Sunday, 30 June 2019

Menjaga

Memang setiap wanita, identik lemah terhadap perasaan. Perlu kita ketahui bahwa sesungguhnya yang berarti untuk kita adalah masa depan. Dengan seseorang yang benar-benar bisa membimbing serta menjaga hartanya dengan baik.
Apa hartanya? Yaitu kita. Wanita yang telah sah menjadi pasangan hidupnya.

Ketahuilah. Semua masa lalu yang pernah ada. Itu hanyalah "biasa" tidak ada arti spesial didalamnya. Yang berarti hanyalah pelajarannya saja.
Kenangan? Oh itu hanya tipuan belaka, sebuah godaan yang hanya akan lewat secara sepintas dalam pikiran kita.
Maafkan dia lalu, sudah. Selesai diantara kalian. 
Tidakkah kau tau? Orang yang tidak bisa move on adalah orang yang tidak mau maju.
Hanya berkutat dengan masa lalu. Tidak mau berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dan tidak menghargai apa yang dia miliki sekarang.

Bayangkan, pasangan halalmu. Dengan tulusnya begitu mencintaimu. Tapi hatimu masih ada disana. Didalam tipuan belaka itu.

Itulah mengapa, setelah kau berakhir dengan masa lalumu. Maka kau harus mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik lagi darinya.
Terlebih, jika posisimu adalah posisi yang dikecewakan olehnya.
Tentunya lebih mudah untuk move on bukan?
Kalau aku sih "YES"

Singkat cerita. Dulu pernah dikecewakan namun, aku bertekad jika dia kembali dan meminta maaf. Aku sungguh akan memaafkannya. Tapi dia tidak berhak mendapatan kesempatan kedua.
Hati yang tulus sungguh sangat mahal harganya. Tentu ditujukan untuk orang yang benar sungguh-sungguh ingin menjaga.


Siapa orang yang sungguh-sungguh itu? Dialah, orang yang berniat serius menjadikanku teman hidup untuk selamanya.

Sebaik apapun masa lalu. Jika diriku pernah dikecewakan, maka gugur sudah semua rasa yang pernah ada. 
Sekalipun, dia sudah berubah menjadi lebih baik. Namun hati sudah tidak bisa dipaksakan lagi. Dulunya bersemi sekarang sudah layu dan mati.

Tumbuh lagi .. tapi bukan untuk dia yang dulu pernah singgah. Melainkan untuk dia yang akan menjagaku dengan baik seumur hidup.
Semoga hatinya juga bersih dari masa lalu seperti diriku yang selalu menjaga hati untuknya.

Untuk posisi yang pernah mengecewakan seseorang. Minta maaflah. Tapi cukup hanya itu. Tidak perlu menjalin hubungan dekat lagi.
Dimaafkan atau tidak itu terserah dia. Yang penting niatmu sudah baik.
Hargai pasangan masa depanmu. Pasangan halalmu.
***
Well, gimana tulisanku guys? Pasti agak bingung ya ngomonginnya kok cinta-cinta mulu. Padahal belum nikah.
Ok sini merapat. Tak jelasin ya.
Ini sekedar dapat pengalaman aja dari lingkungan sekitar. Orang yang sudah punya pasangan halal itu wajibnya membahagiakan pasangannya seumur hidup, betul?

Ehh tapi, ternyata banyak orang yang sudah berkeluarga masih aja berhubungan dekat dengan sang “mantan”. Jigile…. Gimana menurut kalian?
Etiskah?

Kalo aku sih jujur, cemburu berat kalau nanti suamiku masih kontek-kontek mantan. Mudah-mudahan ngga ya. Jangan dong ah. Aamiin.
Sekarang gini, ngapain ya? Sudah nikah kok masih haha hehe, ngobrol sama mantan? Chattingan misalnya.

Keliatannya sih biasa. Tapi kok menurutku gak pantes aja. Disini dia sudah beristri/bersuami, tapi masih ngobrol dengan masa lalunya.
Jangankan mantan, cuma sekedar temen lawan jenis aja kalau gak penting, mau ngapain ngobrol?
Disini ada pasanganmu lohh. Pasangan halal ini. Belum cukupkah?

Alasannya, oh silaturahmu itu harus, hubungan baik itu juga bagus.
Yaakk ampunnn… Kenapa itu selalu dijadikan pembenaran ya?
Padahal udah jelas-jelas itu pemicu kemudharatan.

Apa si istri/suami gak risih ngeliat pasangannya seperti itu?
Emang sih mungkin gak ada apa-apa. Tapi, mbok yaa jaga perasaan lah. Kalau gak penting ya gak usah. Emang kontekan sama mantan pentingnya apa ya?
Haduh mendingan gak usah deh beneran.
Kalau perlu hapus aja kontaknya sekalian. Fokus sama keluarga aja. Emang apa yang mau dicari dari dia?
***
Kalau aku sih, jangankan mantan. #btw emang gak punya mantan pacar. Ada juga mantan teman dekat haha. Dulu lumayan intens.
Tapi sumpah ya, gak ada tuh yang namanya kontekan lagi sekarang.
Dikontek sama dia aja, aku mentahin semua. Balas sekedarnya. Sampai akhirnya dia pergi sendiri #nah emang itu yang kumau.

Sorry, bukannya judes, sombong atau gimana. Tapi yang namanya udah gak sreg gara-gara kecewa juga, ya mending dijauhi sekalian. Lagipula gak baik juga kalau diterusin sama orang yang gak sreg plus ga direstui oleh ortu untuk deket lebih lanjut sama ybs.

Oke udah kayak gitu gambarannya. Intinya, nanti kalau udah nikah. Udah deh gausah hai hello sama mantan, ngobrol dsb.
Fokus bahagiakan pasangan dan anak aja. Kalau bosen ngapain kek, melakukan hal positif tanpa menyinggung perasaan pasangan.

Mudah-mudahan kita selalu bisa menjaga perasaan untuk pasangan halal dikemudian hari, dan si dia pun juga sama demikian. Aamiin

Wednesday, 15 May 2019

Doa yang Salah


Doa yang salah.
Maksudnya apa? Apakah ada doa yang tidak baik? Ada. Yaitu.. doa-doa orang yang iri maupun dengki kepada kita. Dan seiring berjalannya waktu tidak akan pernah terbukti adanya.
Berikut adalah penjabaran atas pembuktian doa yang salah tersebut.
Kepadamu yang syukur-syukur membaca narasi ini. Segera ucapkan istighfar. Karena doa yang dulu pernah kau utarakan padaku. Berujung pada pembuktian yang nyata dan kebahagiaan.
***
Alhamdulillah..
Kedamaian hati telah kudapatkan di lingkungan kerja yang sekarang.
Waktu tiga bulan sudah kuhabiskan di sebuah institusi yang menuntutku harus banyak belajar hal baru. Tanpa harus menunggu komando dari siapapun.
Beda halnya, ketika aku bekerja dibawah naungan BOS/SUPERVISOR. Maka pekerjaanku jelas akan ditekankan untuk dilaporkan kepada mereka.

Menjadi Kepala Instalasi Gizi adalah sebuah jabatan yang amat menuntutku untuk bertanggung jawab penuh dalam mengelola Instalasi Gizi dan perihal asupan makan pasien.
Aku senang? Senang bisa bekerja sesuai bidang pendidikan. Senang bisa berbaur dengan orang-orang yang begitu baik serta mempunyai kepedulian tinggi

Senang bisa dipercaya untuk mengemban amanah yang menurutku sangatlah besar untuk seukuran diriku, seorang gadis Sarjana Gizi yang sama sekali belum berpengalaman bekerja sebagai Ahli Gizi Rumah Sakit.

Bayangkan…. Betapa kagetnya.. ketika atasanku (Direktur Utama) menekankan bahwa aku harus mengelola Instalasi Gizi sebaik mungkin.
Dengan kosongnya pengalaman. Berbekal kerja keras serta mau belajar.

Alhamdulillah… bisa diahadapi semuanya. Masalah dapur gizi, pasien semua bisa diatasi tentunya dengan perlahan, tetap rendah hati dan sabar.
Pengendalian emosi sangat berperan disini. Dimana aku harus bisa tetap tenang, kapanpun dalam kondisi apapun.

Dan aku selalu berusaha menyesuaikan makanan yang sekiranya mampu memenuhi daya terima pasien dengan cara menanyakan jenis dan bentuk makanan sesuai dengan kemauan pasien (tentunya sudah sesuai diagnosis pasien dan tidak menyalahi aturan). Serta menanyakan pantangan/alergi makanan untuk meminimalisisr risiko kambuh dan mengurangi sisa makanan pasien.

Yaah memang terdengar rumit. Namun jika dijalani dengan ikhlas dan senang. Maka itu tidak terasa beban sama sekali.
***
Untukmu wahai orang yang dulu pernah berkata “MAU KAMU KERJA DIMANAPUN, KALAU SIFATMU MASIH SEPERTI INI, GAK AKAN BENER JADINYA”.
Apa sifat yang dimaksud?  Sifatku yang pendiam, jarang bergabung dengan rekan yang tidak ada angin/hujan selalu saja membicarakan aib/keburukan orang lain, menghakimi orang lain. Kata-kata buruk/sindirian yang selalu kudengar. Mereka bersikap baik hanya saat meminta tolong saja.
Ketika tidak butuh. Mulai lagi.

Astaghfirullah … Beruntungnya Allah memberikan jalan yang sungguh amat tidak terduga. Menjauhkanku dari orang-orang seperti itu.
Aku tau. Ada salah seorang yang tidak menyukaiku dikarenakan aku pendiam.
Memang pada saat itu aku lebih banyak bekerja daripada berbicara. Apalagi untuk umbar-umbar aib orang.
Dia mengira aku sombong. Gak mau berbaur.

Salah seorang teman juga bilang bahwa “JIKA ADEL TERUS MENERUS KAYAK GITU, MAU KERJA DIMANAPUN JUGA TETAP SAMA AJA”
Baiklah. Aku sudah mengganggap dia teman yang baik. Tapi cukup ku ketahui, dia telah membicarakanku di belakang.


Padahal, aku sama sekali gak pernah menjelek-jelekkan dia kepada siapapun.
Beruntung aku tidak mempercayainya sebagai teman curhat. Cukup teman biasa saja.
Sebuah tekad yang kuat dalam diriku yaitu bekerja harus bermanfaat untuk orang lain. Bukan bekerja di lingkungan yang banyak mudharatnya. 

Pendapatan besar jika lingkungan seperti itu. Tidak akan membawa berkah bagi diriku sendiri. Seperti racun yang bisa menjalar ke tubuh.
Aku tidak mau seperti mereka. Jadi diriku sendiri. Selagi tidak merugikan orang lain.
***
Di Rumah Sakit ini, aku bisa berbaur cepat dengan rekan-rekan kerja. Mereka amat baik-baik. Terutama orang-orang manajemen yang pegawainya banyak terdiri dari ibu-ibu. Mereka welcome sekali. Sifat pasti berbeda-beda. Namun aku bisa menyesuaikan.
Mereka gak ada yang berkata kasar, ataupun Bossy. Apalagi sampai memaki bawahan seperti : Tolol, bego atau otaknya ditaro dimana?. Gak pernah melempar barang ataupun menggebrak meja.

Alhamdulillah etikanya baik-baik. Menunjukkan manusia yang berpendidikan.
Sekali lagi, doa dia tidak akan pernah benar.
Aku sudah membuktikan, bahwa Alhamdulillah aku tidak pernah kesulitan beradaptasi dengan rekan kerjaku disini. Diriku tidak mengalami masalah sosial. Melainkan dulu, lingkungan yang tidak baik sangat tidak membuatku nyaman dan banyak mudharatnya sehingga aku lebih banyak “diam”.

Allah akan segera membalikkan doa itu kepada sang “pengujar”. Sebagaimana dia tidak lebih baik daripada orang yang sudah ia dzalimi.
Semoga hatinya segera terketuk, karena beberapa orang telah tersakiti akibat lidah tajamnya.

Hal ini ku dengar dari beberapa rekan yang sempat berbagi ceritanya kepadaku. Yang masih ada sangkut pautnya dengan dia.


Hati-hati dengan lisan. Semoga Allah senantiasa menegurnya dan memberikan pelajaran sehingga dia berhenti menyakiti hati orang lain dengan mulut tajamnya.


Picture source : google.com

Wednesday, 17 April 2019

Suara Hati

Hanya sebuah uraian yang sempat terngiang dibenak.

Terngiang. Bukan berarti melekat hingga tidak bisa berpindah.
Jalanku adalah maju ke depan. Bukan mundur melihat ke belakang. Dimana pada saat itu, aku adalah wanita yang tentunya belum seperti sekarang.
Allah sudah benar-benar membersihkan semuanya. Segala rasa kecewa, sakit hati dan hal apapun yang dulu sempat nano-nano kurasakan.


Terima kasih … Kepada pribadi-pribadi yang sudah membuatku kecewa kala itu. 
Untukmu yang lebih memilih dia dikala hubungan dekat itu sudah menginjak 3,5 tahun.
Hikmah : Aku mengerti bahwa belum tentu pribadi yang mudah berkata manis/memberikan komitmen untuk tetap tinggal itu akan beneran tinggal.
Kejenuhan bisa menjadi faktor alasan untuk mencari yang lebih baik lagi. Aku sadar pada saat itu kau kurang mengerti kesibukanku dikala aku berada dalam ambang batas terbawah (sedang masa-masa sulit) praktik kerja lapangan dan penyusunan proposal skripsi. Sehingga perhatianku sebagian besar tercurahkan kedalam proses menuntut ilmu itu.
***
Dan… untukmu yang lebih memilih menghilang tanpa kabar disaat menjalani hubungan dekat sudah 8 bulan. Kau yang memulai semua, dari perhatian dan kepedulian. Sampai akhirnya aku tergiur dengan pribadi yang santun dan pendiam sepertimu. Selama itu pula berjalan baik-baik saja. Terima kasih. Terakhir kali ingat… aku masih saja mengucapkan selamat ulang tahun pada waktu dini hari. Jam 00.30 WIB. Kau merespon jam 14.00.
Setelah itu aku bertanya, kau tidak membalas lagi seterusnya.

Dua bulan kemudian, aku menanyakan kabar via media sosial, 3 hari kemudian dibalas. Tapi kau tidak membahas alasan mengapa tiba-tiba pergi. Kemudian, aku memutuskan untuk “read” saja. Tidak membalasnya lagi. Aku yang mengakhiri pembicaraan.
Ya Rabb..  Mengapa aku bodoh sekali. Sudah jelas-jelas diperlakukan seperti itu, aku masih baik saja menanyakan kabarnya.

Hikmahnya, aku jadi mengerti akan arti sabar dan tegar. Dimana, aku tidak mengerti sama sekali mengenai alasannya yang pergi tanpa sebab.
Aku benar-benar bisa menerima ketika teman-temanku, mamahku memberikan saran yang begitu menguatkan. “Sudah adel, lepaskan. Kamu wanita baik-baik dan berhak mendapatkan yang jauh lebih baik dan bisa menghargai”

Baik saat itu, aku memohon ampun kepada Allah, karena aku sudah terlalu berharap melebihi harapanku pada-Nya meminta diberikan sosok yang terbaik untukku.
Sungguh. Aku bertekad akan terus memperbaiki diri hingga tiba saatnya nanti dipertemukan dengan pribadi yang tulus membahagiakanku untuk selamanya. Diridhoi oleh-Nya. Dunia Akhirat.
Maka, aku yakin sekali, setiap kepergian atau kehilangan. Pasti tergantikan dengan yang lebih baik.
Karena sejatinya, laki-laki yang baik tidak akan sudi mempermainkan perasaan wanita.
Dia akan memperjuangkan masa depannya, dan perempuan pujannya pun akan selalu terlibat dalam rencananya.

Kemudian, setengah tahun telah berlalu………………

Sampai saat ini, Alhamdulillah aku sudah ikhlas dan benar-benar move on dengan perasaan itu. Karena yang terpenting adalah masa depanku dengannya. Dengan dia yang sedang berusaha memperjuangkanku. 

Menurutku perasaan harus balance. Dia terhadapku dan aku terhadapnya. Tidak bisa hanya salah satu saja.

Itulah sebabnya, mengapa aku sekarang hati-hati dekat dengan seseorang. Satu-satunya yang bisa membuktikan bahwa pribadi itu benar baik adalah keseriusan yang nyata. Yang tentunya bisa terlihat secara bertahap. Membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengenal pribadi tersebut. Daya terima dia terhadap diriku, serta rencana-rencana yang akan disusun untuk kedepannya.

Dan bagi pribadi yang sempat menginginkanku. Aku mohon maaf karena tidak bisa membalas  keinginanmu itu.
Hati tidak bisa dipaksakan.
Kebaikanku terhadapmu adalah wajar dan tidak ada perhatian khusus.
Maaf, jika dulu kau salah mengartikan responku.
Waktu itu aku belum paham betul… Bahwa respon positif berkelanjutan akan memengaruhi hatimu.
Sehingga kuperbaiki responku menjadi benar-benar biasa saja.

Aku memang seperti itu. Jika aku memang tidak menaruh hati. Responku sangatlah biasa. Agar pribadi tersebut berpeluang untuk mencari hati yang lebih ikhlas menerima.
Untuk menghindari sebuah harapan palsu. Yang tentu saja sangat menyakitkan.
Terlebih, keinginan yang kuat untuk tidak sembarangan dekat dengan seseorang.
Maka, aku harus tau betul tujuan dan maksudnya. Apakah hanya untuk sekedar berpacarankah? Tanpa ada niat baik?
Diumur segini, sudah tidak pantas lagi untuk bermain-main. Tidak mau membuang-buang waktu untuk suatu “ketidakjelasan”. Hanya jalan saja, tapi entah ujungnya bagaimana. Tanpa rencana.

Lebih baik, fokus merintis karir dan mengembangkan ilmu.
Aku berdoa semoga pribadi yang berniat baik tersebut dimudahkan untuk menjemputku kelak disaat waktunya tiba. Direstui oleh kedua belah pihak keluarga dan diridhoi oleh-Nya. 
Aamiin

Sunday, 14 April 2019

Rumah Kedua


Menyenangkan memang. Disaat kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Dalam hal apapun. Pekerjaan, pergaulan, dan lingkungan.
Singkat cerita. Dimana dulu sebelumnya aku pernah bekerja di suatu perusahaan finance yang terbilang cukup tinggi tekanannya. Bekerja untuk perusahaan dan pelayanan terhadap customer.

Namun panjang cerita, ketika aku memutuskan untuk bekerja di sebuah Rumah Sakit dengan maksud ingin merintis karir dari bawah berdasarkan ilmu yang kupunya. Bekerja untuk  kemajuan RS, mengembangkan ilmu dan melayani pasien.
Sungguh, aku pindah kerja bukan karena ga kuat mental atau bagaimana. Melainkan tekad yang sangat kuat untuk mengembangkan ilmu yang sudah kupelajari selama kuliah. Tanggung jawab terhadap profesi.


Sah-sah saja, apabila bekerja tidak sesuai dengan passion atau keahlian. Rezeki/kesempatan kerja, Allah yang mengatur. Betul.
Tidak semua orang memiliki peluang/kesempatan yang sama untuk bekerja sesuai dengan passionnya. Tidak menjadi masalah.

Disini, di tempat kerjaku yang sekarang. Aku banyak belajar hal, yang tentunya jauh berbeda dengan tempatku sebelumnya.
 Pelajaran hidup, hubungan dengan rekan kerja, semua ilmu yang kupunya dan sebagainya.
***
Aku mulai bekerja pada tanggal 6 Maret 2019. Beradaptasi dengan rekan kerja Alhamdulillah mudah tidak sulit. Mereka sangat baik-baik sekali. Sehingga aku cepat akrab dengan mereka semua. Disini adalah rumah keduaku. Dimana aku banyak menghabiskan waktu yang tentunya insyaallah bermanfaat.

Terlebih aku kaget, baru masuk sudah harus bisa memimpin pegawai instalasi gizi (pramusaji dan tenaga pemasak)
Jadi, aku wajib mengelola instalasi gizi dari bawah sekali. Dari yang tadinya belum ada produksi masak menjadi harus ada produksi. Karena mau ada akreditasi (penilaian Rumah Sakit).

Jauh sebelum akreditasi, produksi memasak dilakukan di Klinik (dengan nama yang sama seperti RS tempatku bekerja). Lalu didistribusikan ke RS sesuai jam makan pasien.
Aku mengerti, memang standar instalasi gizi di RS itu harus ada produksi memasak, dan diantarkan langsung ke kamar pasien. Bukan dengan cara produksi diluar kemudian dikirim ke RS.

Alhamdulillah, tidak lama setelahku masuk kerja dan berbicara dengan owner RS untuk produksi di dapur gizi. Dua minggu setelahnya, beliau menghadirkan seorang tenaga pemasak untuk memasak di RS. Pramusaji sudah ada satu yang memorsikan dan mengantarkan makanan. Kemudian beberapa minggu lagi HRD memperkenalkanku dengan tenaga pemasak baru. Jadi total yang masak ada 2 orang.
Aku merasa terbantu sekali dengan kehadiran mereka.

Tentunya aku punya tanggung jawab besar terhadap Instalasi Gizi dan pasien. Aku harus bisa mengontrol pegawai dapur, dan tidak lupa dengan keluhan pasien mengenai makanan. Disesuaikan juga dengan diagnosis penyakitnya.

Disini aku belajar sendirian. Tidak ada yang membimbing. Karena belum pernah ada Ahli Gizi sebelumnya. Jadi aku ahli gizi pertama yang bekerja di RS tersebut.
Maka aku harus rajin bertanya kepada teman (Ahli gizi) di RS lain, dan mencari informasi mengenai apa-apa saja yang terbaru, entah formulir, berkas lain yang wajib dimiliki oleh Ahli Gizi.
Caranya? Harus membaca banyak literatur serta ikut seminar.

Meskipun sejujurnya aku masih kurang membaca literatur karena kemarin masih sangat sibuk akreditasi hingga mengharuskanku untuk bermalam di RS demi kerja sama dengan tim PPI  (Pencegahan Pengendalian Infeksi) dimana didalamnya terdapat elemen tentang gizi. Jadi mau tidak mau aku harus ikut serta dalam penyusunan Kebijakan, Pedoman dan SPO (Standar Prosedur Operasional) yang berhubungan dengan gizi. Semua tentang gizi, aku yang membuatnya sendiri dengan sumber yang jadi patokanku yaitu PGRS (Pelayanan Gizi Rumah Sakit) tahun 2013 dari Kemenkes.
***
Setiap pagi, aku selalu membuka rekam medis pasien untuk melihat diagnosis pasien dan segala hal tentang hasil laboratorium, kemudian mencatat semua di lembar CPPT (Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi) >> include in rekam medis. Yang menulis dilembar tersebut yaitu dokter umum, dokter spesialis dan ahli gizi.

Dilembar tersebut aku menulis assesmen gizi dengan standar format ADIME (Assesment, Diagnosis Gizi, Intervensi serta Monitoring dan Evaluasi). Sudah terstandar untuk seluruh Ahli Gizi di Indonesia.

Setelah itu, aku berkunjung ke kamar pasien untuk mengukur LILA (Lingkar Lengan Atas) untuk menentukan status gizi menggunakan persentil LILA dan TL (Tinggi Lutut) untuk dikonversikan ke Tinggi Badan agar bisa mengetahui BBI (Berat Badan Ideal) kemudian baru bisa menghitung kebutuhan gizi, sekian kalori.

Banyak menghitung? Sudah pasti. Padahal dulu waktu sekolah aku sangat tidak suka menghitung, lebih suka membaca. Tapi ternyata kuliah dan kerjanya banyak menghitung :D
Setelah itu, aku kontrol dapur. Untuk memastikan bahan makanan aman konsumsi, serta mendengarkan keluh kesah dari rekan-rekanku kemudian mencarikannya solusi.
***
Berat rasanya bukan?
Belum berpengalaman tapi baru masuk sudah punya bawahan, dan itu membuatku tercengang.
Pindah kerja bukan mencari enak-enak supaya gak dimarahin bos. Melainkan tanggung jawab lebih besar dibandingkan dulu aku menjadi bawahan yang kerja, tinggal kerja saja ga mikir harus bagaimana”. Meskipun kerjaanku dulu juga sama tanggung jawabnya besar, menjaga “harta orang lain” yang diperlukan kejujuran dan bekal “tidak mudah dibodohi
Karena kalau kita gampang percaya, maka akan fatal. Kerja dimana pun.
***
Alhamdulillah, tiba juga saatnya dimana akreditasi sudah dilalui. Semoga hasilnya baik. Mudah-mudahan kedepannya RS tempatku bekerja bisa semakin maju. Aamiin.
Kita bersama-sama merintis dari bawah dengan terus upgrade ilmu dan banyak belajar. Bismillah.

Saturday, 9 March 2019

Jadi Mentor


*Morning briefing
“Ari sini, ikut briefing”. Kata salah seorang seniorku.
Kami membuka briefing dengan berdoa terlebih dahulu. Kemudian kami, karyawan dept. service berkenalan dengan Ari. Pengganti posisiku di perusahaan finance itu.
“Nanti Ari haruus banyak tanya sama Adel ya. Manfaatkan waktu kamu, sepuasnya. Adel tolong keluarin dan tuangkan semua ilmu kamu selama kerja disini".
Siap bu!! Sambil mengangguk dan tersenyum penuh semangat.
***
Aku mulai menjelaskan kepada Ari mengenai jobdesk yang bisa terbilang lumayan banyak dan bercabang, serta banyak tahapnya.
Dia mendengarkan dengan saksama. Meskipun masih terlihat bingung.. Wajar saja. Namanya juga masih baru.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk akrab dengan Ari. Ternyata dia adalah adik kelasku waktu SMA dan satu ekstrakurikuler. Paskibra.
Dunia sempit sekali.

***
Ari anak yang baik, mudah diarahkan serta tidak neko-neko. Sehingga aku bisa enjoy menuangkan ilmuku kepadanya. Meskipun belum semua tertuang, karena waktu yang kurang.
Kesempatan untuk mengajarkan ilmu itu hanya berlangsung selama 4 hari. Dari tanggal 1-5 Maret.
Sungguh tidak ada rasa kesal sedikit pun dalam mengajarkan junior yang baru saja terjun di dunia pekerjaan.
Dia terus bertanya? Tidak masalah. Namanya juga proses tahap pembelajaran. Lagipula aku sadar, waktu 4 hari saja belum cukup baginya untuk memahami seluruh pekerjaan itu.
Diriku beradaptasi dengan jobdesk memakan waktu sekitar 3 bulan. Dan Alhamdulillah aku diberikan kesempatan untuk berbagi ilmu walaupun hanya sebentar.

***
Dihari pertama aku sudah mengajarkan Ari stock opname bpkb yang jumlahnya mencapai 8643 BPKB.
Menguras tenaga. Bahkan kami berdua pulang malam.  Pertama aku memberikan contoh stock opname kepadanya. Kemudian dia melanjutkannya. Kami bergantian mengerjakan jika waktu shalat tiba.
Esok harinya kami melanjutkan laporan stock opname yang harus dikirim via email ke perusahaan finance pusat.
Alhamdulillah, sejauh ini kerjaan gak ada masalah. Ari sedikit-sedikit mulai paham.
Selanjutnya aku mengajarkan Ari untuk membuat laporan BPKB perbulan. Perlahan-lahan. Selesai sudah.

***
Hari berikutnya aku mengajak Ari untuk mengambil beberapa BPKB yang ada di salah satu dealer sekaligus memperkenalkan dia dengan rekan kerjaku disana Pak Fatur.
“Pak, ini Ari pengganti saya, untuk seterusnya pengambilan BPKB sama Ari ya Pak”
“Ohh, iyaa bu. Sukses yaa Bu Adel di tempat baru”
“Mohon bantuannya ya pak Fatur” Ari melanjutkan.
Kami pun keluar dari ruang admin dealer tersebut. Kemudian langsung melanjutkan perjalanan ke Biro Jasa untuk memberikan berkas STNK.
“Bu saya mau kasih berkas, ooh iya ini pengganti saya Bu. Ari.”
“oohh, ibu mau kemana emangnya?”
“Saya resign bu, tanggal 5 Maret terakhir kerja”
Aku juga pamit kepada Pak Fandi, yaitu orang yang biasa berhubungan denganku mengenai proses dan permasalahan STNK.
Setelah itu aku balik lagi ke kantor, kemudian mengajarkan Ari cara input BPKB yang baru diaambil dari dealer.

***
Hari demi hari kujalani dengan perasaan syukur Alhamdulillah. Masih bisa bermanfaat untuk orang lain.
Aku juga sudah berpamitan dengan semua rekan di berbagai dealer. Relasi kerjaku. Mereka amat baik sekali. Sampai aku agak sedih harus meninggalkan orang-orang yang sudah biasa bertemu denganku.
Pak Fatur (Toyota), Bu Marya (Isuzu), Mbak Anti (Honda Kumala), Pak Adi (Astrido), Mbak Puput (Daihatsu).
Terima kasih semuanyaaa.

***
Akhirnya tiba hari dimana aku segera berpisah dengan Ari.
“Makasih ka adel udah mau bantuin Ari. Sukses jadi Ahli Gizi di Rumah Sakit ya, jangan jadi pasien” dia terkekeh.
“Kalau kamu ada apa-apa atau masih kesulitan, bilang ya, Insyaallah aku bales, kalau lagi kosong”
***
Aku type orang yang sangat senang bila bisa bermanfaat untuk orang lain.  Senang bisa membantu. Jika dia belum bisa maka terus latih, sabar memberi tahu yang benar itu seperti ini dll.
Dan aku bukan seorang pemarah. Jika memang orang lain emosi kepadaku, aku membalasnya dengan santai tidak pake emosi.
Api jangan dilawan dengan api. Dan satu lagi aku sangat tidak suka marah-marah. Karena hanya akan membuang energy serta tidak bermanfaat.
Orang salah, ya beri tahu saja. Jika ngeyel, kasih konsekuensinya.
Menahan amarah baik untuk diri kira. Coba aja kalau gak percaya.
Marahnya orang yang tidak pernah marah bukan dengan kata-kata. Tapi diam. Sekian.

Picture source : www.google.com

Thursday, 7 March 2019

Selamat Tinggal

        Mungkin ini yang dinamakan memutuskan sesuatu itu tidak mudah. Berpisah dengan hal-hal yang sudah menjadi keseharianku.
Begitu juga dengan lingkungan yang tentunya aku sudah khatam sekali dengan atmosfernya.
        Maaf, aku tidak mau spam di media sosial manapun, status-status yang begitu panjang/menuliskan secara langsung di wall.
Sedari dulu, aku hanya menulis disini.
Disitus andalanku. Perjalanan literasi Adelina.
***
Pagi itu, aku mengetuk pintu ruang manager dengan senyum yang kemudian diselingi nada suara yang berat.
“Permisi Pak, bisa bicara sebentar? Mohon maaf sifatnya agak pribadi”
Beliau mempersilakanku untuk masuk, kemudian kututup pintu sehingga aku bisa leluasa berbicara dengannya.
Setelah pembicaraanku dengannya selesai. Aku kembali bekerja seperti biasa.
5 hari kemudian. Bos supervisor memanggilku untuk berbicara secara 4 mata.
Baik. Kala itu, pukul 17.30. Beliau menanyakan soal pembicaraanku dengan manager.
Kujelaskan baik-baik mengenai pembicaraan itu, yaitu tentang niat yang murni tulus dari dalam hati tanpa paksaan dari siapapun.
Dia marah. Karena aku dianggap sudah melangkahinya yaitu langsung bicara dengan manager tanpa bilang dulu sebelumnya kepadanya. Tentang niat baikku. Resign dari perusahaan leasing/pembiayaan mobil terbesar di Indonesia.


Sadar dan merasa bersalah. Akhirnya, aku meminta maaf. Karena seharusnya aku bilang dulu ke SPV baru setelah itu ke manager. Dia merasa dilangkahi, dan tersinggung.
Kedepannya, aku tidak akan bertindak seperti itu lagi di instansi yang selanjutnya. Dimana pun tempat ku bekerja.
Banyak pembicaraan antara aku dengannya, yang cukup diri sendiri saja yang tahu.
Tidak mungkin aku bicarakan disini. Karena tutuplah aib saudaramu, maka Allah akan menutupi aibmu.
Itulah mengapa aku jarang berbicara ketika tidak perlu. Bukannya sombong atau karena pilih-pilih orang untuk diajak ngobrol.
Terlebih aku sadar. Banyak sekali dosa didalam diri ini. Rasanya membicarakan kejelekan orang, mencari-cari kesalahan orang lain atau bergosip hanya akan merugikan diriku sendiri.
Masih banyak hal positif lain yang harus dikerjakan.
***
Akhirnya permohonan resign dikabulkan. Dengan catatan one month notice.
Jadi, aku harus menunggu sampai sebulan baru bisa resmi resign.
Surat resign turun tanggal 7 Februari. Artinya aku resmi resign tanggal 7 maret. Terakhir bekerja di PT tersebut  tanggal 5 Maret. Karena tanggal 6 sudah disuruh masuk kerja di tempat lain.
Aku sangat menikmati sisa hari kerja itu. Lambat laun teman-teman kantor tahu soal pengunduran diriku.
***
Tugasku hanyalah bekerja seperti biasa, membantu perusahaan cabang yaitu memberikan sumbangsi/mencapai target. Salah satunya target BPKB. Posisi kerjaku.
Alhamdulillah. Seiring berjalannya waktu. Sudah berusaha, akhirnya hasil pun kutuai juga.
Bulan februari, dimasa sisa hari kerjaku, aku berhasil mencapai target. 100 sekian persen.
Yang tentunya akan menjadi kenangan terbaik untuk perusahaan.
Sebelumnya, aku tidak pernah masuk target, selalu meleset.
Tapi, dengan usaha, doa dan campur tangan Allah. Akhirnya berhasil.
Thanks to Allah always.
Terima kasih semuanya. Selamat tinggal perusahaan yang telah mendidikku menjadi pribadi yang lebih kuat, dan lebih baik lagi.
Selamat tinggal teman-teman semua: Kepala Cabang, manager dan semua supervisor, teman-teman yang lain juga
Semua hal yang terjadi di perusahaan itu adalah pelajaran hidup yang gak akan pernah kulupain seumur hidup.
Kini, aku telah resmi diterima sebagai Ahli Gizi di salah satu Rumah Sakit di Kabupaten Bekasi.
Disanalah, tempatku bebas berekspresi. Mengembangkan ilmu dan karir. Semoga berkah semuanya.

Aamiin. ~~

Sumber gambar : gambaranimasi.org

By :
Free Blog Templates