Saturday, 28 March 2020

Rongga yang Terisi




Rongga yang merupakan suatu tempat “sesuatu” untuk keluar masuk. Tanpa pintu. Tanpa sanggahan.
Namun dibagian depannya ada “Rem”. Untuk menentukan mana yang bisa masuk?
Bisakah kau menebak? Apa yang sedang kubicarakan? Melalui  layar yang tadinya putih bersih ini kemudian sekarang tidak lagi.
Oh maaf kalau terlalu berlebihan, tapi sungguh menulis bukanlah hal yang mudah. Coba saja kau rangkai satu kalimat, yang menunjukkan suatu gagasan, atau apapun yang ingin kau sampaikan. Menulislah. Mulai sekarang, mulai hari ini.
***
Hai bagaimana kabarmu? Sungguh baikkah?
Semoga kau, kau dan kau-kau yang lain baik-baik saja ya.
Aku lupa? Sungguh tidak akan pernah. Tidak perlu seisi dunia tahu bahwa, dulu kau pernah jadi bagian dalam rongga ini.
Rongga yang dulu sempat terisi.
***
Ragu, tidak yakin, mencoba berkali-kali untuk membuka rongga ini, satu, dua, tiga orang yang mencoba mengisi. Namun tiada satupun diantaranya yang berhasil benar-benar menetap.
Sebelumnya, satu orang berhasil menetap. Kala itu tahun 2017. Bersemi dihati namun sebenarnya kosong.
Siapa yang kosong? Dia.
Dan siapa yang bodoh? Saya. Tepat sekali
Bagai bunga yang layu dan mati karena tidak dijaga oleh pemiliknya.

Kau tahu bucin? Iya itu aku. Dulu. Aku geli, ingin memaki diriku sendiri. Wanita yang senang dengan type lelaki pendiam, tapi tidak jago menerawang respon laki-laki itu sendiri.

Terima kasih. Kalau aku tidak bodoh, aku tidak akan pernah belajar. Kalau gak pernah dapat nilai jelek, aku tidak akan pernah ada keinginan untuk memperbaiki.
***
Setelahnya, seseorang mencoba masuk lagi, kali ini. Mempunyai kesamaan hobby, tapi jujur, tidak  ada sedikit pun perasaan yang berbeda. Murni, hanya ingin berteman saja, tidak lebih.
Walaupun kasihan. Tapi… lebih kasihan lagi kalau dia tidak tahu bahwa aku sama sekali tidak mencintainya.
Jujurlah. Walau menyakitkan.
Terakhir…. Seseorang yang baik sekali hatinya, namun sangat kusayangkan. Lagi-lagi aku tidak bisa membalas perasaannya. Beberapa kali, ku mencoba membuka hati untuknya, namun nihil, tiada chemistry sama sekali.
Aku membuatnya mundur. Maaf. Tapi ini harus. Kejarlah dia. Dia yang tulus menerima dirimu. Tapi bukan aku. I’m sorry.
Sungguh sulit sekali rongga ini terisi lagi dan ada yang menetap disini. Di relung hati seorang wanita yang keras kepala, dan banyak keinginan serta cita-citanya.
***
17 April 2019.

AM. Begitulah inisial namanya.  Apakah kau pikir aku menyukainya? Santai dulu saja.  Awalnya tidak. Tidak sama sekali. Hanya berteman biasa. Via chat.
Good man, asik, sedikit pendiam.
Tidak banyak hal yang bisa aku deskripsikan tentang dia saking sulitnya untuk diungkapkan. Apakah dia pria selanjutnya yang mengisi rongga ini?
Tidak kepikiran sama sekali, aku hanya mengganggapnya “teman”, tanpa berharap sedikitpun untuk menjadi “lebih”.
Karena rongga ini sudah terbiasa beradaptasi dengan lawan jenis sampai ku bosan sendiri. Bahkan kalau keluar masuk lagi, it’s ok. Mungkin dia bukan yang terbaik.
Sudah terbiasa sendiri lebih baik.

Tapi…… tidak disangka-sangka si mas AM ini, berani sekali mengungkapkan kata-kata yang tidak biasa.
Yang tidak pernah diucapkan oleh laki-laki sebelumnya.
Pertemuan ke-3 : “De, aku mau serius sama kamu”. Aku masih biasa saja, dan menanyakan apa maksudnya. Dia menjelaskan, ingin mempunyai hubungan khusus, lebih dari sekedar teman dan serius untuk merencanakan masa depan bersamaku.

Wow, dalam hati “gerak cepat sekali ini mas AM” Aku sampai bingung, padahal aku belum mencintainya, perasaanku masih dalam level tertarik saja.
Jawabanku IYA. Dan kami pun sepakat untuk menjalin hubungan lebih dalam, mengenal karakter satu sama lain.

Kemudian, selepas lebaran 2019, aku diajak bertemu keluarganya dimana saat itu aku adalah wanita pertama yang berkunjung ke rumah keluarganya.
Tidak lama kemudian, tanggal 02 Februari 2020, mas AM melamarku, sebelumnya dia sudah bilang ke orang tuaku bahwa ingin melaksanakan niat baiknya yang tidak disangka-sangka dalam waktu dekat itu.
Terharu?? Iya. Jujur. Perkenalan yang terbilang singkat, yang sama sekali tidak terpikirkan bahwa dia orang yang pertama kali bilang serius didasarkan dengan tindakan yang nyata.
Orang yang selama ini aku harapkan disetiap doaku kepada-Nya tanpa kutahu sebelumnya.
Ternyata dia. Orang yang sama sekali belum pernah kukenal sebelumnya. Orang yang kucari selama ini.
Rencana beberapa bulan lagi kami akan menikah. Insyaallah.
Semoga dilancarkan sampai hari H.
Kini rongga itu sudah terisi, insyaallah jika Allah berkehendak dia akan menetap selamanya disini. ~~
Apapun yang terjadi dulu, dengan orang yang sebelumnya, aku tidak akan pernah lupa untuk dijadikan pelajaran berharga, jujur sudah move on total, bahkan jauh sebelum aku mengenal mas AM. Terima kasih. Kehilangan itu telah mempertemukanku dengan dia, Mas AM ~~

 (Aku dan Mas AM)

Wednesday, 4 March 2020

Apalah Arti sebuah "TITLE"




Boleh jadi, pendidikan yang sudah kita tempuh selama kurang lebih 3, 4 bahkan 6 atau 8 tahun adalah suatu perjalanan yang amat membanggakan diri ini.
***
Segala permasalahan akademik, tugas mulai dari yang mudah, sedang, sulit, amat sulit, menampar jiwa sampai membuat kita hampir putus asa bisa kita taklukan dengan baik.
Terlewati sudah semuanya.
Andaikan suatu hari, datang suatu niat untuk melanjutkan perjalanan itu sampai ke tingkat yang lebih tinggi lagi, bergetarlah sudah ambisi, ingin mencari ilmu? Atau hanya sekedar title?


Ilmu apapun, merupakan tanggung jawab pemilik untuk diamalkan, dimanapun dia berada.
Namun bukankah itu tidak semudah teori yang sekian detik saya ucapkan?
***
Bekerja di tempat bonafide, dengan gaji yang fantastis adalah impian semua orang, namun tekanan, risiko yang diambil bukanlah suatu hal yang main main pula harus kita terima segala bentuk rupa, jelek beserta tidak enaknya.
Bahkan terkadang tidak sesuai bidang pendidikan.

Enjoy? Tidak jadi masalah. Ilmu bisa diamalkan dimana saja, kepada siapa saja.
Asal yang disampaikan bisa bermanfaat bagi sesama.
Title hanyalah title. Penghargaan dalam bentuk tulisan nama belakang, hasil kerja keras dari bidang akademik.
Bukan soal seberapa banyak sarjana yang pekerjaannya tidak sesuai dengan title, tapi apalah arti sebuah title kalau perilaku  tidak mencerminkan seseorang yang berpendidikan?

Seseorang yang selalu merendah, menghargai orang lain yang  pendidikannya tidak seberuntung kita, tidak mencaci maki.

Apalah arti sebuah title? Kalau ilmunya tidak dibagikan kepada sesama? Rekan kerja? Ingin pintar sendiri.

Apalah arti sebuah title? Kalau hanya pendidikannya saja yang nambah, tapi perilakunya masih kalah jauh dengan orang yang sekolahnya tidak tinggi.

Tiada berarti.


Orang yang sungguh berpendidikan yaitu semakin ia dipuji semakin pula ia merendah, 

Semakin ia dihina, semakin kuat motivasi untuk maju,

Semakin ia dijatuhkan, semakin tinggi rasa ingin membuktikan bahwa ia mampu,

Pemikiran yang cerdas diiringi dengan sikap dan perilaku yang seiring berjalannya waktu semakin membaik.

“TITLEMU BUKAN JAMINAN PERILAKUMU”

Title sarjana, magister, doktor, tidak berarti baik bagi seseorang yang tidak pernah ingin memperbaiki kesalahan, atau tidak peduli dengan sikapnya yang selalu merendahkan seseorang.

ITU HANYALAH TITLE KOSONG~~

Picture source : voxpop.id

Saturday, 7 December 2019

Jauh ~


Sulit dibayangkan pada awalnya. Biasa hidup serba berkecukupan, tanpa kekurangan, tanpa ketidaknyamanan, tiba-tiba harus mengadu nasib di suatu tempat yang terbilang jauh lebih tidak nyaman dari sebelumnya tempat dimana berasal.
          Hei, by the way gimana kabar kalian? Baik – baik sajakah? Sudah 2 bulan aku tidak menulis disitus favoritku. Perjalanan literasi Adelina. Kesibukan bersama pasien, dokumen, dan instalasi gizi membuatku tidak banyak memiliki ruang gerak untuk menuangkan isi pikiran yang sebetulnya sudah lama sekali ingin kusampaikan disini.
Laptop dan buku diaryku juga tidak bersamaku sekarang. Mereka kutinggalkan ditempat yang aman dan anti hilang (insyaallah) yaitu di rumah.
Semua risiko sudah dipikir matang-matang. Bagaimana orang tuaku yang tadinya seperti kurang ikhlas melepasku untuk yang kedua kalinya. Namun aku berhasil meyakinkan mereka, bahwa aku bisa. Dengan tekad yang kuat
***
Awal tahun 2013. Aku harus menuntut ilmu di kota metropolitan yang dunianya berbeda sekali dengan kehidupanku sebelumnya.
Keadaan yang memaksa mau tidak mau harus bisa beradaptasi disana.
Untuk saat ini, mereka harus melepasku lagi. Bedanya pelepasan pertama dan kedua adalah: Apabila pelepasan yang pertama orang tuaku yang memang sengaja mengharuskanku untuk kuliah di luar. Maka sekarang, atas dasar kemauanku sendiri 100%, ingin bekerja di luar.
Jauh…. Ya benar jauh juga dari mereka.
***
Singkat cerita pada awal tahun 2018 aku pernah bekerja sebagai surveyor penelitian kesehatan, kemudian lanjut bekerja di perusahaan perkreditan mobil dan alat berat, then di rumah sakit umum swasta letaknya di kab. Bekasi, terakhir saat ini di rumah sakit ibu dan anak kota Bekasi.
Bukan tanpa alasan aku sudah beberapa kali kerja di tempat berbeda. Melainkan ada sebab yang memang harus diterima serta menuntutku untuk pindah ke tempat lain. Hanya orang-orang terdekat saja yang tahu.
Kuucapkan terima kasih kepada orang tua dan teman-teman yang sudah mendukungku untuk bisa berkembang menjadi lebih baik lagi, baik secara psikis maupun keilmuan.
                                         
***
Beberapa orang bilang “kenapa pindah jauh del? Kenapa ga di karawang aja? Emang gak boros nanti gajinya buat kost dll”.
Segala risiko, sudah dipertimbangkan, artinya aku siap dengan segala konsekuensi yang ada. Harus hidup jauh dari enak, makan seadanya, jarang main atau nongkrong, jarang jajan. Ditekan semua. Insyaallah kuterima dengan hati yang lapang. Tujuanku saat muda ini bukan untuk berfoya-foya atau enak-enakan, melainkan untuk membentuk pribadi yang jauh lebih baik lagi. Bekal untuk kehidupan selanjutnya, menikah, berumah tangga punya anak dan seterusnya.
***
Permasalahan hidup semakin lama kian rumit. Dibutuhkan kesiapan mental yang baik untuk menghadapinya. Maka dari itu, dibentuklah mulai sekarang. Dengan eksplore di tempat baru, menjadikanku banyak tahu sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi/kurasakan.
Masalah semakin hari ada saja.  Dari manapun. Itu yang membuatku bisa belajar sabar, ikhlas menerima, memahami orang lain dan lain-lain.
***
Meskipun harus jauh lagi dari orang tuaku. Aku siap.
Untukmu yang bekerja merantau jauh dari orang tua, semangat. Anda hebat. Bisa melawan ego, bisa tahan rindu. Demi kebaikan dan masa depanmu sendiri.
Lihatlah mereka, orang tuamu dan semua keluargamu pasti bangga, jika dirimu sudah sukses merantau disana.
***
Terlena dengan zona nyaman tidak akan membuatmu berubah. Dia hanya akan menjerumuskanmu lebih dalam lagi.
Jangan tunggu sampai terjadi, jika anda merasa diri anda monoton, segera pikirkan untuk melakukan sesuatu yang baru. Buat hidupmu menjadi sebuah tantangan, tidak hanya begitu-begitu saja.
Sekian dariku. Semoga sukses selalu J

Saturday, 14 September 2019

Banting Terus


Naik, turun, berkelok-kelok, rumit. Tiada yang lebih baik dari sebuah makian maupun hinaan atas kehendak-Nya dengan tujuan untuk menguatkan hati.
Tidakkah terpikirkan? Allah mengirim orang dzalim untuk menambah pahala kita. Lewat perantara orang itu, jadilah pribadi yang bisa berbesar hati serta kuat.
***
Dari judul aja emosional, apalagi tulisannya ya? Hehe. Warning !! Tulisan ini bukan untuk menjelek-jelekkan siapapun, karena penulis tidak mencantumkan nama perusahaan, tokoh dan tempat.
Berisi tentang pengalaman nyata, terutama nih. Untuk freshgraduate yang baru aja mau masuk kerja. Baca basmallah semoga bisa kerjasama dengan bos yang professional dan lingkungan yang kondusif. Jangan pernah takut untuk ambil keputusan yang berlainan dengan prinsip, karena kamu sendiri yang tau apa yang terbaik untuk hidupmu. Langsung aja, detailnya sebagai berikut. Cekidot.
***
“Gimana sih kamu gak ngerti-ngerti udah dikasih tau? Kamu g*blok, bego, otaknya taro dimana?” Tidak hanya sekali, namun tiga kali dia mengatakannya.
Kata-kata tidak berpendidikan itu. Sisanya, kata-kata biasa bernada sinis dan pastinya membuat siapapun disana yang mendengarnya menjadi muak dan geram.
Kata-kata itu terlontar begitu saja tanpa jeda sedikitpun dari perempuan itu.
Terjadi saat aku masih bekerja di salah satu perusahaan finance mobil dan alat berat yang cukup terkenal di Indonesia.
Lantas mengapa? Lima bulan bekerja aku selalu merasa takut, dan seperti ada yang mengganjal. Tapi apa? Mungkinkah karena makian atasan? Atau lingkungan pertemanan yang tidak cocok? Ternyata setelah kutelusuri. Mengganjal bukan semata-mata karena itu. Tapi karena hal lain yang berlainan dengan prinsip hati.
Ya Allah, maafkan hamba yang sok suci ini. Padahal kenyataannya samasekali tidak.
***
Lima bulan bekerja disana bukanlah tanpa masalah. Bahkan hampir setiap hari, ada saja hal yang membuatku “Ya elah, baru juga tenang dikit, kok ada lagi perkara”
Apa? Oh iya seperti janjiku waktu itu. Aku ingin mendeskripsikan jobdeskku selama bekerja disana.
Yaitu mengurus permasalahan STNK dan BPKB mobil. Setiap harinya harus berhadapan dengan hitungan, tak lepas dari komplain pelanggan dengan persoalan berbeda.
Tugasku yang lainnya adalah mengambil BPKB dari dealer dan menginputnya kedalam system aplikasi perusahaan, ppffttt sungguh harus diperlukan ketelitian yang mendalam.
Karena kalau sampai salah, maka aku harus minta acc ke manager perihal maintenance atau perbaikan dari sistemnya. Kemudian diinput ulang.
Lantas, apa yang membuatku berat? Well, setiap pekerjaan pasti ada saja tekanan. Entah dari pelanggan, atasan maupun pihak luar. Seperti delaer. Aku diwajibkan untuk menagih BPKB yang daftarnya sudah masuk di sistem namun belum “in”.
Suatu kebanggan bukan? Bekerja di perusahaan sebesar itu? Namun kebanggan tidak menjadi tolok ukur. Kedamaian samasekali tidak kutemukan disana.
Jika kau berpikir, aku bekerja maunya gak ada tekanan. Ya gak gitu juga. Melainkan,  ada hal lain yang membuatku terganjal seiring berjalannya waktu. Yaitu penawaran jaminan BPKB. Kegiatan tersebut sama halnya seperti kita jualan jasa. Dimana kita menawarkan jasa menjaminkan BPKB ke pelanggan yang nantinya akan jadi pemasukan perusahaan. Dengan pencairan sejumlah sekian dan akan kredit sekian untuk beberapa tahun sesuai kesepakatan.
***
Mungkin bagi beberapa orang enjoy it. Gak ada masalah, fine-fine aja. Tapi aku? NGGA.
Gak tau kenapa, itu bertentangan sama hati. Menawarkan jasa ke pelanggan sama artinya dengan deal pelanggan berhutang berikut membayar bunga ke perusahaan.
Belum lagi, jika pelanggan bermasalah dengan kreditnya sampai lewat tempo. Ditambah dia punya masalah, yang pasti tidak bisa kita maklumi dan saklek “pokoknya kalau lewat tempo kena denda”, dan kalau sudah terlalu lama bisa berakibat fatal yaitu penarikan kendaraan (disita).
Terlebih jika kutahu pasti, dia adalah pelanggan yang dulu sempat aku tawarkan. Sampai kehilangan hartanya, memohon kepada kolektor minta dikasih waktu lagi. Aku gak sanggup dengar itu semua. Kalau kau pikir aku lebay, terserah. Tapi yang jelas, itu bukanlah inginku. Walaupun dapat bonus lumayan, tapi tetap, hati berbicara begitu. Yasudah mau diapakan lagi.
***
Loh kemudian, kenapa aku harus ikut campur dengan penawaran kalau pekerjaanku hanyalah sebagai admin?
Karena, bagi perusahaan itu adalah sumbangsi. Memang bukan jobdesk utama, tapi yakali. Ga enak juga kan udah kerja lama disana tapi belum bisa dapet pelanggan. Ada sedikit minder juga.

Lebih baik, mencari pekerjaan yang jauh dari penawaran peminjaman. Karena aku gak ahli dibidang itu, gak sampai hati pula. Belum lagi jurusanku yang sangat jauh dari pekerjaan itu.
Lebih suka kerja happy, bisa bermanfaat untuk orang lain, walaupun harus dari bawah lagi.
Terutama secara keuangan, yang kucari adalah berkah, nominal bisa didapat dari mana saja.
***
Balik lagi ke judul “banting terus”. Hati digeber denger cacian yang membuatku sangat muak.
Pernah saat itu, salah seorang bosku membuat suatu perjanjian yang awalnya aku kira cuma main-main atau bercandaan aja. “Siapa yang gak dapat pelanggan dalam waktu sebulan, maka wajib teraktir di sebuah restoran”. Gak usah disebutin lah ya, yang jelas disana mahal, apalagi buat makan 5 orang (1 team).
Restoran jepang, masak sendiri disana, kalian pasti tau lah resto apa itu. Waktu, aku cuma ketawa-ketawa aja, gak bilang setuju atau iya.
Tapi anehnya, setiap briefing, dia selalu mengingatkan perihal teraktiran itu. Ya aku, diam aja, karena memang dari awal nyangka it’s just a kidding. But that’s not like that.
Dia menegaskan kalau perjanjian itu gak main-main, melainkan sanksi untuk efek jera. Biar semangat buat dapat pelanggan.
Well, itu bukan sanksi yang baik. Karena termasuk kedalam pemerasan, jadi orang berlomba-lomba nawarin jasa biar gak neraktir gitu? That a f*ck idea for the new employee like me. Itu yang dia mau. Dia selalu bilang kayak gitu, sering. Mungkin hampir tiap briefing. Neraktir orang gak perlu ada sanksi begitu, kalau ada rezeki juga pasti royal kok. Tapi gak ditempat mahal juga, itu gak etis banget, kecuali kalo gaji gede banget baru ok.
***
Pada akhirnya jatuh akhir bulan, dia masih tetap nagih perjanjian itu. Aku gagal dapet pelanggan. Mereka puas menertawakan, dan berharap aku segera teraktir.
Okey, pada saat itu juga aku ke ruang manager untuk membicarakan soal “bolehkan seorang atasan, mengadakan perjanjian seperti itu?”. Note: di perusahaan itu gak ada HRD nya (HRD di kantor pusat), jadi kalau ada apa-apa boleh langsung ke manager.
Dia kaget. Dia bilang, “siapa yang suruh?” Kamu jangan mau. Itu pemerasan, gak boleh. Kamu rugi dua kali. Dapet bonus ngga, suruh teraktir pasti mahal banget apalagi makan disana.
Aku cuma bisa bercerita apa adanya tanpa menjelek-jelekkan si supervisor. Karena aku masih menghormati dia sebagai atasan. Sekalian aku mengutarakan niatku untuk resign.
***
Akhirnya si SPV dipanggil manager. Terpancar dari luar, mereka tengah berbincang. Manager orang bijak, gak pernah marah membabi buta, kalau negur baik-baik.
Beberapa hari kemudian. Aku dipanggil sama si SPV. Katanya jangan pulang dulu, mau ngomong.
Oke, and then?
Dia marah, karena aku menceritakan perihal itu ke manager. Sudah kuduga.
Kenapa harus marah? Dia mungkin malu. Gak nyangka, aku berani ngomong gitu, karena apa? Dia terus-terusan seenaknya nagih sambil bilang itu gak main-main, bukan bercanda. Kan gak nyaman banget, masa harus neraktir berlima gitu kan? Udah gitu mintanya di resto mahal lagi. Mendingan juga buat neraktir keluarga sendiri.
Dia marah, katanya cuma bercanda. Loh terus apa maksudnya hampir setiap briefing nagih-nagih? Bukannya dia mampu beli sendiri? Apalagi gajiku ga ada apa-apanya dibandingkan dengan dia.
Tapi dia ngeles, katanya aku licik. Bisa bilang gitu ke manager. Hatiku hampa, udah gak ada rasa teringgung lagi, biasa aja gitu ngadepin dia. Paling cuma geli aja sama perilakunya yang seperti itu. Sudah salah, tidak mau bijak, malah balik menghina.
***
Dia sampai gebrak meja, matanya menatap tajam. Nanya kenapa mau resign. Ya aku jelasin alasannya. Sambil bilang, “mohon maaf bu, ibu kalau sama orang emang sikapnya kayak gitu ya? Suka ngomong kasar? Emang gak bisa bu ngomong baik?” Dia bilang, “itu emang cara saya, orang gak suka ya terserah”. Ok aku rasa, dia emang orang gak mau menerima kritikan, dan masukan. Padahal menghadapi masalah/kesalahan anak buah ga harus pakai emosi. Yang ada orang jadi malas dengernya. Apalagi suka maki-maki, yaampun. Emang ya orang sarjana mau magister, doktor ga menjamin orang itu berpendidikan terlebih secara emosional. Gak bisa kontrol emosi dan enggan belajar menjadi lebih baik.  Yang ada dipikirannya, “Saya Boss!! Mereka harus nurut sama saya” Gak peduli dengan apa yang dialami sama anak buahnya.
Katanya sih buat nguatin mental dia bilang. Halah, tanpa di galakkin juga mental udah terbentuk sendiri dengan adanya tekanan kerjaan, omelan pelanggan dsb. Kalau mau marah, pakai cara elegan, jangan norak.  Mental dijadikan alasan untuk bertindak semena-mena. Belom kalau karyawannya dendam, repot deh urusannya. Untung aku baik hehehe jailah.
***
Detik-detik terakhir, mau resign. Aku ngerjain stock opname. Bpkb berjumlah delapan ribuan. Dan yang bikin aku gak habis pikir itu apa?
Lemburanku gak di acc sama si SPV. Gak tau, apa karena dia dendam. Apa gimana, sampai mempersulit hak karyawan. Bilangnya sih udah acc, tapi pas diliat di system, kok masih nge-gantung? Pas mau protes dia buru-buru mau pergi dan nyalahin katanya aku belum ngajuin. Yasudah cukup tau aja, semoga dia cepet dapet teguran. Aamiin.
***
Tapi bagaiaman pun juga, harus berterima kasih sama manusia satu itu. Karena kalau dia gak gitu, aku pasti masih kerja disana. Gak akan di Rumah Sakit seperti sekarang.
Kalau  terus bekerja disana sudah pasti bakalan terlena dengan uang dan terjerat dengan perasaan  bersalah terhadap pelanggan.
Jangan pernah takut bertindak kalau ada hal yang gak benar, harus berani. Risiko dibenci? Itu biasa. Mudah-mudahan kita bisa jadi orang yang lebih kuat lagi ;) Karena badai akan selalu siap menghadang dimana pun kita berada. 

Picture source : google.com always :D


~~~

By :
Free Blog Templates