Wednesday, 4 March 2020

Apalah Arti sebuah "TITLE"




Boleh jadi, pendidikan yang sudah kita tempuh selama kurang lebih 3, 4 bahkan 6 atau 8 tahun adalah suatu perjalanan yang amat membanggakan diri ini.
***
Segala permasalahan akademik, tugas mulai dari yang mudah, sedang, sulit, amat sulit, menampar jiwa sampai membuat kita hampir putus asa bisa kita taklukan dengan baik.
Terlewati sudah semuanya.
Andaikan suatu hari, datang suatu niat untuk melanjutkan perjalanan itu sampai ke tingkat yang lebih tinggi lagi, bergetarlah sudah ambisi, ingin mencari ilmu? Atau hanya sekedar title?


Ilmu apapun, merupakan tanggung jawab pemilik untuk diamalkan, dimanapun dia berada.
Namun bukankah itu tidak semudah teori yang sekian detik saya ucapkan?
***
Bekerja di tempat bonafide, dengan gaji yang fantastis adalah impian semua orang, namun tekanan, risiko yang diambil bukanlah suatu hal yang main main pula harus kita terima segala bentuk rupa, jelek beserta tidak enaknya.
Bahkan terkadang tidak sesuai bidang pendidikan.

Enjoy? Tidak jadi masalah. Ilmu bisa diamalkan dimana saja, kepada siapa saja.
Asal yang disampaikan bisa bermanfaat bagi sesama.
Title hanyalah title. Penghargaan dalam bentuk tulisan nama belakang, hasil kerja keras dari bidang akademik.
Bukan soal seberapa banyak sarjana yang pekerjaannya tidak sesuai dengan title, tapi apalah arti sebuah title kalau perilaku  tidak mencerminkan seseorang yang berpendidikan?

Seseorang yang selalu merendah, menghargai orang lain yang  pendidikannya tidak seberuntung kita, tidak mencaci maki.

Apalah arti sebuah title? Kalau ilmunya tidak dibagikan kepada sesama? Rekan kerja? Ingin pintar sendiri.

Apalah arti sebuah title? Kalau hanya pendidikannya saja yang nambah, tapi perilakunya masih kalah jauh dengan orang yang sekolahnya tidak tinggi.

Tiada berarti.


Orang yang sungguh berpendidikan yaitu semakin ia dipuji semakin pula ia merendah, 

Semakin ia dihina, semakin kuat motivasi untuk maju,

Semakin ia dijatuhkan, semakin tinggi rasa ingin membuktikan bahwa ia mampu,

Pemikiran yang cerdas diiringi dengan sikap dan perilaku yang seiring berjalannya waktu semakin membaik.

“TITLEMU BUKAN JAMINAN PERILAKUMU”

Title sarjana, magister, doktor, tidak berarti baik bagi seseorang yang tidak pernah ingin memperbaiki kesalahan, atau tidak peduli dengan sikapnya yang selalu merendahkan seseorang.

ITU HANYALAH TITLE KOSONG~~

Picture source : voxpop.id

Saturday, 7 December 2019

Jauh ~


Sulit dibayangkan pada awalnya. Biasa hidup serba berkecukupan, tanpa kekurangan, tanpa ketidaknyamanan, tiba-tiba harus mengadu nasib di suatu tempat yang terbilang jauh lebih tidak nyaman dari sebelumnya tempat dimana berasal.
          Hei, by the way gimana kabar kalian? Baik – baik sajakah? Sudah 2 bulan aku tidak menulis disitus favoritku. Perjalanan literasi Adelina. Kesibukan bersama pasien, dokumen, dan instalasi gizi membuatku tidak banyak memiliki ruang gerak untuk menuangkan isi pikiran yang sebetulnya sudah lama sekali ingin kusampaikan disini.
Laptop dan buku diaryku juga tidak bersamaku sekarang. Mereka kutinggalkan ditempat yang aman dan anti hilang (insyaallah) yaitu di rumah.
Semua risiko sudah dipikir matang-matang. Bagaimana orang tuaku yang tadinya seperti kurang ikhlas melepasku untuk yang kedua kalinya. Namun aku berhasil meyakinkan mereka, bahwa aku bisa. Dengan tekad yang kuat
***
Awal tahun 2013. Aku harus menuntut ilmu di kota metropolitan yang dunianya berbeda sekali dengan kehidupanku sebelumnya.
Keadaan yang memaksa mau tidak mau harus bisa beradaptasi disana.
Untuk saat ini, mereka harus melepasku lagi. Bedanya pelepasan pertama dan kedua adalah: Apabila pelepasan yang pertama orang tuaku yang memang sengaja mengharuskanku untuk kuliah di luar. Maka sekarang, atas dasar kemauanku sendiri 100%, ingin bekerja di luar.
Jauh…. Ya benar jauh juga dari mereka.
***
Singkat cerita pada awal tahun 2018 aku pernah bekerja sebagai surveyor penelitian kesehatan, kemudian lanjut bekerja di perusahaan perkreditan mobil dan alat berat, then di rumah sakit umum swasta letaknya di kab. Bekasi, terakhir saat ini di rumah sakit ibu dan anak kota Bekasi.
Bukan tanpa alasan aku sudah beberapa kali kerja di tempat berbeda. Melainkan ada sebab yang memang harus diterima serta menuntutku untuk pindah ke tempat lain. Hanya orang-orang terdekat saja yang tahu.
Kuucapkan terima kasih kepada orang tua dan teman-teman yang sudah mendukungku untuk bisa berkembang menjadi lebih baik lagi, baik secara psikis maupun keilmuan.
                                         
***
Beberapa orang bilang “kenapa pindah jauh del? Kenapa ga di karawang aja? Emang gak boros nanti gajinya buat kost dll”.
Segala risiko, sudah dipertimbangkan, artinya aku siap dengan segala konsekuensi yang ada. Harus hidup jauh dari enak, makan seadanya, jarang main atau nongkrong, jarang jajan. Ditekan semua. Insyaallah kuterima dengan hati yang lapang. Tujuanku saat muda ini bukan untuk berfoya-foya atau enak-enakan, melainkan untuk membentuk pribadi yang jauh lebih baik lagi. Bekal untuk kehidupan selanjutnya, menikah, berumah tangga punya anak dan seterusnya.
***
Permasalahan hidup semakin lama kian rumit. Dibutuhkan kesiapan mental yang baik untuk menghadapinya. Maka dari itu, dibentuklah mulai sekarang. Dengan eksplore di tempat baru, menjadikanku banyak tahu sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi/kurasakan.
Masalah semakin hari ada saja.  Dari manapun. Itu yang membuatku bisa belajar sabar, ikhlas menerima, memahami orang lain dan lain-lain.
***
Meskipun harus jauh lagi dari orang tuaku. Aku siap.
Untukmu yang bekerja merantau jauh dari orang tua, semangat. Anda hebat. Bisa melawan ego, bisa tahan rindu. Demi kebaikan dan masa depanmu sendiri.
Lihatlah mereka, orang tuamu dan semua keluargamu pasti bangga, jika dirimu sudah sukses merantau disana.
***
Terlena dengan zona nyaman tidak akan membuatmu berubah. Dia hanya akan menjerumuskanmu lebih dalam lagi.
Jangan tunggu sampai terjadi, jika anda merasa diri anda monoton, segera pikirkan untuk melakukan sesuatu yang baru. Buat hidupmu menjadi sebuah tantangan, tidak hanya begitu-begitu saja.
Sekian dariku. Semoga sukses selalu J

Saturday, 14 September 2019

Banting Terus


Naik, turun, berkelok-kelok, rumit. Tiada yang lebih baik dari sebuah makian maupun hinaan atas kehendak-Nya dengan tujuan untuk menguatkan hati.
Tidakkah terpikirkan? Allah mengirim orang dzalim untuk menambah pahala kita. Lewat perantara orang itu, jadilah pribadi yang bisa berbesar hati serta kuat.
***
Dari judul aja emosional, apalagi tulisannya ya? Hehe. Warning !! Tulisan ini bukan untuk menjelek-jelekkan siapapun, karena penulis tidak mencantumkan nama perusahaan, tokoh dan tempat.
Berisi tentang pengalaman nyata, terutama nih. Untuk freshgraduate yang baru aja mau masuk kerja. Baca basmallah semoga bisa kerjasama dengan bos yang professional dan lingkungan yang kondusif. Jangan pernah takut untuk ambil keputusan yang berlainan dengan prinsip, karena kamu sendiri yang tau apa yang terbaik untuk hidupmu. Langsung aja, detailnya sebagai berikut. Cekidot.
***
“Gimana sih kamu gak ngerti-ngerti udah dikasih tau? Kamu g*blok, bego, otaknya taro dimana?” Tidak hanya sekali, namun tiga kali dia mengatakannya.
Kata-kata tidak berpendidikan itu. Sisanya, kata-kata biasa bernada sinis dan pastinya membuat siapapun disana yang mendengarnya menjadi muak dan geram.
Kata-kata itu terlontar begitu saja tanpa jeda sedikitpun dari perempuan itu.
Terjadi saat aku masih bekerja di salah satu perusahaan finance mobil dan alat berat yang cukup terkenal di Indonesia.
Lantas mengapa? Lima bulan bekerja aku selalu merasa takut, dan seperti ada yang mengganjal. Tapi apa? Mungkinkah karena makian atasan? Atau lingkungan pertemanan yang tidak cocok? Ternyata setelah kutelusuri. Mengganjal bukan semata-mata karena itu. Tapi karena hal lain yang berlainan dengan prinsip hati.
Ya Allah, maafkan hamba yang sok suci ini. Padahal kenyataannya samasekali tidak.
***
Lima bulan bekerja disana bukanlah tanpa masalah. Bahkan hampir setiap hari, ada saja hal yang membuatku “Ya elah, baru juga tenang dikit, kok ada lagi perkara”
Apa? Oh iya seperti janjiku waktu itu. Aku ingin mendeskripsikan jobdeskku selama bekerja disana.
Yaitu mengurus permasalahan STNK dan BPKB mobil. Setiap harinya harus berhadapan dengan hitungan, tak lepas dari komplain pelanggan dengan persoalan berbeda.
Tugasku yang lainnya adalah mengambil BPKB dari dealer dan menginputnya kedalam system aplikasi perusahaan, ppffttt sungguh harus diperlukan ketelitian yang mendalam.
Karena kalau sampai salah, maka aku harus minta acc ke manager perihal maintenance atau perbaikan dari sistemnya. Kemudian diinput ulang.
Lantas, apa yang membuatku berat? Well, setiap pekerjaan pasti ada saja tekanan. Entah dari pelanggan, atasan maupun pihak luar. Seperti delaer. Aku diwajibkan untuk menagih BPKB yang daftarnya sudah masuk di sistem namun belum “in”.
Suatu kebanggan bukan? Bekerja di perusahaan sebesar itu? Namun kebanggan tidak menjadi tolok ukur. Kedamaian samasekali tidak kutemukan disana.
Jika kau berpikir, aku bekerja maunya gak ada tekanan. Ya gak gitu juga. Melainkan,  ada hal lain yang membuatku terganjal seiring berjalannya waktu. Yaitu penawaran jaminan BPKB. Kegiatan tersebut sama halnya seperti kita jualan jasa. Dimana kita menawarkan jasa menjaminkan BPKB ke pelanggan yang nantinya akan jadi pemasukan perusahaan. Dengan pencairan sejumlah sekian dan akan kredit sekian untuk beberapa tahun sesuai kesepakatan.
***
Mungkin bagi beberapa orang enjoy it. Gak ada masalah, fine-fine aja. Tapi aku? NGGA.
Gak tau kenapa, itu bertentangan sama hati. Menawarkan jasa ke pelanggan sama artinya dengan deal pelanggan berhutang berikut membayar bunga ke perusahaan.
Belum lagi, jika pelanggan bermasalah dengan kreditnya sampai lewat tempo. Ditambah dia punya masalah, yang pasti tidak bisa kita maklumi dan saklek “pokoknya kalau lewat tempo kena denda”, dan kalau sudah terlalu lama bisa berakibat fatal yaitu penarikan kendaraan (disita).
Terlebih jika kutahu pasti, dia adalah pelanggan yang dulu sempat aku tawarkan. Sampai kehilangan hartanya, memohon kepada kolektor minta dikasih waktu lagi. Aku gak sanggup dengar itu semua. Kalau kau pikir aku lebay, terserah. Tapi yang jelas, itu bukanlah inginku. Walaupun dapat bonus lumayan, tapi tetap, hati berbicara begitu. Yasudah mau diapakan lagi.
***
Loh kemudian, kenapa aku harus ikut campur dengan penawaran kalau pekerjaanku hanyalah sebagai admin?
Karena, bagi perusahaan itu adalah sumbangsi. Memang bukan jobdesk utama, tapi yakali. Ga enak juga kan udah kerja lama disana tapi belum bisa dapet pelanggan. Ada sedikit minder juga.

Lebih baik, mencari pekerjaan yang jauh dari penawaran peminjaman. Karena aku gak ahli dibidang itu, gak sampai hati pula. Belum lagi jurusanku yang sangat jauh dari pekerjaan itu.
Lebih suka kerja happy, bisa bermanfaat untuk orang lain, walaupun harus dari bawah lagi.
Terutama secara keuangan, yang kucari adalah berkah, nominal bisa didapat dari mana saja.
***
Balik lagi ke judul “banting terus”. Hati digeber denger cacian yang membuatku sangat muak.
Pernah saat itu, salah seorang bosku membuat suatu perjanjian yang awalnya aku kira cuma main-main atau bercandaan aja. “Siapa yang gak dapat pelanggan dalam waktu sebulan, maka wajib teraktir di sebuah restoran”. Gak usah disebutin lah ya, yang jelas disana mahal, apalagi buat makan 5 orang (1 team).
Restoran jepang, masak sendiri disana, kalian pasti tau lah resto apa itu. Waktu, aku cuma ketawa-ketawa aja, gak bilang setuju atau iya.
Tapi anehnya, setiap briefing, dia selalu mengingatkan perihal teraktiran itu. Ya aku, diam aja, karena memang dari awal nyangka it’s just a kidding. But that’s not like that.
Dia menegaskan kalau perjanjian itu gak main-main, melainkan sanksi untuk efek jera. Biar semangat buat dapat pelanggan.
Well, itu bukan sanksi yang baik. Karena termasuk kedalam pemerasan, jadi orang berlomba-lomba nawarin jasa biar gak neraktir gitu? That a f*ck idea for the new employee like me. Itu yang dia mau. Dia selalu bilang kayak gitu, sering. Mungkin hampir tiap briefing. Neraktir orang gak perlu ada sanksi begitu, kalau ada rezeki juga pasti royal kok. Tapi gak ditempat mahal juga, itu gak etis banget, kecuali kalo gaji gede banget baru ok.
***
Pada akhirnya jatuh akhir bulan, dia masih tetap nagih perjanjian itu. Aku gagal dapet pelanggan. Mereka puas menertawakan, dan berharap aku segera teraktir.
Okey, pada saat itu juga aku ke ruang manager untuk membicarakan soal “bolehkan seorang atasan, mengadakan perjanjian seperti itu?”. Note: di perusahaan itu gak ada HRD nya (HRD di kantor pusat), jadi kalau ada apa-apa boleh langsung ke manager.
Dia kaget. Dia bilang, “siapa yang suruh?” Kamu jangan mau. Itu pemerasan, gak boleh. Kamu rugi dua kali. Dapet bonus ngga, suruh teraktir pasti mahal banget apalagi makan disana.
Aku cuma bisa bercerita apa adanya tanpa menjelek-jelekkan si supervisor. Karena aku masih menghormati dia sebagai atasan. Sekalian aku mengutarakan niatku untuk resign.
***
Akhirnya si SPV dipanggil manager. Terpancar dari luar, mereka tengah berbincang. Manager orang bijak, gak pernah marah membabi buta, kalau negur baik-baik.
Beberapa hari kemudian. Aku dipanggil sama si SPV. Katanya jangan pulang dulu, mau ngomong.
Oke, and then?
Dia marah, karena aku menceritakan perihal itu ke manager. Sudah kuduga.
Kenapa harus marah? Dia mungkin malu. Gak nyangka, aku berani ngomong gitu, karena apa? Dia terus-terusan seenaknya nagih sambil bilang itu gak main-main, bukan bercanda. Kan gak nyaman banget, masa harus neraktir berlima gitu kan? Udah gitu mintanya di resto mahal lagi. Mendingan juga buat neraktir keluarga sendiri.
Dia marah, katanya cuma bercanda. Loh terus apa maksudnya hampir setiap briefing nagih-nagih? Bukannya dia mampu beli sendiri? Apalagi gajiku ga ada apa-apanya dibandingkan dengan dia.
Tapi dia ngeles, katanya aku licik. Bisa bilang gitu ke manager. Hatiku hampa, udah gak ada rasa teringgung lagi, biasa aja gitu ngadepin dia. Paling cuma geli aja sama perilakunya yang seperti itu. Sudah salah, tidak mau bijak, malah balik menghina.
***
Dia sampai gebrak meja, matanya menatap tajam. Nanya kenapa mau resign. Ya aku jelasin alasannya. Sambil bilang, “mohon maaf bu, ibu kalau sama orang emang sikapnya kayak gitu ya? Suka ngomong kasar? Emang gak bisa bu ngomong baik?” Dia bilang, “itu emang cara saya, orang gak suka ya terserah”. Ok aku rasa, dia emang orang gak mau menerima kritikan, dan masukan. Padahal menghadapi masalah/kesalahan anak buah ga harus pakai emosi. Yang ada orang jadi malas dengernya. Apalagi suka maki-maki, yaampun. Emang ya orang sarjana mau magister, doktor ga menjamin orang itu berpendidikan terlebih secara emosional. Gak bisa kontrol emosi dan enggan belajar menjadi lebih baik.  Yang ada dipikirannya, “Saya Boss!! Mereka harus nurut sama saya” Gak peduli dengan apa yang dialami sama anak buahnya.
Katanya sih buat nguatin mental dia bilang. Halah, tanpa di galakkin juga mental udah terbentuk sendiri dengan adanya tekanan kerjaan, omelan pelanggan dsb. Kalau mau marah, pakai cara elegan, jangan norak.  Mental dijadikan alasan untuk bertindak semena-mena. Belom kalau karyawannya dendam, repot deh urusannya. Untung aku baik hehehe jailah.
***
Detik-detik terakhir, mau resign. Aku ngerjain stock opname. Bpkb berjumlah delapan ribuan. Dan yang bikin aku gak habis pikir itu apa?
Lemburanku gak di acc sama si SPV. Gak tau, apa karena dia dendam. Apa gimana, sampai mempersulit hak karyawan. Bilangnya sih udah acc, tapi pas diliat di system, kok masih nge-gantung? Pas mau protes dia buru-buru mau pergi dan nyalahin katanya aku belum ngajuin. Yasudah cukup tau aja, semoga dia cepet dapet teguran. Aamiin.
***
Tapi bagaiaman pun juga, harus berterima kasih sama manusia satu itu. Karena kalau dia gak gitu, aku pasti masih kerja disana. Gak akan di Rumah Sakit seperti sekarang.
Kalau  terus bekerja disana sudah pasti bakalan terlena dengan uang dan terjerat dengan perasaan  bersalah terhadap pelanggan.
Jangan pernah takut bertindak kalau ada hal yang gak benar, harus berani. Risiko dibenci? Itu biasa. Mudah-mudahan kita bisa jadi orang yang lebih kuat lagi ;) Karena badai akan selalu siap menghadang dimana pun kita berada. 

Picture source : google.com always :D


~~~

Saturday, 10 August 2019

Review Novel "Annisa Kapal yang Berlabuh"

Hi, long time no see. Setelah satu bulan lamanya yang tentu saja merupakan waktu yang sangat berharga untuk menulis narasi disitus ini.
Inginnya sih bisa konsisten nulis sebulan sekali, tapi maklum, kesibukan bekerja di Rumah Sakit cukup membuatku lelah. Hehe. Yups, terkait dengan kisah perempuan yang bernama “Annisa”, tentunya tertulis rapi didalam buku karangan seorang mualaf nan idealis asal Inggris yang bernama John Michaelson.
Langsung aja, buku ini membahas tentang seorang gadis yang sedang tertekan akibat perlakuan ayahnya terhadap ibunya.
Tertera sampul berwarna biru laut dengan kapal kecil diatasnya. Kemudian dihiasi oleh judul “ANNISA KAPAL YANG BERLABUH”
Jujur agak kurang paham sama judulnya, apa yang dimaksud dengan kapal berlabuh? Mungkin setelah aku mereview kisahnya, teman-teman ada yang bisa memberikan tanggapan mengenai judulnya. Silakan masuk ya.
So, tema buku ini mengenai Annisa, seorang gadis, anak ustadz kondang yang bersedih hati karena penyakit kanker yang diderita ibunya. Hanya itu? Tentu saja tidak.
Ayahnya (Gozali). Ustadz kondang yang wajahnya kian tersorot di berbagai media, melakukan suatu hal yang sangat bertentangan dengan ceramahnya. Poligami. Dimana hal tersebut hanya bisa adil dilakukan oleh Rasulullah SAW. Selain beliau, sungguh tidak akan ada yang mampu untuk adil.
***
Faktanya, Gozali sering memberikan ceramah mengenai kebaikan dan tentunya sangat berbanding terbalik dengan perilakunya yang menikahi seorang wanita bernama Linda diatas penderitaan yang dialami istrinya (Ria). Gimana tanggapanmu teman-teman? Apakah pantas seorang ustadz seperti itu? Semoga kejadian tersebut tidak ada disekitar keluarga kita. Aamiin. Lanjut….
***
 Mental Annisa tertekan, sehingga dia tidak ingin berbicara kepada orang tuanya. Bahkan ibunya… selalu berusaha membela ayahnya, karena awalnya ialah yang mengizinkan laki-laki itu untuk melakukan hal yang sering disalahartikan sebagai sunnah Rasul itu.
Sampai pada waktunya, Annisa terbius oleh perasaan terhadap seorang dosen kampusnya yang berasal dari Inggris (Peter). Dia seorang atheis. Tidak mempercayai adanya Tuhan. Perasaan Annisa tentunya terbalaskan oleh Peter.
Karena pada awalnya Peter-lah yang berusaha terus mendekati Annisa dengan embel-embel bimbingan skripsi sebagai alasan klasiknya.

Wow, bayangkan saja. Seberapa besar gejolak hati yang dialami Annisa? Menyukai seseorang yang tidak mempunyai keimanan.


Penulis buku ini (John Michaelson) adalah seperti yang sudah kujelaskan di bagian awal yaitu seorang Mualaf dari Inggris, penyayang keluarga dan menyukai travelling.
Novel ini terbit tahun 2015, tebal 235 halaman, harganya 20.000 (cuci gudang) karena terbitan lama :D
***
Sinopsis novel ini menceritakan bagaimana Annisa melampiaskan seluruh kekecewaan terhadap ayahnya dengan mencari kesenangan di luar bersama Peter. Hingga sang ayah begitu sangat khawatir akan pergaulan putrinya yang sempat tertangkap basah sudah melepas hijab ketika bersama Peter.
Peter pun sangat menghargai Annisa, dia tau gadis itu masih suci dan berasal dari keluarga seorang public figur yang mengerti agama walaupun ayahnya sudah ketahuan munafik dimata banyak orang.
Sehingga banyak sekali drama yang dilakukan oleh Annisa terhadap ayahnya, ibunya, dan Peter pastinya. Akankah Annisa bisa menjaga kehormatannya? Meskipun sebenarnya dia sudah beberapa kali mendekati zina? Mungkinkah ayahnya menyesal karena sudah gagal dalam memberikan contoh yang baik bagi keluarganya?
***
 Karakter sang ibu yang terlampau sabar dengan sikap suaminya, Gozali yang tentu saja tidak konsisten dengan segala ceramahnya, munafik, egois. Menginginkan anaknya baik tetapi dia tidak lekas bercermin. Adapun Annisa yang rapuh, keras kepala, mudah terbawa suasana. Karena dirinya merasa tidak betah dengan berita dari televisi, mengenai kemunafikan  ayahnya. Rasa malu telah memuncak.
***
Konflik batin yang dialami Gozali yaitu Linda, dia merasa istri mudanya tidak pernah sebaik istri pertama.
Sedangkan Ria, merasakan sakit dan gejolak batin luar biasa ketika suaminya tidak pulang ke rumah demi menjalankan aktivitas ranjang di apartemen bersama wanita itu.
***
         Hal yang juga dirasakan Peter, merasa tidak tega kepada Annisa. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, dia juga sangat menginginkan Annisa.
Terlebih Annisa, sudah merasa bodo amat dengan kehancuran dirinya yang rela membuka aurat saat berpergian, tinggal satu apartemen dengan Peter dan nampaknya tidak terlalu peduli dengan risiko yang akan ditanggungnya.
                                                                      ***
      Kelebihan novel ini, alur ceritanya mudah dimengerti. Mulai dari menceritakan penyakit sang ibu hingga konflik lanjutan. Serta terdapat pelajaran moral yang begitu bermakna.
    Kekurangannya, ada beberapa bahasa latin yang sulit dimengerti dan tidak memakai footnote. Cara penulis untuk membangkitkan emosi juga kurang menyentuh hati bagi pembaca. Kurang mak-jleb gitu dihati hehehe.
         ***
Nah pendapat pribadi aku mengenai novel ini. Recommended. Bukunya bagus, banyak pelajaran didalamnya. Penulis sudah menjabarkan dengan bahasa yang baik, mudah dipahami meskipun kurang menyentuh hati.
Pelajaran yang dapat diambil dari novel ini, yaitu jangan pernah melihat orang hanya dari satu sudut pandang saja. Apalagi hanya dari kulit luarnya.
Disamping itu, penting untuk selalu mendekatkan diri kepada sang Pencipta, agar hidup lebih terarah, tidak terjerumus kedalam lembah dosa dan nista.
Namun bukan berarti seorang pendosa tidak bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Mereka hanya perlu dibimbing, bukan dikucilkan apalagi dijauhkan. Perlu ada seseorang terdekat yang mengerti dengan akar permasalahan yang dialami orang tersebut.
Karena sejatinya semua orang mempunyai sisi baik. Lantas, jangan mudah menghakimi. Jika kau melakukannya, maka dirimulah yang sesungguhnya tidak lebih baik daripada orang tsb. Rating untuk buku ini adalah 7/10 dari aku ;)

Salam manis dari Adel. Sangat diharapkan kritik yang membangun tertulis didalam kolom komentar ini. Terima kasih :)

Sunday, 30 June 2019

Menjaga

Memang setiap wanita, identik lemah terhadap perasaan. Perlu kita ketahui bahwa sesungguhnya yang berarti untuk kita adalah masa depan. Dengan seseorang yang benar-benar bisa membimbing serta menjaga hartanya dengan baik.
Apa hartanya? Yaitu kita. Wanita yang telah sah menjadi pasangan hidupnya.

Ketahuilah. Semua masa lalu yang pernah ada. Itu hanyalah "biasa" tidak ada arti spesial didalamnya. Yang berarti hanyalah pelajarannya saja.
Kenangan? Oh itu hanya tipuan belaka, sebuah godaan yang hanya akan lewat secara sepintas dalam pikiran kita.
Maafkan dia lalu, sudah. Selesai diantara kalian. 
Tidakkah kau tau? Orang yang tidak bisa move on adalah orang yang tidak mau maju.
Hanya berkutat dengan masa lalu. Tidak mau berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dan tidak menghargai apa yang dia miliki sekarang.

Bayangkan, pasangan halalmu. Dengan tulusnya begitu mencintaimu. Tapi hatimu masih ada disana. Didalam tipuan belaka itu.

Itulah mengapa, setelah kau berakhir dengan masa lalumu. Maka kau harus mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik lagi darinya.
Terlebih, jika posisimu adalah posisi yang dikecewakan olehnya.
Tentunya lebih mudah untuk move on bukan?
Kalau aku sih "YES"

Singkat cerita. Dulu pernah dikecewakan namun, aku bertekad jika dia kembali dan meminta maaf. Aku sungguh akan memaafkannya. Tapi dia tidak berhak mendapatan kesempatan kedua.
Hati yang tulus sungguh sangat mahal harganya. Tentu ditujukan untuk orang yang benar sungguh-sungguh ingin menjaga.


Siapa orang yang sungguh-sungguh itu? Dialah, orang yang berniat serius menjadikanku teman hidup untuk selamanya.

Sebaik apapun masa lalu. Jika diriku pernah dikecewakan, maka gugur sudah semua rasa yang pernah ada. 
Sekalipun, dia sudah berubah menjadi lebih baik. Namun hati sudah tidak bisa dipaksakan lagi. Dulunya bersemi sekarang sudah layu dan mati.

Tumbuh lagi .. tapi bukan untuk dia yang dulu pernah singgah. Melainkan untuk dia yang akan menjagaku dengan baik seumur hidup.
Semoga hatinya juga bersih dari masa lalu seperti diriku yang selalu menjaga hati untuknya.

Untuk posisi yang pernah mengecewakan seseorang. Minta maaflah. Tapi cukup hanya itu. Tidak perlu menjalin hubungan dekat lagi.
Dimaafkan atau tidak itu terserah dia. Yang penting niatmu sudah baik.
Hargai pasangan masa depanmu. Pasangan halalmu.
***
Well, gimana tulisanku guys? Pasti agak bingung ya ngomonginnya kok cinta-cinta mulu. Padahal belum nikah.
Ok sini merapat. Tak jelasin ya.
Ini sekedar dapat pengalaman aja dari lingkungan sekitar. Orang yang sudah punya pasangan halal itu wajibnya membahagiakan pasangannya seumur hidup, betul?

Ehh tapi, ternyata banyak orang yang sudah berkeluarga masih aja berhubungan dekat dengan sang “mantan”. Jigile…. Gimana menurut kalian?
Etiskah?

Kalo aku sih jujur, cemburu berat kalau nanti suamiku masih kontek-kontek mantan. Mudah-mudahan ngga ya. Jangan dong ah. Aamiin.
Sekarang gini, ngapain ya? Sudah nikah kok masih haha hehe, ngobrol sama mantan? Chattingan misalnya.

Keliatannya sih biasa. Tapi kok menurutku gak pantes aja. Disini dia sudah beristri/bersuami, tapi masih ngobrol dengan masa lalunya.
Jangankan mantan, cuma sekedar temen lawan jenis aja kalau gak penting, mau ngapain ngobrol?
Disini ada pasanganmu lohh. Pasangan halal ini. Belum cukupkah?

Alasannya, oh silaturahmu itu harus, hubungan baik itu juga bagus.
Yaakk ampunnn… Kenapa itu selalu dijadikan pembenaran ya?
Padahal udah jelas-jelas itu pemicu kemudharatan.

Apa si istri/suami gak risih ngeliat pasangannya seperti itu?
Emang sih mungkin gak ada apa-apa. Tapi, mbok yaa jaga perasaan lah. Kalau gak penting ya gak usah. Emang kontekan sama mantan pentingnya apa ya?
Haduh mendingan gak usah deh beneran.
Kalau perlu hapus aja kontaknya sekalian. Fokus sama keluarga aja. Emang apa yang mau dicari dari dia?
***
Kalau aku sih, jangankan mantan. #btw emang gak punya mantan pacar. Ada juga mantan teman dekat haha. Dulu lumayan intens.
Tapi sumpah ya, gak ada tuh yang namanya kontekan lagi sekarang.
Dikontek sama dia aja, aku mentahin semua. Balas sekedarnya. Sampai akhirnya dia pergi sendiri #nah emang itu yang kumau.

Sorry, bukannya judes, sombong atau gimana. Tapi yang namanya udah gak sreg gara-gara kecewa juga, ya mending dijauhi sekalian. Lagipula gak baik juga kalau diterusin sama orang yang gak sreg plus ga direstui oleh ortu untuk deket lebih lanjut sama ybs.

Oke udah kayak gitu gambarannya. Intinya, nanti kalau udah nikah. Udah deh gausah hai hello sama mantan, ngobrol dsb.
Fokus bahagiakan pasangan dan anak aja. Kalau bosen ngapain kek, melakukan hal positif tanpa menyinggung perasaan pasangan.

Mudah-mudahan kita selalu bisa menjaga perasaan untuk pasangan halal dikemudian hari, dan si dia pun juga sama demikian. Aamiin

Wednesday, 15 May 2019

Doa yang Salah


Doa yang salah.
Maksudnya apa? Apakah ada doa yang tidak baik? Ada. Yaitu.. doa-doa orang yang iri maupun dengki kepada kita. Dan seiring berjalannya waktu tidak akan pernah terbukti adanya.
Berikut adalah penjabaran atas pembuktian doa yang salah tersebut.
Kepadamu yang syukur-syukur membaca narasi ini. Segera ucapkan istighfar. Karena doa yang dulu pernah kau utarakan padaku. Berujung pada pembuktian yang nyata dan kebahagiaan.
***
Alhamdulillah..
Kedamaian hati telah kudapatkan di lingkungan kerja yang sekarang.
Waktu tiga bulan sudah kuhabiskan di sebuah institusi yang menuntutku harus banyak belajar hal baru. Tanpa harus menunggu komando dari siapapun.
Beda halnya, ketika aku bekerja dibawah naungan BOS/SUPERVISOR. Maka pekerjaanku jelas akan ditekankan untuk dilaporkan kepada mereka.

Menjadi Kepala Instalasi Gizi adalah sebuah jabatan yang amat menuntutku untuk bertanggung jawab penuh dalam mengelola Instalasi Gizi dan perihal asupan makan pasien.
Aku senang? Senang bisa bekerja sesuai bidang pendidikan. Senang bisa berbaur dengan orang-orang yang begitu baik serta mempunyai kepedulian tinggi

Senang bisa dipercaya untuk mengemban amanah yang menurutku sangatlah besar untuk seukuran diriku, seorang gadis Sarjana Gizi yang sama sekali belum berpengalaman bekerja sebagai Ahli Gizi Rumah Sakit.

Bayangkan…. Betapa kagetnya.. ketika atasanku (Direktur Utama) menekankan bahwa aku harus mengelola Instalasi Gizi sebaik mungkin.
Dengan kosongnya pengalaman. Berbekal kerja keras serta mau belajar.

Alhamdulillah… bisa diahadapi semuanya. Masalah dapur gizi, pasien semua bisa diatasi tentunya dengan perlahan, tetap rendah hati dan sabar.
Pengendalian emosi sangat berperan disini. Dimana aku harus bisa tetap tenang, kapanpun dalam kondisi apapun.

Dan aku selalu berusaha menyesuaikan makanan yang sekiranya mampu memenuhi daya terima pasien dengan cara menanyakan jenis dan bentuk makanan sesuai dengan kemauan pasien (tentunya sudah sesuai diagnosis pasien dan tidak menyalahi aturan). Serta menanyakan pantangan/alergi makanan untuk meminimalisisr risiko kambuh dan mengurangi sisa makanan pasien.

Yaah memang terdengar rumit. Namun jika dijalani dengan ikhlas dan senang. Maka itu tidak terasa beban sama sekali.
***
Untukmu wahai orang yang dulu pernah berkata “MAU KAMU KERJA DIMANAPUN, KALAU SIFATMU MASIH SEPERTI INI, GAK AKAN BENER JADINYA”.
Apa sifat yang dimaksud?  Sifatku yang pendiam, jarang bergabung dengan rekan yang tidak ada angin/hujan selalu saja membicarakan aib/keburukan orang lain, menghakimi orang lain. Kata-kata buruk/sindirian yang selalu kudengar. Mereka bersikap baik hanya saat meminta tolong saja.
Ketika tidak butuh. Mulai lagi.

Astaghfirullah … Beruntungnya Allah memberikan jalan yang sungguh amat tidak terduga. Menjauhkanku dari orang-orang seperti itu.
Aku tau. Ada salah seorang yang tidak menyukaiku dikarenakan aku pendiam.
Memang pada saat itu aku lebih banyak bekerja daripada berbicara. Apalagi untuk umbar-umbar aib orang.
Dia mengira aku sombong. Gak mau berbaur.

Salah seorang teman juga bilang bahwa “JIKA ADEL TERUS MENERUS KAYAK GITU, MAU KERJA DIMANAPUN JUGA TETAP SAMA AJA”
Baiklah. Aku sudah mengganggap dia teman yang baik. Tapi cukup ku ketahui, dia telah membicarakanku di belakang.


Padahal, aku sama sekali gak pernah menjelek-jelekkan dia kepada siapapun.
Beruntung aku tidak mempercayainya sebagai teman curhat. Cukup teman biasa saja.
Sebuah tekad yang kuat dalam diriku yaitu bekerja harus bermanfaat untuk orang lain. Bukan bekerja di lingkungan yang banyak mudharatnya. 

Pendapatan besar jika lingkungan seperti itu. Tidak akan membawa berkah bagi diriku sendiri. Seperti racun yang bisa menjalar ke tubuh.
Aku tidak mau seperti mereka. Jadi diriku sendiri. Selagi tidak merugikan orang lain.
***
Di Rumah Sakit ini, aku bisa berbaur cepat dengan rekan-rekan kerja. Mereka amat baik-baik. Terutama orang-orang manajemen yang pegawainya banyak terdiri dari ibu-ibu. Mereka welcome sekali. Sifat pasti berbeda-beda. Namun aku bisa menyesuaikan.
Mereka gak ada yang berkata kasar, ataupun Bossy. Apalagi sampai memaki bawahan seperti : Tolol, bego atau otaknya ditaro dimana?. Gak pernah melempar barang ataupun menggebrak meja.

Alhamdulillah etikanya baik-baik. Menunjukkan manusia yang berpendidikan.
Sekali lagi, doa dia tidak akan pernah benar.
Aku sudah membuktikan, bahwa Alhamdulillah aku tidak pernah kesulitan beradaptasi dengan rekan kerjaku disini. Diriku tidak mengalami masalah sosial. Melainkan dulu, lingkungan yang tidak baik sangat tidak membuatku nyaman dan banyak mudharatnya sehingga aku lebih banyak “diam”.

Allah akan segera membalikkan doa itu kepada sang “pengujar”. Sebagaimana dia tidak lebih baik daripada orang yang sudah ia dzalimi.
Semoga hatinya segera terketuk, karena beberapa orang telah tersakiti akibat lidah tajamnya.

Hal ini ku dengar dari beberapa rekan yang sempat berbagi ceritanya kepadaku. Yang masih ada sangkut pautnya dengan dia.


Hati-hati dengan lisan. Semoga Allah senantiasa menegurnya dan memberikan pelajaran sehingga dia berhenti menyakiti hati orang lain dengan mulut tajamnya.


Picture source : google.com

By :
Free Blog Templates