Sunday, 27 May 2018

Sering dikira Sombong. Ini Alasan The Silent Reader Sering Mengabaikan Chat Grup.



Mau berangkat ke kampus, kerja atau mau pergi. Grup masih aja ramai. Lagi belajar di kampus, lagi kerja, lagi main. Handphone masih getar-getar. Pulangnya eehh masih belum rampung juga itu bahasan.
Mungkin mereka ini senang eksis digrup media sosial. Tidak ada yang salah. Namun, tidak semua orang suka dengan obrolan chat grup. Bahkan sampai ada yang dinotifikasi (mute) sampai seminggu atau bahkan setahun. Agar, ketika ada chat yang masuk, handphone si Silent Reader tidak bergetar. 
Yang lebih parahnya lagi, ada yang sampai left grup wah mungkin sudah merasa terganggu sekali ya dia.

Disini writer akan review, sebenarnya apa sih penyebab The Silent Reader sering mengabaikan chat grup?

1.  Silent Reader (SR) memang malas membalas chat beruntun yang terkesan seperti “boom chat”.



    Handphone ditinggal sebentar, chat langsung masuk puluhan bahkan ratusan. Jadi, mereka lebih memilih untuk diam, karena mereka memang tidak suka keramaian. Termasuk keramaian getaran handphone :D 
2.  Kebanyakan isinya bercanda. 
Memang tidak ada salahnya untuk bergurau, atau hanya sekedar iseng-iseng “nyepam” di grup. Tapi itu semua tidak berlaku untuk SR. Mereka hanya mau merespons hal-hal penting yang menyangkut diri mereka, itu juga kalau chatnya tidak keburu tenggelam ya. Contoh: “Bulan gimana laporan yang udah diedit kemarin? Ada tambahan lagi ngga? Gue ada tambahan nih. Sini biar gue lanjut, besok kan giliran gue”. Sekian lama, tidak ada jawaban. Bulan hellooo,, are you there?. Akhirnya dichat personal lah si Bulan, baru dibalas. Saking banyaknya chat digrup itu, si Bulan jadi malas membalas hingga mengabaikannya. Jika grup tidak ramai, kemungkinan SR masih mau membalas pertanyaan penting tersebut.

3. Pernah dikacangin/dicuekin digrup. 
Siapa sih yang tidak kesal dicuekin? Udah bales chat, ehh ketimpa sama teman kita yang lain. Alhasil chat tenggelam dan gak dibales-bales. Jadi SR malas deh muncul digrup lagi.

 4. Tidak mempunyai hubungan dekat dengan teman-teman grup. 



Tidak usah jauh-jauh deh. Contohnya aja grup kelas. Mungkin hanya beberapa aja yang dekat dengan SR. Tapi, teman dekatnya SR juga tidak suka tuh gabung-gabung kedalam chat grup. Jadilah, tidak pernah ada percakapan Antara SR dan teman-teman grup deh. Karena, kalau bercanda/komentar digrup rasanya canggung juga, apalagi bukan sama teman dekat.


5. Menghindari konflik/perbedaan pendapat disaat orang-orang sedang berdebat. 
SR yang sebenarnya gregetan juga ingin membalas atau mengemukakan pendapatnya, akhirnya harus dia urungkan lagi deh. Karena kalau situasi lagi panas, SR yakin perbedaan pendapatnya dengan si Tukang Debat (TD) tidak akan pernah ada ujungnya. Jadi, SR lebih memilih diam daripada meladeni TD. Karena masih banyak urusan yang lebih penting ketimbang masalah chat grup.



Jadi, menjadi Silent Reader bukan berarti orang itu sombong ya. Mereka cuma berusaha jadi diri sendiri. Anti ribet dan pusing. Kalau teman-teman ada perlu dengan SR, sebaiknya hindarilah chat digrup. Lebih baik langsung tanyakan sendiri jika sekiranya ada hal penting atau urgent.
Mereka juga butuh privasi dan tidak melulu harus on/membalas pesan digrup :)

Friday, 25 May 2018

Lelah yang diinginkan


   Pagi itu, aku pergi ke Dinas Kesehatan Karawang bersama teman satu tim yang sudah berpengalaman dalam kegiatan penelitian sebelumnya (RISKESDAS 2013). Kami mengurus surat-surat yang harus ditandatangani oleh aparat desa dan pengawas. Sebagaimana mereka menjadi saksi bahwa tim kami benar-benar turun ke lapangan untuk melakukan pekerjaan sebagai enumerator (mewawancara dan mendata status kesehatan warga).

     Banyak orang bilang “Wah hebat bisa kerja di Kemenkes”. Namun sungguh, pekerjaan kami mirip kuproy. Kalau gak tau, itu bahasan tren dari “kuli proyek”. Bekerja untuk proyek negara, dan menjadi posisi yang paling bawah. Diatas enumerator, masih ada posisi supervisor, validator dan lain-lain yang jenjang pendidikannya minimal harus S2.
***
     Lokasi kerjaku yaitu di Cikampek. Lumayan jauh dari rumah. Ada yang di Karawang, tapi Cuma 3 desa saja. Sedangkan 8 desa lain di Cikampek.
1.Lemah Mukti, 2. Bengle, 3. Sukasari, 4. Sukasari (beda RT), 5. Purwasari, 6. Cikampek Barat, 7. Cikampek Selatan, 8. Kamojing, 9. Dawuan Tengah, 10. Dawuan Barat dan 11. Majalaya.
    Itu adalah desa-desa yang kami data, yang awalnya terpilih sebagai sampel Susenas (Survei Ekonomi Nasional) yang diadakan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) di Karawang.
Nah jadi, Riskesdas ini kerjasama dengan Susenas, data-data awal Susenas seperti: status keluarga seperti kepala rumah tangga/istri/anak, cerai mati/hidup, tanggal lahir, sudah menikah/belum dan lain-lain nantinya akan kami gunakan untuk keperluan input data disistem aplikasi yang sudah diinstall pada saat pelatihan. Karena data tersebut penting sebagai data awal untuk memulai sebelum memasukkan data kesehatan selanjutnya. 
     Data selanjutnya seperti lingkungan rumah tangga, kesehatan individu dan lain-lain diinput setelah data Susenas sudah benar-benar valid. Karena kalau ada yang salah, maka seterusnya akan salah dan akan sulit untuk diperbaiki. Maka dari itu, harus teliti/check ulang dalam pemasukkan data awal.

   Kendalanya, ada beberapa rumah tangga yang tidak bisa diwawancara karena pindah rumah/tidak bersedia untuk diwawancara. Hal ini membuat kami harus tepat menyertakan alasan mengapa tidak diwawancara beserta buktinya (tandatangan kepala rumah tangga/foto rumah jika responden tersebut pindah).
Hmm,,, cukup detail ya?
Rumah tangga yang bersedia diwawancara mendapatkan uang (titipan dari Kemenkes) untuk menggantikan waktu yang terpakai oleh kegiatan kami.
***
    Lokasi yang jauh tidak menyurutkan semangatku untuk rajin bekerja. Walaupun harus bertempur dengan medan jalanan yang cukup ramai dengan mobil truk, container dan kendaraan besar lainnya. Sangat lelah karena berangkat berangkat pagi pulang sore/malam. Tapi kusiasati untuk istirahat dan makan teratur agar bisa fokus selama berkendara dan bekerja.
     Alhamdulillah, satu tim yang terdiri dari 4 orang termasuk aku, bisa bekerjasama dengan baik. Meskipun pasti ada masalah tim maupun antarpersonal yang menjadi bumbu pemanis selama bekerja.
      Kekompakan adalah kunci yang paling penting agar seluruh anggota bisa mengerti satu sama lain. Tidak membawa masalah personal kedalam tim dan tetap professional.

   Oh iya, 4 dari 11 desa yang kami data juga mengadakan pemeriksaan darah gratis di Puskesmas/Kantor Desa. Khusus untuk responden yang telah diwawancara dan menyetujui/ttd surat persetujuan bersedia untuk diperiksa darah. Hanya 3 item pemeriksaan aja: hemoglobin, gula darah dan malaria.
    Acara pemeriksaan darah tersebut dibantu juga oleh tim dokter gigi/exnumerator beserta asistennya, dokter umum dan tenaga kesehatan (bidan/perawat).

Pertama, responden mendaftar di bagian pendaftaran. Yang mengurus pendaftaran ini enumerator.

Kedua, warga harus periksa dulu ke dokter umum yang posisinya tepat disebelah meja pendaftaran. Tujuan periksa ini adalah untuk mengetahui adanya penyakit berat/tidaknya yang dialami oleh responden.

Ketiga, kalau dokter sudah mengizinkan untuk periksa darah, maka langsung saja diambil darah oleh tenaga kesehatan. Darah yang diambil adalah dari pembuluh darah vena. Apabila darah yang diambil ternyata hanya sedikit, maka harus diulang sekali lagi. Jika, responden menolak, maka dianjurkan untuk diambil darah kapiler (yang ditusuk dijari itu lhooo). Waktu pengambilan darah juga dicatat oleh enumerator.
      Kenapa harus darah vena yang diambil? Karena nanti, darahnya dimasukkin ke tabung, lalu diproses di mesin centrifuge (mesin darah yang muter-muter). Sampai 10 menit. Terus darah dikeluarin dan diambil serumnya (cairan kuning bening diatas darah yang mengendap) untuk dikirim ke pusat.
Tujuan pengambilan serum ini sendiri gak tau untuk apa heheheee.. yang tau tindak lanjutnya cuma orang pusat aja :D

Keempat, darah responden siap dimasukkan kedalam alat pendeteksi Hb, gula darah, dan malaria. Hasil pemeriksaan dicatat oleh enumerator yang kemudian akan diinput kedalam sistem aplikasi biomedis.
      Sebelumnya, enumerator wajib bertanya apakah responden puasa/tidak? Karena penting untuk pemeriksaan gula darah. Jika responden puasa dan gula darahnya diatas 126 mg/dl maka diwajibkan minum susu khusus diabetes yang sudah disediakan oleh enumerator dibagian pembebanan/pemberian larutan tambahan. Sebaliknya, jika responden puasa dan gula darahnya dibawah 126 mg/dl, maka larutan yang harus diminum adalah gula monohidrat, kayak gula halus gitu (ini rasanya manis banget). Nah, pengecualian nih untuk yang punya riwayat diabetes, mau gula darah puasanya dibawah 126 mg/dl juga tetap dikasih susu khusus diabetes. Karena memang itu prosedur yang sudah diatur dari pusat.
        Tujuan dari pembebanan untuk mengetahui kadar gula darah sesudah minum larutan selama 2 jam kemudian (2 jam post prandial). Nahh,, nanti kalau hasilnya tinggi, responden akan dikasih surat rujukan dari dokter untuk ke puskesmas, karena khawatir ada gejala diabetes yang baru terdeteksi.

Kelima, responden diarahkan untuk melakukan pemeriksaan gigi. Kecuali yang ikut pembebanan. Diwajibkan untuk pembebanan dulu, baru periksa gigi. Setelah itu selesai deh!! Oh iya responden juga dikasih uang loh setelah pemeriksaan selesai. Enak kaaan, udah gratis dikasih uang lagi :D. Heheee… uang itu amanah dari Kemenkes.
***
Seperti itulah pekerjaan enumerator. Capek banget, pusing, harus gesit. Yaa tapi bayarannya juga setimpal. Inilah lelah yang aku inginkan. Lelah yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Menambah pengalaman baru dan mempunyai keluarga baru.


ADELINA RAMADHANI, ENUMERATOR RISKESDAS 2018. 02 APRIL – 08 MEI 2018.

Sunday, 13 May 2018

The Crazy Buddy


Pertama kali ku kenal dia sejak kelas 2 SMA. Siapa yang tidak kesal melihat tingkah lakunya yang begitu “overacting”, pecicilan dan terkesan judes.
Dia tidak lebih tinggi dari aku, berperawakan mungil dan lincah sekali. Namun tidak disangka awal dari pertemanan kami adalah hal yang baik.

Dela Pratiwi. Nama depannya seperti nama panggilku sedari kecil. Aku panggil dia Dela.
 Bernostalgia? Boleh bukan? karena masa-masa SMA adalah masa yang paling indah. Konflik dengan teman merupakan suatu hal yang lumrah. Kalo gak ada konflik gak seru. Hahaaaa :D
Seperti aku dengan dia. Terlibat konflik gara-gara 1 teman laki-laki yang sebenarnya adalah gebetan Dela. Si miss rempong marah karena aku terkesan lebih dekat dengan Surya dibandingkan dengan dirinya.

Perselisihan itu dimulai dari terbentuknya tim drama Bahasa Indonesia yang terdiri dari 7 orang.
Saat itu hubungan pertemanan kami renggang karena kesalahpahaman. Padahal aku samasekali gak suka sama Surya.
Wajar Dela marah. Bagaimana mungkin seseorang rela pujaan hatinya disukai juga sama temannya sendiri? Padahal itu hanya ada dalam persepsi dia saja.
***
Saat itu Stefi jadi penengah perselisihan kami berdua. Berusaha mendamaikan dan memberi nasehat yang baik. Vinda juga. Mereka berdua netral pada kami. Tidak pernah menjelek-jelekkan.
***
Bukan Dela namanya kalau gak cerewet.
Bukan Dela namanya kalau gak lebay.
Bukan Dela namanya kalau gak baperan.
Bukan Dela namanya kalau gak berani.
Bukan Dela namanya kalau gak royal sama teman.

Bukan Dela namanya kalau tidak bisa mendengarkan keluh kesah sahabatnya dengan khidmat.
Cewek yang pemberani. Berani terus terang jika aku salah. Berani membelaku mati-matian saat disakiti orang lain. Rela menanggung malu demi memarahi orang yang telah menyakitiku. Tidak peduli apapun perkataan orang. Bersedia dengerin aku curhat sampai dini hari.
***
Singkat cerita Dela pernah memarahi temanku karena sudah bersekongkol menjadikanku sebagai taruhan apabila salah satu dari teman-temannya berhasil dekat denganku dan juga mengajak jalan. Tapi sialnya aku menolak mereka semua. Tapi Dela tetap kesel karena emosi gak terima aku dijadikan taruhan.

Saat orang lain menghakimi dia lebay, ataupun yang jelek-jelek. Aku gak peduli.
The real best friend is orang yang gak akan pernah ninggalin ketika sahabatnya dijauhin orang lain dan gak pernah nusuk dari belakang.
Tanya sebabnya apa. Dengarkan keluh kesahnya. Kalaupun semua salah dia. Kita wajib kasih masukan dan saran. Jangan dijudges apalagi ditinggalkan.
***
Cerita lagi.
Kau tahu? Aku bahkan tidak pernah merayakan surprise ulang tahun atau hias-hias kamar dengan sahabat-sahabatku. Cukup diucapkan selamat dan doa itu sudah membuatku senang karena mereka ingat.
Persahabatan tidak diukur dari seberapa sering bertemu, intensitas mengobrol dan materi.
***
Maaf kalau tulisanku kepanjangan yaa heheee… tetaplah jadi diri sendiri… gak usah pedulikan perkataan orang lain yang membuatmu minder…
Sahabat kamu lebih tahu siapa dirimu. Mereka hanya lihat dari cover tanpa tahu isinya.


Friday, 11 May 2018

Paradise in Bandung

Aku berangkat ke Bandung naik bus bersama teman-teman calon enumerator. Tidak perlu waktu lama untuk beradaptasi dengan mereka. Alhamdulillah mereka baik-baik dan welcome.

Sesampai di Hotel Ibis Trans Studio Bandung, aku dan teman-teman langsung menarik koper ke lobby hotel dan naik keatas untuk registrasi.
Semangat kami begitu menggebu-gebu, seolah ingin menyambut sesuatu yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak senang. Kami menginap di hotel sudah dijamin semua biaya tanpa pungutan sepeserpun. Hanya membawa uang saku saja untuk jajan diluar.
***
Kami sudah dibayar mahal-mahal disini, otomatis harus mematuhi setiap peraturan dan belajar sungguh-sungguh untuk persiapan turun lapangan.
Sungguh bermanfaat sekali kegiatan disana itu. Aku sekamar dengan temanku namanya Rizky. Jangan salah paham ya. Dia itu perempuan lhoo hehe. Ketika ada kesulitan dan masalah, selalu berbagi dengannya, bercerita bahkan kami tidak segan-segan saling meledek hanya untuk melepas kepenatan sejenak sepulang dari pelatihan.

***
Pada saat pelatihan, kami (calon Enumerator Karawang) sekelas dengan calon Enum Kabupaten Bogor. Aku banyak kenalan dengan orang Bogor, bahkan bisa ketemu dengan dosen dan teman satu angkatan di kampus Uhamka.  
Senang sekali bisa menjalin silaturahmi dengan mereka.

***
Materi yang dipelajari saat pelatihan adalah teknik wawancara, bagaimana cara bertanya yang baik dan benar tanpa membuang-buang waktu.
Pertanyaannya meliputi lingkungan kesehatan rumah tangga, status kesehatan individu: riwayat penyakit menular (Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA),  radang paru-paru, tuberculosis, hepatitis, diare, kaki gajah dan malaria) serta penyakit tidak menular (asma, kanker, kencing manis dan jantung), seputar kesehatan jiwa, kebersihan gigi dan masih banyak lagi.

Materinya cukup banyak dan memang itulah yang harus ditanyakan ke masyarakat. Tapi harus bisa menghemat waktu juga. Yang paling menantang adalah enum harus bisa menggali setiap informasi yang diberikan masyarakat sampai menemukan jawaban yang tepat.
Selain itu, enum juga belajar praktik pengukuran tinggi badan, berat badan, Lingkar Lengan Atas (LILA), lingkar perut dan memeriksa tekanan darah (tensi darah) tentunya dengan cara yang benar dan akurat.

Setelah mempelajari semua teknik, kami turun ke desa yang dekat dengan hotel untuk mempraktikan semua yang dipelajari dari wawancara sampai pengukuran. Alhamdulillah semua lancar….

Tapi yang bikin aku deg-degan adalah ketika mewawancarai ibu rumah tangga yang kena penyakit tuberculosis. Aku tidak menyadarinya. Baru sadar setelah diberitahu temanku yang sudah membaca surat dokter ibu tersebut.
Pulang dari sana kami langsung minum susu untuk daya tahan tubuh. Pppftt … ada-ada saja….
Seperti itulah kegiatanku selama pelatihan di hotel.

***
Pertama kali menginjakkan kaki di hotel Bandung menurutku adalah “paradise for a while”. Bisa makan enak, banyak buah-buahan, berbagai macam minuman. Kalau kalian berpikir aku norak tidak apa-apa. Toh, memang benar baru pertama kali aku menginap di hotel dan dijamin semua biayanya. Sungguh pengalaman yang mengesankan. Semoga dilain waktu bisa mendapatkan pengalaman berharga lagi.

Mimpi yang Tertunda


Dear pembaca setia blog Adelina, maaf untuk kekosongan dibulan April kemarin. Si penulis sibuk sekali menjalankan tugas negara yang bisa terbilang luar biasa lelahnya mulai dari tanggal 2 April hingga 8 Mei. Tapi sungguh, lelah itu tidak akan pernah sia-sia. Aku suka bekerja. Sekalipun kerjaanku kemarin lumayan berisiko bagi seorang perempuan. Mengenai pekerjaanku, akan kuceritakan nanti setelah cerita ini.
***
Pengumuman itu tidak membuatku galau samasekali. Entah. Tapi, aku berpikir mengapa aku bisa kalah dari mereka? Dari lulusan D3. Ya, aku tidak lulus tes di salah satu RS Tegal, Jawa Tengah. Bagaimana mungkin semua lulusan S1 gizi tersingkir oleh lulusan D3? Bukan hanya aku saja, tapi temanku yang tinggal di Tegal juga bernasib sama.

Mungkin, dari segi kemampuan/skill jelas mereka lebih unggul. Selama kuliah umumnya lulusan D3 lebih banyak praktikum dibandingkan S1, mungkin itulah salah satu pertimbangan pihak RS. Ingin mempunyai karyawan yang skillnya bagus tetapi gajinya juga bisa lebih rendah. Karena jenjang pendidikan juga sangat menyesuaikan gaji.
***
Aku tidak pernah mau putus asa. Selalu kulakukan upaya untuk mencari pekerjaan lain. Apapun. Bahkan tidak sesuai dengan pendidikanku juga tidak apa-apa. Aku sudah malu sekali kalau harus terus meminta uang pada orang tuaku, karena tidak ada pemasukan setiap bulan. Akhirnya aku mencoba ikut seleksi untuk menjadi Enumerator Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018. 

Apa itu enumerator? Yaitu orang yang membantu kegiatan survey di lapangan seperti wawancara dan pengumpulan data-data lain untuk kepentingan penelitian.
Riskesdas ini adalah sebuah penelitian kesehatan yang diadakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) dibawah naungan Kementrian Kesehatan (Kemenkes). Kegiatan ini hanya dilakukan 5 tahun sekali. Jadi sangat beruntunglah aku apabila bisa gabung dalam penelitian ini.

Persyaratan yang harus dipenuhi adalah minimal D3/S1 semua lulusan kesehatan. Aku tidak ragu untuk mendaftar. Alhamdulillah pertengahan Februari melamar, seminggu kemudian aku dipanggil untuk test di Dinas Kesehatan Karawang yang lokasinya tidak jauh dari rumahku. Saat itu aku hanya bisa berdoa agar dikasih kesempatan untuk mengikuti kegiatan itu.

***
Tidak lama setelah tes, 3 hari kemudian aku dipanggil tes di salah satu RS Karawang, Alhamdulillah. Semoga bisa menjadi awal yang baik.
Kau tahu mimpiku? Yaitu bisa mengamalkan ilmuku di RS, bertemu dengan pasien, mengatur  makanan, menghitung kebutuhan zat gizi, walaupun “katanya” gaji tenaga kesehatan di RS itu kecil tapi aku masih tetap ingin sekali bisa bekerja menjadi Ahli Gizi di RS.

Seketika saat itu, aku mengalihkan doaku dari menjadi enumerator ke ahli gizi. Apabila aku diterima jadi ahli gizi di RS dan menjadi enumerator, aku akan lebih memilih jadi ahli gizi di RS. Meskipun gaji enumerator jauh lebih besar dibandingkan dengan ahli gizi di RS.
***
Allah berkehendak. Kun Fayakun. Sudah 3 minggu aku sangat menantikan kabar dari RS ternyata kabar baik itu tak kunjung datang. Sepertinya, lagi-lagi aku kalah dengan lulusan D4 gizi. Pada saat itu aku test hanya berdua. Aku hanya bisa menyimpan mimpiku dalam-dalam sebelum nanti jadi kenyataan.
Namun, Allah sediakan gantinya. Aku terpilih menjadi Enumerator Riskesdas 2018 dan kemudian wajib mengikuti pelatihan selama 9 hari di Bandung. Syukur Alhamdulillah. Aku senang, akhirnya bisa memulai suatu pengalaman baru.

Thursday, 8 March 2018

Duniaku adalah Kamu

Setiap orang mempunyai kesukaan yang berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksakan atau menyuruh orang lain berperilaku/berbicara seperti apa yang kita inginkan. Belajar menghargai dan memahami memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Seringkali kita merasa bahwa pendapat kita adalah yang terbaik. Mungkin saja benar, tapi ada kalanya kita harus mendengarkan, bukan hanya ingin didengar. Sebab Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut yang berarti bahwa kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Aku memang suka menulis, walaupun bukan penulis. Hanya mencoba untuk berbagi pengalaman. Menurutku, menulis apapun bukan suatu masalah selama masih ingat norma dan tidak melanggar hukum. Contoh: pencemaran nama baik dan SARA.
Referensi menulis yaitu dari membaca, seringkali kita merasa ingin menulis sesuatu tapi bingung harus mulai darimana. Bagaimana menggunakan kata-kata yang tepat untuk dirangkai sehingga terbentuk sebuah narasi yang mudah dipahami semua orang. Dengan banyak membaca, maka semakin banyak kosakata yang kita dapat serta menambah ilmu dan wawasan.
Untuk dirimu yang tidak menyukai tulisanku, terima kasih. Beribu terima kasih lagi jika kau mau memberikan kritik dan saran, bagian mana yang tidak kau suka. Tapi jika tidak berkenan, kau juga bisa mengabaikan tulisanku dan tidak usah mengklik situs blogku lagi. Hehe. This life so simple right? Jangan dibikin ribet okay, apalagi sampai dibuat nyinyir atau gossip.
Bagi yang menyukai tulisanku, alhamduillah, terima kasih. Yaa aku berharap, pembaca juga bisa memberikan kritik dan sarannya atau mengungkapkan apapun setelah membaca tulisan-tulisanku ini.
***
            Ini menyangkut perubahanku. Tadinya tidak suka membaca, lama-lama jadi ketagihan dan betah membaca berjam-jam. Semua berawal dari …. kusebut saja tidak apa-apa ya. Buku Tere Liye yang berjudul Tentang Kamu. Aku membelinya pada bulan Februari 2017. Buku dengan ketebalan yang phew… tebal sekali sekitar 500’an lembar. Buku itu membuatku excited, bawaannya pengen terus baca, padahal aku belum suka membaca, maksudnya belum banyak baca buku. Tapi aku nekat membeli buku setebal itu, entah ada bisikan apa yang menuntun tanganku untuk bergerak memilih buku itu. Ternyata tidak sedikit pun menyesal, karya Bang Tere tuh jempol!! Thanks Bang! Awal kegemaranku adalah bukumu :D
            Aku membacanya dikala waktu luang, dan saat itu aku masih kuliah dalam tahap proposal skripsi, semester 7. Sembari memanfaatkan waktu saat menunggu dosen di kampus atau hanya sekedar membacanya di dalam bus atau dimanapun ketika lagi kosong, aku selalu membacanya. Hingga buku tersebut berhasil kutamatkan selama 5 hari. Menarik ceritanya, bahasanya pun mudah dipahami.
            Dilain waktu, aku ketagihan untuk membaca buku lagi, namun aku penasaran dengan buku yang lebih menantang. Yaitu tentang misteri semacam detektif atau berbau kriminal.
Sehingga kuputuskan untuk pergi ke toko buku nan terkenal di seluruh Indonesia itu, hanya untuk melihat berbagai macam buku misteri. Pandanganku tak lepas dari buku karya Sir Arthur Conan Doyle. Beliau menulis banyak buku detektif dan aku langsung membeli 2 novel detektif yang terkenal di Eropa. Sherlock Holmes. Aku juga menyukai asisten Sherlock Holmes “Dr. Watson” yang karakternya sungguh sangat aku dambakan: seorang dokter, cerdas dan cekatan.
***
Kesukaan membacaku itu berlanjut sampai sekarang. Terus saja aku membeli buku-buku lain, mungkin bisa dibilang aku ini seorang kolektor buku novel karena jumlahnya cukup banyak. Sampai bingung harus menyimpan dimana lagi karena sudah penuh sesak dengan barang-barang yang lain. Tidak hanya buku misteri, buku pelajaran hidup, kisah cinta dan artikel-artikel apapun yang ada di internet juga kubaca. Aku lebih senang membaca buku daripada internet, karena mataku sakit kalau harus terus-menerus melihat ke layar dalam waktu yang lama.
Perasaanku saat membaca seringkali terbawa suasana. Penulis buku memang hebat yaa, bisa membuat pembaca jadi merasa masuk ke dunia dalam buku itu. Contohnya saja Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea. Aku sudah membacanya bulan Juni 2017, jauh sebelum filmnya tayang dan menurutku Dilan itu bagus sekali. Apresiasi untuk Ayah Pidi Baiq yeaay!! Temanku bersedia meminjamkanku ketiga seri buku Dilan, dan aku membacanya dengan sangat antusias, selesai dalam 3-5 hari untuk 1 buku.
***
Mungkin banyak orang yang merasa membaca itu membosankan. Tapi bagiku menyenangkan. Aku suka membaca bukan berarti aku tahu segala hal. Justru semakin sering membaca, aku semakin merasa kurang pengetahuan. Kelemahanku, aku tidak begitu tertarik dengan topik berbau sains atau ilmu pengetahuan. Walaupun kalau ada bukunya aku masih mau membaca sedikit. Tapi tetap saja aku lebih tertarik untuk membaca buku yang dirangkai dengan kata-kata yang mudah dipahami.
Mungkin salah satu penyebab tidak begitu tertarik dengan buku pengetahuan karena bahasanya yang tidak bisa langsung dipahami oleh banyak orang. Karena dalam buku tersebut banyak kata-kata asing, atau bahkan kita harus mencari tahu dulu kata-kata itu melalui internet dan itu juga belum tentu langsung paham. Harus benar-benar konsentrasi dan telaten.
***
Pantas saja ya orang yang kuliahnya sampai kejenjang tinggi: S2 atau S3 itu sangat banyak hafalan teori dan mungkin tidak diragukan lagi dari segi intelektualnya. Lah wong mereka aja belajarnya buanyaaak banget. Bukunya juga segudang. Apa lagi penelitiannya belum ujiannya, tesis dan disertasi (S3). Semakin tinggi jenjang maka semakin harus banyak belajar bahkan harus terus lebih keras. Aku saja yang S1, pusing banget skripsi. Bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang baik juga sudah sangat bersyukur.
Yaaa sesuai dengan judul, duniaku adalah kamu kegemaranku: membaca dan menulis. Judulnya agak menipu sedikit ya hehehe kamunya itu ternyata hobbyku sendiri :D Walaupun bukan orang yang pintar dan bukan penulis juga, namun aku punya hobby yang bisa membuatku senang, serta bisa mengisi waktu luangku. Plus murah dan tidak ribet hehehe, karena kalau lagi tidak memiliki rezeki lebih, aku masih bisa membaca artikel atau buku digital dari internet dan kalau tidak malas bisa juga sambil main ke kampus terdekat dari rumah  hanya sekedar numpang membaca hahaaa walaupun aku sendiri belum pernah main ke perpustakaan sana.

Sunday, 4 March 2018

Segarnya Rujak Kuah di Siang Bolong

     Iseng-iseng buka kulkas, taraaa!! Nampaklah sebuah nanas ukuran besar yang sedang berbaring di dalam kulkas bagian tengah. Sudah berhari-hari buah yang kaya vitamin C itu dicuekin, gak diapa-apain. Ehh selain nanas ada rambutan juga nih lagi nganggur. Nah, daripada kelamaan dianggurin mendingan diolah. Mumpung lagi panas-panasnya nih cuaca. Terik banget di siang bolong.

      Tadinya sih, aku pengen makan buah nya utuh-utuh aja gitu, gak usah dirujak. Tapi mamahku pengen rujak kuah tuh dan bumbunya gampang banget! Aku belum pernah bikin sendiri sebelumnya. Seringnya tinggal hap! Langsung makan aja :p Tapi waktu kemarin, aku diajarin mama sekilas cara membuat bumbunya. Sekali eksekusi langsung berhasil. Alhamdulillah! :D
Yuk langsung simak aja cara membuat Rujak Kuah nan segerrr banget ini.
Bahan buah :
- Nanas 1 buah
- Boleh ditambah buah lain seperti: mangga, rambutan atau buah yang asem-asem. Bebas.

Bahan bumbu :
- Cabai rawit jawa 15 bh (kalau mau pedas banget bisa ditambah lagi, kalau gak mau, ya  
   dikurangin aja)
- Terasi 4 jumput (cubitan) atau sesuai selera
- Garam secukupnya
- Gula merah 2 bh
- Gula pasir 4 sdt
- Air mineral 4 gls belimbing
- Lemon ½ bh

Cara membuat :
1.Potong buah nanas dan kupas rambutan. Keluarkan bijinya. (Kalau gak mau ribet gak  dikeluarin bijinya juga no problem).
2.Rebus gula merah dan gula pasir. Diamkan hingga larut dengan sendirinya.
3.Sambil menunggu larutan gula larut. Haluskan cabai rawit jawa, terasi dan garam. Disarankan selalu dicicipi supaya jika ada kekurangan rasa bisa diatur.
4.Ketika larutan gula sudah larut, aduk rata. Matikan api. Diamkan hingga dingin.
5.Tuangkan larutan gula ke wadah yang berisi buah. Masukkan bumbu yang sudah dihaluskan. Aduk rata. Tambahkan perasan lemon. (Bisa pakai asam matang juga)
6. Dinginkan dalam kulkas.

Jadi deh !!!

Udah gitu aja bikinnya. Gampang banget kan? Rasanya.. wuih seger banget dan pedasnya juga mantap! Selamat mencoba dan mengkonsumsi rujaknya dengan penuh nikmat panas-panas terik di siang bolong yaa !! ;)

Gumoh/Muntah pada Bayi? Jangan disepelekan!

      Gumoh/muntah pada bayi atau bahasa medisnya itu Gastroesophageal Reflux (GER) memang bukanlah suatu hal yang aneh lagi bagi para ibu. Namun, jika dibiarkan saja, tentu dapat menyebabkan penyakit yang serius lhoo.

     Gumoh/muntah ini sebenarnya terjadi karena isi lambung bayi (ASI atau susu yang telah diminum) mengalir ke esophagus (kerongkongan) bisa dengan muntah atau tidak. Pada bayi sehat, gumoh hanya berlangsung selama <3 menit dan terjadi setelah makan. Bisa sedikit atau tiba-tiba.
     Nahh, tapi pada kondisi penyakit atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), ada beberapa gejala yang bisa dilihat yaitu :
  •    Muntah berwarna kuning/hijau bahkan bisa ada darah.
  •   Berat badan susah naik
  •  Susah makan
  •  Ada masalah pernapasan/batuk kronik (terjadi dalam waktu menahun)
Sedangkan, pada anak-anak atau remaja akan merasakan heartburn (rasa panas di dada, dan bisa sampai kerongkongan). Gejalanya juga sama tuh seperti bayi, tambahannya yaitu: sering merasakan ada makanan/cairan di belakang mulut, sering sakit perut/dada serta sakit ketika menelan dan batuk. Ilmu tambahan nih hehee..
Don’t worry. GERD ini bisa diatasi dengan perubahan gaya hidup, obat dan tindakan bedah (wah ini sih kalau udah parah ya).

Tapi… lebih baik lagi kalau kita mencegah .. karena mencegah lebih baik daripada mengobati betul?
Nah cara mencegahnya gimana?
1. Menghindari pemberian makan berlebihan. Sebaiknya makanan diberikan dengan porsi kecil tapi sering.   Atau bila perlu mengentalkan tepung beras/maizena dicampur susu formula (untuk bayi >6 bulan).
2.  Jangan langsung memberi makan setelah muntah. Tunggu beberapa saat.
3.  Bayi harus dalam posisi tegak setelah makan dan minum selama 30 menit.
4.  Jangan memberi minum dengan botol saat bayi sedang tiduran.
5.  Menghindari pakai celana/popok terlalu ketat.
6. Posisi kepala bayi ditinggikan dengan cara menaruh bantal yang agak tinggi.

Terus, kenapa sih GERD bisa terjadi? Apa penyebab awalnya?

www.google.com
GERD itu terjadi karena adanya gangguan katup sphincter bagian bawah kerongkongan. Katup tersebut sedang lemah sehingga cairan dari lambung bisa merembes naik lagi ke kerongkongan.
Jadi, akibatnya cairan yang naik tadi bisa menyebabkan rasa panas/terbakar di dada dan kerongkongan, karena sifat asam dalam cairan dari lambung itu yang bersifat korosif (merusak).
Jika asam lambung terus-menerus naik, maka kerongkongan bisa iritasi/luka dan bahkan berdarah.

Faktor risiko penyebab GERD yaitu :
1. Obesitas = Timbunan lemak di perut bisa menekan lambung sehingga cairan lambung bisa naik ke atas.
2. Hernia hiatal = Pada keadaan ini, letak katup sphincter dengan diafragma ada di level yang berbeda sehingga cairan lambung mudah naik ke atas. Sedangkan, pada kondisi normal berada di level yang sama, yaitu bisa  mencegah cairan lambung naik ke atas.

Nah yang terakhir ada tata laksana diet buat GERD pada bayi nih.
1. Bayi gak perlu diet (pada bayi yang masih ASI), cukup menghindari minum yang berlebihan. Terus, tetap diperhatikan yaa jangka waktu antara setelah minum ASI dan tidur si bayi ðŸ˜‰
2.Untuk bayi yang sudah minum susu formula, coba tambahkan tepung beras/maizena 1 sdt (senilai 20 kkal) per 30 ml susu formula.
Selagi bisa diatasi dirumah gak ada salahnya dicoba dulu, nanti jika bayi belum membaik juga atau bahkan naudzubillah yaa malah semakin memburuk keadaannya bisa langsung dikonsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Semoga bermanfaat ðŸ˜Š

Sumber:
- - AsDI, IDAI, PERSAGI. (2015). Penuntun Diet Anak. (edisi ke-3.). Fakultas KedokteranUniversitas Indonesia.
-   - www.mediskus.com

Saturday, 24 February 2018

Semua yang Kutanam telah Kutuai

Selesai melaksanakan tugas praktik di Rumah Sakit, ada tugas skripsi yang siap menanti. Aku melaksanakan penelitian untuk skripsi pada bulan Juli tahun 2017 dan hanya berlangsung selama dua minggu. Setelah penelitian, aku segera diskusi dengan dosen pembimbing mengenai hasil penelitianku dan menyusun pembahasan hingga selesai. Sungguh tidak menyangka, aku bisa ikut sidang skripsi gelombang pertama. Tentunya, dengan segala pengorbanan yaitu ketiduran di kereta dan bus karena selalu tidur larut malam, sakit badan serta stress dikejar waktu. Sungguh, ingin mencapai suatu kesuksesan itu memang harus sakit dulu.
***
Tepat pada tanggal 29 Agustus 2017, aku sidang skripsi pukul sepuluh pagi. Dosen yang menilaiku ada tiga, pembimbing I, penguji I dan penguji II. Semua berjalan lancar. Aku dapat menjawab semua pertanyaan dengan tenang dan yakin sehingga dosen tidak menanyakan hal yang macam-macam. Aku dinyatakan lulus pada hari itu juga, tapi ada banyak revisi dari penguji. Tidak apa-apa, yang penting aku sudah lega karena sudah sidang. Pada saat revisi skripsi, aku wajib konsultasi dengan ketiga dosen tersebut dan dosen pembimbing II. Jadi aku harus mendapatkan tanda tangan empat dosen sebagai bukti bahwa revisi skripsiku telah disetujui.

Revisi yang kukerjakan juga tidak langsung disetujui dosen. Ditengah perjalanan revisi, mereka menambah-nambahkan sesuatu yang tidak didiskusikan pada saat sidang. Aku sangat lelah, harus merubah banyak skripsiku sampai lebih dari sebulan. Namun, tidak ada suatu perjuangan yang sia-sia. Meskipun nilai skripsiku tidak sebagus nilai praktik di Rumah Sakit, aku bersyukur nilai IP-ku semester delapan masih bagus. Tetapi, nilai rata-rata IP semester atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang aku raih tidak cumlaude atau diatas 3,50. Meski begitu, aku bersyukur IPK-ku bisa bertahan diatas 3,00 dan orang tuaku sama sekali tidak mempermasalahkan IPK-ku yang tidak cumlaude itu karena mereka tahu betul perjuanganku selama kuliah. Itu memang benar adanya, aku selalu sungguh-sungguh belajar dan tidak pernah main-main.

Seperti itulah kisah dari awal perkuliahan hingga lulus. Cukup berat hati ini selama itu karena harus perang melawan batin, karena segala permasalahan yang kuhadapi saat itu. Mungkin bagi kamu yang memiliki masalah yang lebih berat dariku, akan berpikir ini belum ada apa - apanya. Tapi, sungguh ... Aku lega sudah melewati fase-fase dimana mentalku diasah sedemikian rupa untuk menjadikanku lebih baik lagi.
Aku jadi teringat dengan suatu pepatah.. siapa yang akan menanam, dia yang akan menuai. Aku menanam proses .. proses yang tidak mudah. Menghadapi rintangan, melawan emosi, menghargai teman .. Hasilnya sudah kutuai sendiri. Nilai yang cukup baik, emosi yang bisa kukontrol, ketika ingin marah karena lelah aku masih tetap bisa menahan dan tidak memasukkan kedalam hati. Aku juga akhirnya bisa perlahan menghargai pendapat teman.
Semoga kisah ini bisa jadi pembelajaran untuk pembaca serta pasti banyak hikmah yang dapat dipetik juga dari sini.  

Perang itu --- Belum Berakhir

Selama bertugas memantau pasien, aku mengalami kegagalan sebanyak tiga kali. Pertama, pasien usus buntu gagal dipantau karena pindah ruangan, kedua pasien anemia gagal karena pulang, ketiga pasien tumor usus besar gagal karena penyakitnya terlalu berat dan disuruh oleh AG untuk mencari pasien lain. Rasanya aku mau pulang ke rumah saja ingin menyudahi ini karena lelah sekali sudah dua hari mau selesai, pasien malah pulang atau meninggal.
Aku berharap pasien keempatku ini bisa selesai sampai tuntas. Penyakitnya yaitu Stroke Hemoragic Intracerebral Hematoma atau disebut stroke (pecahnya pembuluh darah diotak) dengan komplikasi DM dan Hipertensi. Jadi, aku memberikannya diet DM nomor sekian dan diet rendah garam serta menyesuaikan Tekanan Darah (TD) pasien termasuk kedalam kategori derajat sekian. Alhamdulillah tiga hari berturut-turut bisa selesai sampai tuntas.
Masih ada perjuangan berikutnya. Setelah selesai pemantauan, aku masih harus konsultasi kepada AG dan ini cukup menguras tenaga dan otak. Aku bolak-balik karena disuruh ganti dietnya, otomatis aku juga harus mengganti angka-angkanya yang membuat laporanku berubah semua sampai halaman terakhir. Namun aku tidak menyerah, kuturuti semua perintah AG. Sampai dimarahi pun aku rela. Justru, aku merasa bersyukur beliau selalu memberi tahu kesalahanku.
Akhirnya, setelah sekian lama laporanku selalu direvisi oleh AG, sampai beliau bilang “Saya bosan melihat kamu lagi, kenapa sih laporannya salah terus? Kamu orangnya kurang teliti, coba perbaiki lagi, saya tidak mau laporannya seperti ini”. Meskipun sejuta kritikan pedas selalu terlontar dari AG, aku tidak pernah memasukkannya kedalam hati. Pada saat presentasi, sepuluh orang AG konsentrasi memperhatikanku, tetapi hanya satu orang yang bertanya. Pertanyaannya tidak susah dan banyak mengandung saran jadi aku dengan percaya diri menjawabnya. Nilai yang kudapat juga sangat memuaskan.

***
Last sekuel = "Semua yang kutanam telah kutuai"

Perang di Kampus dan di Rumah Sakit

Akhirnya, dengan kerja keras, aku bisa sidang proposal skripsi gelombang pertama pada tanggal 8 Maret 2017. Judul proposal skripsiku ditentukan oleh Ketua Jurusan dan sungguh tidak beruntung, judul yang disarankan beliau tidak sesuai dengan keinginanku. Mendalami judul yang tidak kusukai bukanlah perkara yang mudah, aku harus terus belajar mengenai ruang lingkupnya, hingga benar-benar paham sampai bisa merencanakan apa yang akan kulakukan untuk penelitian skripsi. Tugas proposal sudah selesai, masih ada tugas berat lain yaitu Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Rumah Sakit yang cukup menguras tenaga dan otak. Tidak bisa sambil menyelam minum air, kedua tugas itu harus fokus dikerjakan satu-satu.
Tugas yang kulakukan saat praktik di Rumah Sakit yaitu memantau asupan gizi pasien rawat inap. Aku harus mencari pasien yang punya masalah gizi atau asupan makan. Jika sudah dapat pasien, aku harus menentukan diet pasien itu misalnya dia punya penyakit Diabetes Melitus (DM), maka aku harus memberikan diet DM nomor sekian karena dietnya ada bermacam-macam tergantung kebutuhan energinya. Kemudian aku juga harus membuat takaran makanannya sesuai dengan kebutuhan pasien dan masuk ambang batas toleransi. Jika tidak, maka akan salah semua perhitungannya. Pekerjaan yang aku lakukan harus dikonsultasikan kepada Ahli Gizi (AG), agar bisa diberikan masukan dan saran. Lalu aku memantau perkembangan asupan makan pasien selama tiga hari berturut-turut. Jika pasien itu pindah ruangan, dipulangkan dokter atau meninggal, maka aku harus mencari pasien lagi.

***
After this = "Perang itu ... Belum Berakhir"

By :
Free Blog Templates