hatimu.
Sehingga kuperbaiki responku menjadi benar-benar biasa saja.

Aku memang seperti itu. Jika aku memang tidak menaruh hati. Responku sangatlah biasa. Agar pribadi tersebut berpeluang untuk mencari hati yang lebih ikhlas menerima.
Untuk menghindari sebuah harapan palsu. Yang tentu saja sangat menyakitkan.
Terlebih, keinginan yang kuat untuk tidak sembarangan dekat dengan seseorang.
Maka, aku harus tau betul tujuan dan maksudnya. Apakah hanya untuk sekedar berpacarankah? Tanpa ada niat baik?
Diumur segini, sudah tidak pantas lagi untuk bermain-main. Tidak mau membuang-buang waktu untuk suatu “ketidakjelasan”. Hanya jalan saja, tapi entah ujungnya bagaimana. Tanpa rencana.

Lebih baik, fokus merintis karir dan mengembangkan ilmu.
Aku berdoa semoga pribadi yang berniat baik tersebut dimudahkan untuk menjemputku kelak disaat waktunya tiba. Direstui oleh kedua belah pihak keluarga dan diridhoi oleh-Nya. 
Aamiin

Sunday, 14 April 2019

Rumah Kedua


Menyenangkan memang. Disaat kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Dalam hal apapun. Pekerjaan, pergaulan, dan lingkungan.
Singkat cerita. Dimana dulu sebelumnya aku pernah bekerja di suatu perusahaan finance yang terbilang cukup tinggi tekanannya. Bekerja untuk perusahaan dan pelayanan terhadap customer.

Namun panjang cerita, ketika aku memutuskan untuk bekerja di sebuah Rumah Sakit dengan maksud ingin merintis karir dari bawah berdasarkan ilmu yang kupunya. Bekerja untuk  kemajuan RS, mengembangkan ilmu dan melayani pasien.
Sungguh, aku pindah kerja bukan karena ga kuat mental atau bagaimana. Melainkan tekad yang sangat kuat untuk mengembangkan ilmu yang sudah kupelajari selama kuliah. Tanggung jawab terhadap profesi.


Sah-sah saja, apabila bekerja tidak sesuai dengan passion atau keahlian. Rezeki/kesempatan kerja, Allah yang mengatur. Betul.
Tidak semua orang memiliki peluang/kesempatan yang sama untuk bekerja sesuai dengan passionnya. Tidak menjadi masalah.

Disini, di tempat kerjaku yang sekarang. Aku banyak belajar hal, yang tentunya jauh berbeda dengan tempatku sebelumnya.
 Pelajaran hidup, hubungan dengan rekan kerja, semua ilmu yang kupunya dan sebagainya.
***
Aku mulai bekerja pada tanggal 6 Maret 2019. Beradaptasi dengan rekan kerja Alhamdulillah mudah tidak sulit. Mereka sangat baik-baik sekali. Sehingga aku cepat akrab dengan mereka semua. Disini adalah rumah keduaku. Dimana aku banyak menghabiskan waktu yang tentunya insyaallah bermanfaat.

Terlebih aku kaget, baru masuk sudah harus bisa memimpin pegawai instalasi gizi (pramusaji dan tenaga pemasak)
Jadi, aku wajib mengelola instalasi gizi dari bawah sekali. Dari yang tadinya belum ada produksi masak menjadi harus ada produksi. Karena mau ada akreditasi (penilaian Rumah Sakit).

Jauh sebelum akreditasi, produksi memasak dilakukan di Klinik (dengan nama yang sama seperti RS tempatku bekerja). Lalu didistribusikan ke RS sesuai jam makan pasien.
Aku mengerti, memang standar instalasi gizi di RS itu harus ada produksi memasak, dan diantarkan langsung ke kamar pasien. Bukan dengan cara produksi diluar kemudian dikirim ke RS.

Alhamdulillah, tidak lama setelahku masuk kerja dan berbicara dengan owner RS untuk produksi di dapur gizi. Dua minggu setelahnya, beliau menghadirkan seorang tenaga pemasak untuk memasak di RS. Pramusaji sudah ada satu yang memorsikan dan mengantarkan makanan. Kemudian beberapa minggu lagi HRD memperkenalkanku dengan tenaga pemasak baru. Jadi total yang masak ada 2 orang.
Aku merasa terbantu sekali dengan kehadiran mereka.

Tentunya aku punya tanggung jawab besar terhadap Instalasi Gizi dan pasien. Aku harus bisa mengontrol pegawai dapur, dan tidak lupa dengan keluhan pasien mengenai makanan. Disesuaikan juga dengan diagnosis penyakitnya.

Disini aku belajar sendirian. Tidak ada yang membimbing. Karena belum pernah ada Ahli Gizi sebelumnya. Jadi aku ahli gizi pertama yang bekerja di RS tersebut.
Maka aku harus rajin bertanya kepada teman (Ahli gizi) di RS lain, dan mencari informasi mengenai apa-apa saja yang terbaru, entah formulir, berkas lain yang wajib dimiliki oleh Ahli Gizi.
Caranya? Harus membaca banyak literatur serta ikut seminar.

Meskipun sejujurnya aku masih kurang membaca literatur karena kemarin masih sangat sibuk akreditasi hingga mengharuskanku untuk bermalam di RS demi kerja sama dengan tim PPI  (Pencegahan Pengendalian Infeksi) dimana didalamnya terdapat elemen tentang gizi. Jadi mau tidak mau aku harus ikut serta dalam penyusunan Kebijakan, Pedoman dan SPO (Standar Prosedur Operasional) yang berhubungan dengan gizi. Semua tentang gizi, aku yang membuatnya sendiri dengan sumber yang jadi patokanku yaitu PGRS (Pelayanan Gizi Rumah Sakit) tahun 2013 dari Kemenkes.
***
Setiap pagi, aku selalu membuka rekam medis pasien untuk melihat diagnosis pasien dan segala hal tentang hasil laboratorium, kemudian mencatat semua di lembar CPPT (Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi) >> include in rekam medis. Yang menulis dilembar tersebut yaitu dokter umum, dokter spesialis dan ahli gizi.

Dilembar tersebut aku menulis assesmen gizi dengan standar format ADIME (Assesment, Diagnosis Gizi, Intervensi serta Monitoring dan Evaluasi). Sudah terstandar untuk seluruh Ahli Gizi di Indonesia.

Setelah itu, aku berkunjung ke kamar pasien untuk mengukur LILA (Lingkar Lengan Atas) untuk menentukan status gizi menggunakan persentil LILA dan TL (Tinggi Lutut) untuk dikonversikan ke Tinggi Badan agar bisa mengetahui BBI (Berat Badan Ideal) kemudian baru bisa menghitung kebutuhan gizi, sekian kalori.

Banyak menghitung? Sudah pasti. Padahal dulu waktu sekolah aku sangat tidak suka menghitung, lebih suka membaca. Tapi ternyata kuliah dan kerjanya banyak menghitung :D
Setelah itu, aku kontrol dapur. Untuk memastikan bahan makanan aman konsumsi, serta mendengarkan keluh kesah dari rekan-rekanku kemudian mencarikannya solusi.
***
Berat rasanya bukan?
Belum berpengalaman tapi baru masuk sudah punya bawahan, dan itu membuatku tercengang.
Pindah kerja bukan mencari enak-enak supaya gak dimarahin bos. Melainkan tanggung jawab lebih besar dibandingkan dulu aku menjadi bawahan yang kerja, tinggal kerja saja ga mikir harus bagaimana”. Meskipun kerjaanku dulu juga sama tanggung jawabnya besar, menjaga “harta orang lain” yang diperlukan kejujuran dan bekal “tidak mudah dibodohi
Karena kalau kita gampang percaya, maka akan fatal. Kerja dimana pun.
***
Alhamdulillah, tiba juga saatnya dimana akreditasi sudah dilalui. Semoga hasilnya baik. Mudah-mudahan kedepannya RS tempatku bekerja bisa semakin maju. Aamiin.
Kita bersama-sama merintis dari bawah dengan terus upgrade ilmu dan banyak belajar. Bismillah.

Saturday, 9 March 2019

Jadi Mentor


*Morning briefing
“Ari sini, ikut briefing”. Kata salah seorang seniorku.
Kami membuka briefing dengan berdoa terlebih dahulu. Kemudian kami, karyawan dept. service berkenalan dengan Ari. Pengganti posisiku di perusahaan finance itu.
“Nanti Ari haruus banyak tanya sama Adel ya. Manfaatkan waktu kamu, sepuasnya. Adel tolong keluarin dan tuangkan semua ilmu kamu selama kerja disini".
Siap bu!! Sambil mengangguk dan tersenyum penuh semangat.
***
Aku mulai menjelaskan kepada Ari mengenai jobdesk yang bisa terbilang lumayan banyak dan bercabang, serta banyak tahapnya.
Dia mendengarkan dengan saksama. Meskipun masih terlihat bingung.. Wajar saja. Namanya juga masih baru.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk akrab dengan Ari. Ternyata dia adalah adik kelasku waktu SMA dan satu ekstrakurikuler. Paskibra.
Dunia sempit sekali.

***
Ari anak yang baik, mudah diarahkan serta tidak neko-neko. Sehingga aku bisa enjoy menuangkan ilmuku kepadanya. Meskipun belum semua tertuang, karena waktu yang kurang.
Kesempatan untuk mengajarkan ilmu itu hanya berlangsung selama 4 hari. Dari tanggal 1-5 Maret.
Sungguh tidak ada rasa kesal sedikit pun dalam mengajarkan junior yang baru saja terjun di dunia pekerjaan.
Dia terus bertanya? Tidak masalah. Namanya juga proses tahap pembelajaran. Lagipula aku sadar, waktu 4 hari saja belum cukup baginya untuk memahami seluruh pekerjaan itu.
Diriku beradaptasi dengan jobdesk memakan waktu sekitar 3 bulan. Dan Alhamdulillah aku diberikan kesempatan untuk berbagi ilmu walaupun hanya sebentar.

***
Dihari pertama aku sudah mengajarkan Ari stock opname bpkb yang jumlahnya mencapai 8643 BPKB.
Menguras tenaga. Bahkan kami berdua pulang malam.  Pertama aku memberikan contoh stock opname kepadanya. Kemudian dia melanjutkannya. Kami bergantian mengerjakan jika waktu shalat tiba.
Esok harinya kami melanjutkan laporan stock opname yang harus dikirim via email ke perusahaan finance pusat.
Alhamdulillah, sejauh ini kerjaan gak ada masalah. Ari sedikit-sedikit mulai paham.
Selanjutnya aku mengajarkan Ari untuk membuat laporan BPKB perbulan. Perlahan-lahan. Selesai sudah.

***
Hari berikutnya aku mengajak Ari untuk mengambil beberapa BPKB yang ada di salah satu dealer sekaligus memperkenalkan dia dengan rekan kerjaku disana Pak Fatur.
“Pak, ini Ari pengganti saya, untuk seterusnya pengambilan BPKB sama Ari ya Pak”
“Ohh, iyaa bu. Sukses yaa Bu Adel di tempat baru”
“Mohon bantuannya ya pak Fatur” Ari melanjutkan.
Kami pun keluar dari ruang admin dealer tersebut. Kemudian langsung melanjutkan perjalanan ke Biro Jasa untuk memberikan berkas STNK.
“Bu saya mau kasih berkas, ooh iya ini pengganti saya Bu. Ari.”
“oohh, ibu mau kemana emangnya?”
“Saya resign bu, tanggal 5 Maret terakhir kerja”
Aku juga pamit kepada Pak Fandi, yaitu orang yang biasa berhubungan denganku mengenai proses dan permasalahan STNK.
Setelah itu aku balik lagi ke kantor, kemudian mengajarkan Ari cara input BPKB yang baru diaambil dari dealer.

***
Hari demi hari kujalani dengan perasaan syukur Alhamdulillah. Masih bisa bermanfaat untuk orang lain.
Aku juga sudah berpamitan dengan semua rekan di berbagai dealer. Relasi kerjaku. Mereka amat baik sekali. Sampai aku agak sedih harus meninggalkan orang-orang yang sudah biasa bertemu denganku.
Pak Fatur (Toyota), Bu Marya (Isuzu), Mbak Anti (Honda Kumala), Pak Adi (Astrido), Mbak Puput (Daihatsu).
Terima kasih semuanyaaa.

***
Akhirnya tiba hari dimana aku segera berpisah dengan Ari.
“Makasih ka adel udah mau bantuin Ari. Sukses jadi Ahli Gizi di Rumah Sakit ya, jangan jadi pasien” dia terkekeh.
“Kalau kamu ada apa-apa atau masih kesulitan, bilang ya, Insyaallah aku bales, kalau lagi kosong”
***
Aku type orang yang sangat senang bila bisa bermanfaat untuk orang lain.  Senang bisa membantu. Jika dia belum bisa maka terus latih, sabar memberi tahu yang benar itu seperti ini dll.
Dan aku bukan seorang pemarah. Jika memang orang lain emosi kepadaku, aku membalasnya dengan santai tidak pake emosi.
Api jangan dilawan dengan api. Dan satu lagi aku sangat tidak suka marah-marah. Karena hanya akan membuang energy serta tidak bermanfaat.
Orang salah, ya beri tahu saja. Jika ngeyel, kasih konsekuensinya.
Menahan amarah baik untuk diri kira. Coba aja kalau gak percaya.
Marahnya orang yang tidak pernah marah bukan dengan kata-kata. Tapi diam. Sekian.

Picture source : www.google.com

Thursday, 7 March 2019

Selamat Tinggal

        Mungkin ini yang dinamakan memutuskan sesuatu itu tidak mudah. Berpisah dengan hal-hal yang sudah menjadi keseharianku.
Begitu juga dengan lingkungan yang tentunya aku sudah khatam sekali dengan atmosfernya.
        Maaf, aku tidak mau spam di media sosial manapun, status-status yang begitu panjang/menuliskan secara langsung di wall.
Sedari dulu, aku hanya menulis disini.
Disitus andalanku. Perjalanan literasi Adelina.
***
Pagi itu, aku mengetuk pintu ruang manager dengan senyum yang kemudian diselingi nada suara yang berat.
“Permisi Pak, bisa bicara sebentar? Mohon maaf sifatnya agak pribadi”
Beliau mempersilakanku untuk masuk, kemudian kututup pintu sehingga aku bisa leluasa berbicara dengannya.
Setelah pembicaraanku dengannya selesai. Aku kembali bekerja seperti biasa.
5 hari kemudian. Bos supervisor memanggilku untuk berbicara secara 4 mata.
Baik. Kala itu, pukul 17.30. Beliau menanyakan soal pembicaraanku dengan manager.
Kujelaskan baik-baik mengenai pembicaraan itu, yaitu tentang niat yang murni tulus dari dalam hati tanpa paksaan dari siapapun.
Dia marah. Karena aku dianggap sudah melangkahinya yaitu langsung bicara dengan manager tanpa bilang dulu sebelumnya kepadanya. Tentang niat baikku. Resign dari perusahaan leasing/pembiayaan mobil terbesar di Indonesia.


Sadar dan merasa bersalah. Akhirnya, aku meminta maaf. Karena seharusnya aku bilang dulu ke SPV baru setelah itu ke manager. Dia merasa dilangkahi, dan tersinggung.
Kedepannya, aku tidak akan bertindak seperti itu lagi di instansi yang selanjutnya. Dimana pun tempat ku bekerja.
Banyak pembicaraan antara aku dengannya, yang cukup diri sendiri saja yang tahu.
Tidak mungkin aku bicarakan disini. Karena tutuplah aib saudaramu, maka Allah akan menutupi aibmu.
Itulah mengapa aku jarang berbicara ketika tidak perlu. Bukannya sombong atau karena pilih-pilih orang untuk diajak ngobrol.
Terlebih aku sadar. Banyak sekali dosa didalam diri ini. Rasanya membicarakan kejelekan orang, mencari-cari kesalahan orang lain atau bergosip hanya akan merugikan diriku sendiri.
Masih banyak hal positif lain yang harus dikerjakan.
***
Akhirnya permohonan resign dikabulkan. Dengan catatan one month notice.
Jadi, aku harus menunggu sampai sebulan baru bisa resmi resign.
Surat resign turun tanggal 7 Februari. Artinya aku resmi resign tanggal 7 maret. Terakhir bekerja di PT tersebut  tanggal 5 Maret. Karena tanggal 6 sudah disuruh masuk kerja di tempat lain.
Aku sangat menikmati sisa hari kerja itu. Lambat laun teman-teman kantor tahu soal pengunduran diriku.
***
Tugasku hanyalah bekerja seperti biasa, membantu perusahaan cabang yaitu memberikan sumbangsi/mencapai target. Salah satunya target BPKB. Posisi kerjaku.
Alhamdulillah. Seiring berjalannya waktu. Sudah berusaha, akhirnya hasil pun kutuai juga.
Bulan februari, dimasa sisa hari kerjaku, aku berhasil mencapai target. 100 sekian persen.
Yang tentunya akan menjadi kenangan terbaik untuk perusahaan.
Sebelumnya, aku tidak pernah masuk target, selalu meleset.
Tapi, dengan usaha, doa dan campur tangan Allah. Akhirnya berhasil.
Thanks to Allah always.
Terima kasih semuanya. Selamat tinggal perusahaan yang telah mendidikku menjadi pribadi yang lebih kuat, dan lebih baik lagi.
Selamat tinggal teman-teman semua: Kepala Cabang, manager dan semua supervisor, teman-teman yang lain juga
Semua hal yang terjadi di perusahaan itu adalah pelajaran hidup yang gak akan pernah kulupain seumur hidup.
Kini, aku telah resmi diterima sebagai Ahli Gizi di salah satu Rumah Sakit di Kabupaten Bekasi.
Disanalah, tempatku bebas berekspresi. Mengembangkan ilmu dan karir. Semoga berkah semuanya.

Aamiin. ~~

Sumber gambar : gambaranimasi.org

Sunday, 6 January 2019

Siapa Teman Terbaikmu?


Bukan hanya mengenai seberapa sering bertemu.


Bukan soal seberapa sering saling bicara.

Bukan tentang seberapa banyak waktu yang dihabiskan bersama-sama setiap hari.

Melainkan, tentang bagaimana dia merasa sedih ketika kamu sedang sedih.

Bagaimana dia merasa bahagia ketika kamu bahagia.

Menerima segala kekuranganmu.

Menasihati ketika kamu salah serta tidak malu untuk meminta maaf.

Tidak membicarakan kejelekanmu di belakang.

Ada saatnya dia terluka ketika mendengar kabar, ada yang menyakitimu baik secara lisan maupun perilaku.

Meskipun dia belum bisa membantu secara langsung, namun dia bersedia mendengarkanmu, memberikan solusi, mengurangi beban dihatimu.

Iya, itu teman terbaikmu.

Tidak banyak. Namun berkualitas.

Mempunyai teman terbaik bukan berarti tidak pernah berselisih. Pasti ada.

Sebisa mungkin,  jangan pernah buka aib sahabatmu atau kejelekan dia dimanapun. Cukup selesaikan secara baik-baik. Antara kamu dan dia.

Sahabatmu adalah saudaramu.



Karena kehilangan sahabat itu berat. Lebih berat daripada kehilangan seseorang yang kamu anggap spesial saat itu (lawan jenis).

Maka, jagalah dia. Jaga sahabatmu. Jaga hubungan baikmu dengan dia.

Luruskan seluruh kesalahpahaman. 

Hilangkan pikiran negatif.

Jangan biarkan amarah, kebencian dan dendam merasuki nurani sehingga sulit untuk mencerna fakta yang sebenarnya terjadi.

Jangan biarkan pikiranmu dipengaruhi oleh asumsi yang belum tentu benar.

Jika masih belum bisa demikian,

Kamu ingat bagaimana dia selalu menemanimu dulu.

Mendengarkan keluh kesahmu

Saat orang-orang menjatuhkanmu, dia membantumu untuk bangkit

Tidak pernah menjauhimu

Apalagi meninggalkanmu

Berusaha meluangkan waktunya untuk bertemu denganmu walaupun sedang sibuk
Menguatkanmu ketika dia yang kau cintai pergi meninggalkanmu, mengecewakanmu

Segala kebaikan yang sudah dilakukannya secara tulus, yang tidak pernah dia ungkit

Disana kamu akan paham

Ketika kamu marah padanya, dia tidak membalas memarahimu. Bahkan dia mungkin menangis karena sedih kamu bisa semarah itu, mengeluarkan kata-kata yang tidak biasa demikian.

“Peluklah sahabatmu, tersenyumlah kepadanya”

Sahabatmu adalah saudaramu.

Meskipun dia tidak selalu ada disisimu. Tapi dia selalu ingat. Berusaha ingin berbagi denganmu diwaktu yang lebih luang.

Jika, ingin tau siapa teman terbaikmu? Dia adalah orang yang sifat dan perilakunya sudah kusebutkan diatas.

Siapapun sahabatmu.

Sekalipun lebih dari satu. Mereka/dia tetap sahabatmu dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaannya.

Picture Source : Islamidia.com

Tuesday, 25 December 2018

Cuek itu Perlu


Percaya, sebaik apapun kita. Setiap hal baik yang pernah kita lakukan terhadap orang lain dengan tulus. Jika orang itu memang dasarnya tidak suka, pasti tetap tak akan pernah suka selamanya. Kecuali hidayah yang mungkin senantiasa bersedia  menjemput.
Apalagi kita khilaf melakukan kesalahan? Tambahlah orang yang tidak suka dengan teganya menghujam kata-kata yang tidak jarang bisa menyakitkan hati.
Jadi bagaimana? Apa yang bisa kita lakukan?
Diam. Itu jauh lebih baik.
Diam bukan karena sombong. Diam bukan karena antisosial. Diam bukan karena gak punya mulut.
***
Maaf. Jika memang mungkin menurutmu, aku orang yang  irit sekali berbicara. Terkecuali dengan orang yang sudah terbiasa berbagi cerita, dan itupun ada manfaatnya. Memberikan energy positif yang bisa membuatku menjadi orang yang lebih baik lagi.
Oke demikian prolog yang mungkin membuat pembaca bertanya-tanya, “apa sih maksudnya?” Hehe. Baik, kita akan masuk ke sesi cerita. Dimana aku akan berbagi pengalaman yang masih berkaitan dengan judul diatas.
***
Alhamdulillah hirobbil alaamiin. Udah hampir 3 bulan aku bekerja di sebuah perusahaan pembiayaan mobil yang tentunya membuatku semakin terpacu dalam mengejar target yang ummm menurutku lumayan butuh strategi yang tidak biasa.
Sedikit merubah kepribadianku. Yang aslinya tidak cerewet dituntut harus cerewet.
Loh kenapa? Karena aku bekerja tidak dengan orang perusahaan saja. Tapi juga dengan orang-orang diluar perusahaan.
Dealer dan biro jasa. Membangun relasi yang erat terhadap pihak luar memang tidak mudah. Apa lagi, aku masih anak yaah bau kencur lah. Belum berpengalaman. Tidak seperti karyawan sebelum aku bekerja yang tentunya jauh lebih lihai dalam urusan pekerjaan yang memang bagian dari jobdesknya.

Tanggung jawab  pada posisi kerjaku memang sangat besar. Bagian vital aset perusahaan. BPKB mobil. Selain itu mengurus STNK dan menagih pembayaran STNK/plat nomor  ke bagian finansial pusat.
Ingin ku ceritakan juga detail jobdesku tapi mungkin gak akan kelar-kelar jadinya. Karena bukan semata-mata input data saja tapi, banyak perintilannya. Mungkin akan ku ceritakan di artikel berikutnya. Insyaallah. Supaya tau aja, gambarannya seperti apa, siapa tau mau lamar juga di bagian BPKB.
***
Aku dipercaya untuk mengisi posisi itu, padahal aku belum ada pengalaman terkait BPKB. Jangankan itu. Sebelum aku kerja juga aku gak tau fisik BPKB kayak gimana. Dalem bukunya ada informasi apa aja.
Pengalamanku sebelumnya adalah kerja di bidang penelitian kesehatan, selanjutnya terjun ke BPKB mobil.
Kalau kata orang-orang sih, loh kok Ahli Gizi ke leasing? Loh kenapa gak kerja di Rumah Sakit aja?
Nah ini yang ku maksud. Bersikap bodo amat itu perlu sesekali. Mereka gak paham, kondisi orang seperti apa. Setiap orang pasti menginginkan kerja sesuai dengan latar pendidikan.
Tapi, kembali lagi. Materi. Gak munafik juga, kita butuh materi untuk hidup sehari-hari. Untuk menabung buat masa depan.
Jika, aku menolak bekerja di leasing ini, apa itu namanya bukan menolak rezeki? Yang sudah ada di depan mata di sia-siakan.

Ya aku gak mau menyesal pada akhirnya. Jadi, aku menerima sambil belajar juga. Walaupun sering banyak kendala/masalah dalam pekerjaan. Tekanan yang cukup wow, mungkin bagi kamu yang sudah/sedang bekerja di perusahaan swasta tau tekanan untuk posisi pendidikan S1 seperti apa, dan terakhir tidak jarang ada omongan tidak enak baik dari lingkungan sekitar atau dimanapun



Tapi ya itu tadi, harus cuek. Omongan gak enak, kalau ada sisi positifnya, ambil, renungkan, perbaiki. Tapi kalau mengandung sisi negatif, tiada makna baik didalamnya, jangan pusing. Tidak perlu diambil hati dan berlalulah. Fokus lagi dengan pekerjaan yang jelas sudah menunggu giliran untuk diselesaikan.
***
Ada beberapa orang komentar, katanya “enak gajinya ya, kalau gitu mau dong kerja disitu”. Padahal aku samasekali gak pernah sebut nominal, entah dia nyeletuk dasarnya darimana. Tapi memang dari segi finansial ya alhamdulillah banget untuk seorang gadis single yang bebas dari tanggungan ini.

Hanya enaknya saja yang ada dipikiran mereka. Lihatnya cuma gaji besar saja. Tanpa tau jobdesk yang dijalani seperti apa. Menurutku sepadan. Tanggung jawab besar, jobdesk juga banyak. Demikian bayarannya juga.
Jadi, cuek itu terkadang perlu ya. Omongan orang yang sebenarnya gak penting, atau malah sengaja ingin bikin down.
Kata-kata kasar/menyakitkan hati  yang mungkin pernah dialami di lingkungan kerja atau dimanapun.
Anggap saja angin,, wuusssshhh... Hanya numpang lewat.
***
Jangan sesekali membalas atau menyumpah. Tunjukkan bahwa sifat kita tidak seperti itu. Bicara cukup yang baik-baik aja. Kalau gak bisa mending diam. Kalau keceplosan atau khilaf, istighfar.
Bukan sok suci ya. Aku juga pernah pasti sadar/tidak keceplosan berbicara yang  gak baik saking keselnya. Tapi setelah itu ada perasaan menyesal, dan kenapa harus begitu? Malu juga, masa orang berpendidikan ngomongnya gak baik. Jadikan pelajaran.
Jangan lupa. Berterimakasih lah dengan mereka. Karena kalau kita gak diperlakukan seperti itu, belum tentu kita bisa sekuat sekarang.

Picture source:  Epidose 461 - I don't care (and neither should you) on google.

Sunday, 11 November 2018

Ketika Realita ≠ Cita-cita


Empat bulan menganggur setelah bekerja freelance. Yaitu program penelitian kesehatan dari pemerintah.  Akhirnya aku berlabuh juga di suatu perusahaan pembiayaan mobil terbesar di Indonesia.

Aku selalu mengikuti test kerja dimana pun. Tidak memandang sesuai atau tidak dengan latar pendidikanku. Saking butuhnya pekerjaan itu. Karena diriku merasa malu (jujur) belum bekerja lantaran memang belum waktunya Allah kasih pekerjaan yang terbaik untukku. Disamping itu, uang saku juga sudah mulai menipis.

Di rumah aku selalu menghabiskan waktu membantu mama membereskan rumah, membaca novel atau menulis artikel yang mungkin receh menurut pembaca, kalau seandainya pembaca suka ya alhamdulillah.

Cita-cita .... sebenarnya sedari SMA aku ingin jadi Ahli Gizi.  Biaya kuliah tidak semahal dokter, namun masih tetap bisa bersentuhan dengan pasien.
Aku senang memberikan konsultasi, diskusi mengenai orang yang sedang ingin menurunkan/menaikkan berat badan dan memperbaiki pola makannya. Meskipun badanku kurus, hehehe. Tapi maaf ini sudah perawakan dari ayahku. Jadi kau tidak bisa lagi bilang bahwa aku “kurang gizi” jika seandainya lihat sendiri porsi makanku seberapa.


Tidak mengapa saat ini aku bekerja di suatu perusahaan yang amat menuntutku untuk belajar hal baru. Meskipun sangat jauh dari bidang yang aku pelajari selama kuliah. Tapi, bukan berarti aku gak bisa. Hanya saja, butuh waktu yang tidak sebentar untuk beradaptasi dengan jobdesk dan lingkungan kerjanya.

Sedikit-sedikit aku mulai paham. Namun belum menguasai.
Sekedar sharing aja. Bekerja dengan jabatan yang jauh dari bidang bukanlah perkara yang mudah.
Seringkali aku keteran, dan lupa karena saking banyaknya pekerjaan itu. Ditambah lagi, belum lama aku kerja disana, baru sebulan. Alias belum ada apa-apanya. Sudah kucatat hal mengenai sistem dalam pekerjaan maupun suatu hal yang baru agar tidak lupa. Tapi masih tetap saja, aku sering sekali lupa. Belum selesai satu pekerjaan, sudah datang banyak pekerjaan lainnya.

Aku amat menyadari, bahwa aku sendiri belum bisa memanage pekerjaanku. Yang datangnya tidak hanya dari dalam. Tapi dari luar juga.
Sungguh berbeda dengan pekerjaanku waktu di Rumah Sakit (PKL).
Sesulit-sulitnya kendala saat itu, dengan tekanan dari kepala instalasi gizi tentunya. Aku masih bisa mengerti dan cepat paham. Dimana kesalahanku. Lantas, cepat memperbakinya hingga tuntas targetku tercapai.

Mungkin ini yang dinamakan tantangan. Dunia kerja itu amat keras. Tugas kuliah yang sulit, coretan skripsi belum ada apa-apanya. Terlebih aku bekerja tidak sesuai dengan latar pendidikanku.

Melalui hal ini, aku belajar. Bahwa semakin bertambahnya umur, semakin banyak ujian yang lebih berat dari-Nya. Sekarang, bagaimana caranya agar bisa sabar dan menjalani semuanya dengan ikhlas. Apapun masalahnya, bagaimana pun tekanannya. Ingat saja. Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya.
Namun, aku tetap bersyukur, bisa bergabung dalam perusahaan itu. Banyak ilmu dan nilai kehidupan yang bisa aku pelajari dari sana. Minimal aku juga sudah gak merepotkan orang tuaku lagi mengenai biaya. Aku akan tetap berusaha untuk belajar, lebih baik dari sebelumnya.

Walaupun ayahku masih produktif bekerja di suatu BUMN (Perusahaan Percetakan Uang). Sekarang saatnya kini aku menunjukkan kepada orang tuaku bahwa aku alhamdulillah sudah bisa mencari uang sendiri. Membuat mereka bangga.
Meskipun jasa mereka gak akan bisa penuh terbalaskan seumur hidup.

Teruntuk kedua orang tua terima kasih. Sudah mendoakanku disetiap shalat dan dzikirnya.
Tentunya aku sangat bersyukur mempunyai kedua orang tua  yang amat mengerti. Tidak menuntut aku harus kerja ini itu.
Doa mereka telah sampai dan diijabah oleh-Nya. Tanpa mereka aku tidak akan bisa jadi seperti ini. Jadi sekuat sekarang.

Sumber gambar : www.google.com

By :
Free Blog Templates