Friday, 29 June 2018

Tips Aman Bergaul saat Kuliah “Jauh” (Di Luar Kota)

Banyak orang tua yang khawatir anaknya kuliah jauh-jauh ke luar kota apalagi sampai kost segala, terutama anak perempuan.

Waajarrr bangett… Kekhawatiran tersebut ada benarnya juga sih, takut anaknya kenapa-kenapa, belum lagi, kalau tidak terbiasa hidup mandiri. Berasa gak tega orang tua untuk melepasnya.

Nah, bagi yang sudah mencoba untuk out from the comfortable zone. Kalian luar biasa, udah mau mencoba hal baru, adaptasi dengan lingkungan baru dan lain-lain.
Beruntungnya, kalian diizinkan oleh orang tua untuk menuntut ilmu di luar kota dan hidup mandiri disana. Alhamdulillah. :D

Semoga sukses, lulus tepat waktu. Aamiin !!
Aku mau kasih tips supaya pergaulan selama kuliah bisa baik-baik aja. Dalam arti, gak salah gaul/jauh dari pergaulan bebas.

1. Lempeng
Tau lempeng? Bukan makanan yang terbuat dari ketan dalemnya isi abon itu yaa, HaHa. Lempeng disini maksudnya. Netral. Gak usah over kalau bergaul. Maksudnya, kalau ada teman yang ngajak nongkrong, boleh lah sesekali. Karena, penting juga untuk kita tahu karakter teman-teman. Semakin banyak teman maka semakin kita tau. Bahwa kita juga harus menyesuaikan/beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

2. Yang baik ikuti, yang ngga baik jangan!
Semakin banyak bergaul maka semakin kita tahu pergaulan mana yang sesungguhnya memberikan dampak negative/positif terhadap diri kita.
Tentunya kita tau dong, ketika ada teman yang ajak nongkrong, mereka ngajaknya kemana? Apakah cuma ke caffe, mall atau ke tempat” club? Diskotik? Atau nginep-nginep dikosan lawan jenis bareng-bareng?
Nah … pasti udah tau sendiri, jelas banget keliatan yang mana yang harus dihindari.
Kalau udah kepalang mau ikutan, misalkan temannya gak ngasih tau mau kemana. Mending cancel aja deh! Gak usah ikut kalau tujuannya gak jelas. Menolak secara halus aja. Ngeles mau ngerjain tugas atau bersih-bersih kosan atau terserah deh bisa-bisanya kita aja.

3. Teguh pendirian
Ini yang rada susah. Dirayu dikit, jadi pengen ikutan, apalagi diiming-imingi mau dibayarin. Hmm berasa labil antara iya atau tidak.
Disini kita harus bener-bener, tetap teguh dengan pendirian.
Lawan rasa gak enak sama temen. Jangan takut bilang tidak. Ingat sekali kita ikut, misal ke tempat gak jelas. Tau-tau dibawa ke tempat yang gak seharusnya. Contoh: ke rumah teman, ternyata disana ada banyak bir atau ke tempat karaoke yang menyewa perempuan.
Kalau udah kepalang terlanjut ikutan, besok-besok gak usah ikut lagi, atau kalau nekat bisa pergi saat itu juga, pura-pura ada urusan mendadak atau apalah.
Karena sekali kita mau diajak, dan gak bisa nolak, mereka akan terus-terusan ngajak.

4.  Jangan mau kalau diajak hura-hura.
Sering diajak jalan-jalan ke mall, makan-makan di restoran mahal, atau travelling. Itu juga gak bagus untuk kondisi keuangan kita yang masih mengalir dari orang tua. Jika temanmu seperti ini, tolaklah secara halus. Dengan bilang, lain kali aja ya, atau kapan-kapan deh.

5. Jangan mengizinkan teman lawan jenis sendirian main ke kost-an dimana kamu juga sendirian disana.
Selain mengundang fitnah, ketauhilah ini juga bisa memudahkan setan untuk melancarkan aksinya. Hhaha. Ehh bener serius loh.
Dilarang berdua-duaan apalagi di tempat tertutup, kalau dirasa penting mau nugas ya jangan berdua, ajak teman lain. Atau kalau gak ada temen lagi bisa di ruang tamu, atau lebih aman diluar aja misal di caffe, perpustakaan atau banyak tempat nyaman yang lain kok.

6. Jangan mau ikut pengajian yang gak jelas
Bagi yang pernah ditawarin ikut pengajian tapi gak jelas. Bukan kegiatan dari kampus. Aku saranin banget jangan mau!
Pernah anak temen papaku, ikut suatu pengajian yang gak jelas, tau-tau dia jadi berubah. Pulang ke rumah minta uang terus. Gak jelas habisnya untuk apa. Ternyata uangnya dikasihin ke lembaga yang gak jelas itu.
Masih mending cuma uang aja yang habis. Kalau kena pencucian otak gimana? Naudzubillah. Akal, jiwa, akidah semua hilang. Bisa jadi pengikut aliran sesat dan menjadi pembangkang orang tua. Aku berharap semoga pembaca  jangan sampai ada yang kayak gini ya. :”

Seperti inilah tips-tips aman bergaul saat kuliah diluar kota versi aku, karena aku juga dulu pernah kuliah diluar, jauh dari orang tua. Alhamdulillah.. Sampai sekarang banyak banget hikmah yang bisa diambil.

Semoga Allah selalu melindungi kita semua dari kemudharatan. Aamiin..
So kalau kalian punya tips lain sekalian kritik dan saran boleh share di kolom komentar ya :D

Thursday, 21 June 2018

Pertanyaan Maut

Wah masih suasana lebaran ya ini, tepatnya H + 6 Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah. Dari judul, pastinya udah pada bisa nebak kan, aku mau nulis apa? Hehehe …. Kalau ada yang belum tau, tenang aja. Nanti aku uraikan lengkap disini. Apa aja sih pertanyaan maut itu?


Silaturahmi pada saat lebaran memang sudah menjadi tradisi setiap tahun. Baik bagi umat muslim maupun nonmuslim. Libur panjang memang waktu yang tepat untuk mengisi waktu dengan jalan-jalan, ke rumah orang tua atau hanya sekedar me time di rumah aja.

Bagi yang setiap tahun mudik apalagi kayak kita-kita ini yang udah diatas 20 tahun ditanyain kapan nikah? Sebelum itu ditanya, kapan lulus? Berapa IPK-nya? Hahaha. Pengalaman ya? Karena aku juga kemaren waktu mudik ditanyain begitu.

Well itu sebenarnya, bentuk kepedulian atau kepo? Entahlah. Sampai segitunya mereka nanyain perkembangan pendidikan atau hidup kita. Sering kita merasa risih, karena untuk apa ditanya karena belum waktunya untuk ditanya. Misal seperti kapan lulus? Lah wong kuliah aja baru 3 tahun, ya belum lulus dong. S1 minimal 4 tahun. Kalaupun udah lebih dari 4 tahun juga kayaknya kerajinan banget nanya begitu, siapa tau ada kendala dalam akademiknya.

Terus, kapan nikah? Ya belum ketemu sama jodohnya, nanti kalau udah mau nikah juga dikasih undangannya. Masih banyak pertanyaan lain yang mungkin lebih menyinggung dari yang diatas.
Perlu kita hati-hati dalam berbicara, meskipun maksud kita gak seperti itu. Tapi who’s know? Hati orang gak ada yang tau. Mereka mungkin terlihat biasa aja ketika ditanya, tapi dalam hati? Kalau mereka jadi sedih gimana?



Nah seperti dari bagan yang aku buat diatas. Orang yang ditanya bisa aja jadi sedih. Mungkin ada baiknya pertanyaannya diganti kalau memang mau tau perkembangan hidup teman/saudara kita.

Misal: sekarang kamu semester berapa dik kuliahnya?
Atau, ledekan halus. Cie kemarin jalan sama siapa tuh? Sama pacarnya ya?
Pacarmu orang mana? Kalau ternyata dia jawab “aku belum punya pacar/calon” kita baiknya menjawab: oh iya gak apa-apa, fokus kerja/kuliah dulu ya, nanti juga ada kok jodohnya.

Untuk pertanyaan maut yang lain, kapan punya momongan? Cucu? Sebaiknya tahan dulu aja deh. Mungkin gak jadi masalah kalau pengantin baru. Tapi kalau udah setahun atau lebih? Kan kasihan ditanya begitu. Siapa tau dia lagi berusaha program hamil, toh kalo dia hamil juga pasti keluarga dekatnya udah tau duluan dan ngasih tau ke sanak saudara lainnya.
Pun soal perihal kapan nikah? Apalagi kalau udah umur >25 tahun. Itu udah jelas kita tau belum ketemu aja dia sama jodohnya. Jadi, kenapa harus ditanya terus?

Apalagi kapan kurus? Yaaah. Itu mah ngeledek namanya.
Kita harus bisa pandai-pandai jaga perasaan orang, apalagi ke saudara sendiri.
Jadi, jangan sampai acara silaturahmi rusak dengan pertanyaan-pertanyaan maut itu yaaa.

Wednesday, 20 June 2018

Petaka Culas

Culas adalah suatu perbuatan tercela yang bisa merugikan orang lain maupun diri sendiri.

Culas yang dapat merugikan orang lain pasti kalian udah tau sendiri kan. Mulai dari mengambil keuntungan yang berlebihan dalam berjualan, menipu, dan perbuatan licik lainnya.

Sedangkan, culas terhadap diri sendiri yaitu menyontek. Jangan kalian pikir aku orang suci yang gak pernah nyontek. Sungguh sangat-sangat pernah. Mulai dari SD sampai kuliah semester 3 kalau gak salah.


Disini, aku akan banyak berbagi tentang MENYONTEK sebagai perbuatan culas terhadap diri sendiri. Cheating of Myself/Yourself


Tidak percaya diri? Iya. Itu adalah salah satu penyebab hasrat ingin menyontek atau bahasa gaulnya kalau orang sunda mah niron.
Padahal udah belajar, tapi tetap aja gak percaya sama diri sendiri.
Segala sesuatu yang dosa itu enak. Niron enak kan? Berasa gak ujian tapi kayak diskusi. Malahan gak usah belajar bisa dapet nilai bagus.

Nipu orang? Enak juga bisa dapat keuntungan yang besar. Tanpa harus kerja keras.Ehh tapi bukan berarti aku pernah nipu ya. Namun realitanya memang tujuan mereka seperti itu.
Dulu waktu aku masih kuliah awal semester, masih bodo amat mau nyontek juga, cuek aja. Teman-temanku rata-rata juga sama.Demi nilai yang lumayan. 
Tapi entah aku dapat ilham atau perasaan bersalah. Hal itu terus menerus menghantui. Seperti ada bisikan.. mau sampai kapan?

Kamu begini terus. Kemampuan akademik gak akan maju kalau terus berbuat culas. Nyontek adalah hal sepele tapi dampaknya gak dirasa bisa merugikan diri sendiri. Yaa.. Aku selalu terngiang dengan bisikan itu...

Masih mending kalau dosennya gak tau kita nyontek, tapi kalo tau? Terus negor kita? Malu. Kalau gak ditegor, tiba-tiba disuruh keluar? Atau dicatat dilembar soal. Nilai tau-tau dikurangin.

***

Akhirnya, aku mencoba percaya dengan diri sendiri. Caranya : belajar sungguh-sungguh. Tekadkan niat untuk mengerjakan sendiri. Jangan tergoda lirik-lirik teman sebelah atau buka-buka handphone/kertas. Walaupun udah jadi kebiasaan. Tapi itu semua bisa dirubah. Sebelum terlambat.


Tau gak? Pertama kali aku jujur mengerjakan ujian dengan mengandalkan otak, percaya diri dan doa. Nilaiku masih jeblok aja tapi gak semua mata kuliah sih. Mungkin kurang maksimal belajarnya atau gak konsentrasi? Entahlah, pernah aku mengerjakan dengan keadaan sakit. Kepalaku terasa panas, dan demam luar biasa (gejala typus). Aku mengerjakan ujian dengan keadaan seperti itu.

Namun, aku tidak menyerah. OK, aku coba lagi belajar dengan giat, dan lagi-lagi aku mencoba jujur. Gak nyontek sama sekali. Kali itu aku berhasil, walaupun nilai gak bagus-bagus amat, tapi cukup untuk mengukur kemampuan akademikku. Jadi, ohh kalau aku belajar segitu hasilnya segini. Iya iya. Terus dan terus.. rajin belajar, banyak latihan, merangkum, dan memahami materi berulang-ulang.

***

Akhirnya, Alhamdulillah nilai memuaskan berhasil kudapatkan dengan kerja keras sendiri.
Saranku, buang kebiasaan buruk itu segera, jangan sampai mendarah daging seumur hidup. Karena apa? Nyontek sama aja perbuatan tercela yang membuatmu terus-menerus mengandalkan kemampuan orang lain dan akan terbawa gak cuma saat ujian, tapi saat mengerjakan tugas apapun. Bagaimanapun hasilnya, mau jelek juga, terima aja. Kamu lebih menghargai hasil kamu sendiri daripada culas dengan mengcopy hasil orang lain.

Jadi, kemampuan akademik bisa terukur kalau mengerjakan dengan jujur. Beda rasanya kalau nyontek, meskipun nilai bagus, tapi gak ada ketenangan hati dan rasa puas, karena? Kamu mendapatkan sesuatu itu dengan cara instan, gak ada upaya kerja keras sebelumnya.

Jangan takut dibilang pelit. Masalah kejujuran dalam ujian itu penting. Dosenku aja sampai nulis hadist dibagian lembar terakhir soal. Intinya, jangan berbuat culas, Allah Maha Melihat.
Tuh, sampai diingetin sama dosen.

Kalau temanmu bilang kamu pelit, gak usah didengar. Memang mereka ikut belajar bersamamu? Memang mereka siapa? Ada hak untuk mengcopy hasil kerja kerasmu?
Mereka bukan siapa-siapa.
Tolong-menolong dalam kebaikan aja.

Kecuali, sebelum ujian mereka ada usaha diskusi atau bertanya. Itu berbagi ilmu namanya.

 ***
 Culas membawa petaka untuk dirimu sendiri.
 1. Dosa
 2. Membuat malas diri sendiri. 
Itu akan terbawa sampai nanti kerja.Kalau bisa lulus karena nyontek dari awal sampai akhir, nanti akan malu sendiri kalau udah kerja. Apalagi kalaun sampe skripsinya dibikinin orang lain. Seperti kerja tim, yang dibutuhkan adalah kerjasama yang baik, kalau kebiasaan mengandalkan orang lain bagaimana bisa bekerja secara tim? Sedangkan jobdesk pada saat kerja tim bisa berbeda bisa fleksible.
 3.Otak gak berkembang

Pecaya deh, nyontek gak akan membuatmu jadi pinter.

Sama seperti halnya diriku, yang dulu sempat sering menyontek, Tapi itu masa lalu yang sudah lama kutinggalkan. Demi masa depan, demi menjauhi kebiasaan burukku bahkan harus dihilangkan.

Culas kepada orang lain. Sama. Pasti membawa petaka juga buat diri sendiri. Dosa, gak dipercaya orang, dan pasti kena akibatnya. Sesuai dengan yang Allah bilang. Sekecil apapun perbuatan pasti akan ada balasannya.

Sunday, 27 May 2018

Sering dikira Sombong. Ini Alasan The Silent Reader Sering Mengabaikan Chat Grup.



Mau berangkat ke kampus, kerja atau mau pergi. Grup masih aja ramai. Lagi belajar di kampus, lagi kerja, lagi main. Handphone masih getar-getar. Pulangnya eehh masih belum rampung juga itu bahasan.
Mungkin mereka ini senang eksis digrup media sosial. Tidak ada yang salah. Namun, tidak semua orang suka dengan obrolan chat grup. Bahkan sampai ada yang dinotifikasi (mute) sampai seminggu atau bahkan setahun. Agar, ketika ada chat yang masuk, handphone si Silent Reader tidak bergetar. 
Yang lebih parahnya lagi, ada yang sampai left grup wah mungkin sudah merasa terganggu sekali ya dia.

Disini writer akan review, sebenarnya apa sih penyebab The Silent Reader sering mengabaikan chat grup?

1.  Silent Reader (SR) memang malas membalas chat beruntun yang terkesan seperti “boom chat”.



    Handphone ditinggal sebentar, chat langsung masuk puluhan bahkan ratusan. Jadi, mereka lebih memilih untuk diam, karena mereka memang tidak suka keramaian. Termasuk keramaian getaran handphone :D 
2.  Kebanyakan isinya bercanda. 
Memang tidak ada salahnya untuk bergurau, atau hanya sekedar iseng-iseng “nyepam” di grup. Tapi itu semua tidak berlaku untuk SR. Mereka hanya mau merespons hal-hal penting yang menyangkut diri mereka, itu juga kalau chatnya tidak keburu tenggelam ya. Contoh: “Bulan gimana laporan yang udah diedit kemarin? Ada tambahan lagi ngga? Gue ada tambahan nih. Sini biar gue lanjut, besok kan giliran gue”. Sekian lama, tidak ada jawaban. Bulan hellooo,, are you there?. Akhirnya dichat personal lah si Bulan, baru dibalas. Saking banyaknya chat digrup itu, si Bulan jadi malas membalas hingga mengabaikannya. Jika grup tidak ramai, kemungkinan SR masih mau membalas pertanyaan penting tersebut.

3. Pernah dikacangin/dicuekin digrup. 
Siapa sih yang tidak kesal dicuekin? Udah bales chat, ehh ketimpa sama teman kita yang lain. Alhasil chat tenggelam dan gak dibales-bales. Jadi SR malas deh muncul digrup lagi.

 4. Tidak mempunyai hubungan dekat dengan teman-teman grup. 



Tidak usah jauh-jauh deh. Contohnya aja grup kelas. Mungkin hanya beberapa aja yang dekat dengan SR. Tapi, teman dekatnya SR juga tidak suka tuh gabung-gabung kedalam chat grup. Jadilah, tidak pernah ada percakapan Antara SR dan teman-teman grup deh. Karena, kalau bercanda/komentar digrup rasanya canggung juga, apalagi bukan sama teman dekat.


5. Menghindari konflik/perbedaan pendapat disaat orang-orang sedang berdebat. 
SR yang sebenarnya gregetan juga ingin membalas atau mengemukakan pendapatnya, akhirnya harus dia urungkan lagi deh. Karena kalau situasi lagi panas, SR yakin perbedaan pendapatnya dengan si Tukang Debat (TD) tidak akan pernah ada ujungnya. Jadi, SR lebih memilih diam daripada meladeni TD. Karena masih banyak urusan yang lebih penting ketimbang masalah chat grup.



Jadi, menjadi Silent Reader bukan berarti orang itu sombong ya. Mereka cuma berusaha jadi diri sendiri. Anti ribet dan pusing. Kalau teman-teman ada perlu dengan SR, sebaiknya hindarilah chat digrup. Lebih baik langsung tanyakan sendiri jika sekiranya ada hal penting atau urgent.
Mereka juga butuh privasi dan tidak melulu harus on/membalas pesan digrup :)

Friday, 25 May 2018

Lelah yang diinginkan


   Pagi itu, aku pergi ke Dinas Kesehatan Karawang bersama teman satu tim yang sudah berpengalaman dalam kegiatan penelitian sebelumnya (RISKESDAS 2013). Kami mengurus surat-surat yang harus ditandatangani oleh aparat desa dan pengawas. Sebagaimana mereka menjadi saksi bahwa tim kami benar-benar turun ke lapangan untuk melakukan pekerjaan sebagai enumerator (mewawancara dan mendata status kesehatan warga).

     Banyak orang bilang “Wah hebat bisa kerja di Kemenkes”. Namun sungguh, pekerjaan kami mirip kuproy. Kalau gak tau, itu bahasan tren dari “kuli proyek”. Bekerja untuk proyek negara, dan menjadi posisi yang paling bawah. Diatas enumerator, masih ada posisi supervisor, validator dan lain-lain yang jenjang pendidikannya minimal harus S2.
***
     Lokasi kerjaku yaitu di Cikampek. Lumayan jauh dari rumah. Ada yang di Karawang, tapi Cuma 3 desa saja. Sedangkan 8 desa lain di Cikampek.
1.Lemah Mukti, 2. Bengle, 3. Sukasari, 4. Sukasari (beda RT), 5. Purwasari, 6. Cikampek Barat, 7. Cikampek Selatan, 8. Kamojing, 9. Dawuan Tengah, 10. Dawuan Barat dan 11. Majalaya.
    Itu adalah desa-desa yang kami data, yang awalnya terpilih sebagai sampel Susenas (Survei Ekonomi Nasional) yang diadakan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) di Karawang.
Nah jadi, Riskesdas ini kerjasama dengan Susenas, data-data awal Susenas seperti: status keluarga seperti kepala rumah tangga/istri/anak, cerai mati/hidup, tanggal lahir, sudah menikah/belum dan lain-lain nantinya akan kami gunakan untuk keperluan input data disistem aplikasi yang sudah diinstall pada saat pelatihan. Karena data tersebut penting sebagai data awal untuk memulai sebelum memasukkan data kesehatan selanjutnya. 
     Data selanjutnya seperti lingkungan rumah tangga, kesehatan individu dan lain-lain diinput setelah data Susenas sudah benar-benar valid. Karena kalau ada yang salah, maka seterusnya akan salah dan akan sulit untuk diperbaiki. Maka dari itu, harus teliti/check ulang dalam pemasukkan data awal.

   Kendalanya, ada beberapa rumah tangga yang tidak bisa diwawancara karena pindah rumah/tidak bersedia untuk diwawancara. Hal ini membuat kami harus tepat menyertakan alasan mengapa tidak diwawancara beserta buktinya (tandatangan kepala rumah tangga/foto rumah jika responden tersebut pindah).
Hmm,,, cukup detail ya?
Rumah tangga yang bersedia diwawancara mendapatkan uang (titipan dari Kemenkes) untuk menggantikan waktu yang terpakai oleh kegiatan kami.
***
    Lokasi yang jauh tidak menyurutkan semangatku untuk rajin bekerja. Walaupun harus bertempur dengan medan jalanan yang cukup ramai dengan mobil truk, container dan kendaraan besar lainnya. Sangat lelah karena berangkat berangkat pagi pulang sore/malam. Tapi kusiasati untuk istirahat dan makan teratur agar bisa fokus selama berkendara dan bekerja.
     Alhamdulillah, satu tim yang terdiri dari 4 orang termasuk aku, bisa bekerjasama dengan baik. Meskipun pasti ada masalah tim maupun antarpersonal yang menjadi bumbu pemanis selama bekerja.
      Kekompakan adalah kunci yang paling penting agar seluruh anggota bisa mengerti satu sama lain. Tidak membawa masalah personal kedalam tim dan tetap professional.

   Oh iya, 4 dari 11 desa yang kami data juga mengadakan pemeriksaan darah gratis di Puskesmas/Kantor Desa. Khusus untuk responden yang telah diwawancara dan menyetujui/ttd surat persetujuan bersedia untuk diperiksa darah. Hanya 3 item pemeriksaan aja: hemoglobin, gula darah dan malaria.
    Acara pemeriksaan darah tersebut dibantu juga oleh tim dokter gigi/exnumerator beserta asistennya, dokter umum dan tenaga kesehatan (bidan/perawat).

Pertama, responden mendaftar di bagian pendaftaran. Yang mengurus pendaftaran ini enumerator.

Kedua, warga harus periksa dulu ke dokter umum yang posisinya tepat disebelah meja pendaftaran. Tujuan periksa ini adalah untuk mengetahui adanya penyakit berat/tidaknya yang dialami oleh responden.

Ketiga, kalau dokter sudah mengizinkan untuk periksa darah, maka langsung saja diambil darah oleh tenaga kesehatan. Darah yang diambil adalah dari pembuluh darah vena. Apabila darah yang diambil ternyata hanya sedikit, maka harus diulang sekali lagi. Jika, responden menolak, maka dianjurkan untuk diambil darah kapiler (yang ditusuk dijari itu lhooo). Waktu pengambilan darah juga dicatat oleh enumerator.
      Kenapa harus darah vena yang diambil? Karena nanti, darahnya dimasukkin ke tabung, lalu diproses di mesin centrifuge (mesin darah yang muter-muter). Sampai 10 menit. Terus darah dikeluarin dan diambil serumnya (cairan kuning bening diatas darah yang mengendap) untuk dikirim ke pusat.
Tujuan pengambilan serum ini sendiri gak tau untuk apa heheheee.. yang tau tindak lanjutnya cuma orang pusat aja :D

Keempat, darah responden siap dimasukkan kedalam alat pendeteksi Hb, gula darah, dan malaria. Hasil pemeriksaan dicatat oleh enumerator yang kemudian akan diinput kedalam sistem aplikasi biomedis.
      Sebelumnya, enumerator wajib bertanya apakah responden puasa/tidak? Karena penting untuk pemeriksaan gula darah. Jika responden puasa dan gula darahnya diatas 126 mg/dl maka diwajibkan minum susu khusus diabetes yang sudah disediakan oleh enumerator dibagian pembebanan/pemberian larutan tambahan. Sebaliknya, jika responden puasa dan gula darahnya dibawah 126 mg/dl, maka larutan yang harus diminum adalah gula monohidrat, kayak gula halus gitu (ini rasanya manis banget). Nah, pengecualian nih untuk yang punya riwayat diabetes, mau gula darah puasanya dibawah 126 mg/dl juga tetap dikasih susu khusus diabetes. Karena memang itu prosedur yang sudah diatur dari pusat.
        Tujuan dari pembebanan untuk mengetahui kadar gula darah sesudah minum larutan selama 2 jam kemudian (2 jam post prandial). Nahh,, nanti kalau hasilnya tinggi, responden akan dikasih surat rujukan dari dokter untuk ke puskesmas, karena khawatir ada gejala diabetes yang baru terdeteksi.

Kelima, responden diarahkan untuk melakukan pemeriksaan gigi. Kecuali yang ikut pembebanan. Diwajibkan untuk pembebanan dulu, baru periksa gigi. Setelah itu selesai deh!! Oh iya responden juga dikasih uang loh setelah pemeriksaan selesai. Enak kaaan, udah gratis dikasih uang lagi :D. Heheee… uang itu amanah dari Kemenkes.
***
Seperti itulah pekerjaan enumerator. Capek banget, pusing, harus gesit. Yaa tapi bayarannya juga setimpal. Inilah lelah yang aku inginkan. Lelah yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Menambah pengalaman baru dan mempunyai keluarga baru.


ADELINA RAMADHANI, ENUMERATOR RISKESDAS 2018. 02 APRIL – 08 MEI 2018.

Sunday, 13 May 2018

The Crazy Buddy


Pertama kali ku kenal dia sejak kelas 2 SMA. Siapa yang tidak kesal melihat tingkah lakunya yang begitu “overacting”, pecicilan dan terkesan judes.
Dia tidak lebih tinggi dari aku, berperawakan mungil dan lincah sekali. Namun tidak disangka awal dari pertemanan kami adalah hal yang baik.

Dela Pratiwi. Nama depannya seperti nama panggilku sedari kecil. Aku panggil dia Dela.
 Bernostalgia? Boleh bukan? karena masa-masa SMA adalah masa yang paling indah. Konflik dengan teman merupakan suatu hal yang lumrah. Kalo gak ada konflik gak seru. Hahaaaa :D
Seperti aku dengan dia. Terlibat konflik gara-gara 1 teman laki-laki yang sebenarnya adalah gebetan Dela. Si miss rempong marah karena aku terkesan lebih dekat dengan Surya dibandingkan dengan dirinya.

Perselisihan itu dimulai dari terbentuknya tim drama Bahasa Indonesia yang terdiri dari 7 orang.
Saat itu hubungan pertemanan kami renggang karena kesalahpahaman. Padahal aku samasekali gak suka sama Surya.
Wajar Dela marah. Bagaimana mungkin seseorang rela pujaan hatinya disukai juga sama temannya sendiri? Padahal itu hanya ada dalam persepsi dia saja.
***
Saat itu Stefi jadi penengah perselisihan kami berdua. Berusaha mendamaikan dan memberi nasehat yang baik. Vinda juga. Mereka berdua netral pada kami. Tidak pernah menjelek-jelekkan.
***
Bukan Dela namanya kalau gak cerewet.
Bukan Dela namanya kalau gak lebay.
Bukan Dela namanya kalau gak baperan.
Bukan Dela namanya kalau gak berani.
Bukan Dela namanya kalau gak royal sama teman.

Bukan Dela namanya kalau tidak bisa mendengarkan keluh kesah sahabatnya dengan khidmat.
Cewek yang pemberani. Berani terus terang jika aku salah. Berani membelaku mati-matian saat disakiti orang lain. Rela menanggung malu demi memarahi orang yang telah menyakitiku. Tidak peduli apapun perkataan orang. Bersedia dengerin aku curhat sampai dini hari.
***
Singkat cerita Dela pernah memarahi temanku karena sudah bersekongkol menjadikanku sebagai taruhan apabila salah satu dari teman-temannya berhasil dekat denganku dan juga mengajak jalan. Tapi sialnya aku menolak mereka semua. Tapi Dela tetap kesel karena emosi gak terima aku dijadikan taruhan.

Saat orang lain menghakimi dia lebay, ataupun yang jelek-jelek. Aku gak peduli.
The real best friend is orang yang gak akan pernah ninggalin ketika sahabatnya dijauhin orang lain dan gak pernah nusuk dari belakang.
Tanya sebabnya apa. Dengarkan keluh kesahnya. Kalaupun semua salah dia. Kita wajib kasih masukan dan saran. Jangan dijudges apalagi ditinggalkan.
***
Cerita lagi.
Kau tahu? Aku bahkan tidak pernah merayakan surprise ulang tahun atau hias-hias kamar dengan sahabat-sahabatku. Cukup diucapkan selamat dan doa itu sudah membuatku senang karena mereka ingat.
Persahabatan tidak diukur dari seberapa sering bertemu, intensitas mengobrol dan materi.
***
Maaf kalau tulisanku kepanjangan yaa heheee… tetaplah jadi diri sendiri… gak usah pedulikan perkataan orang lain yang membuatmu minder…
Sahabat kamu lebih tahu siapa dirimu. Mereka hanya lihat dari cover tanpa tahu isinya.


Friday, 11 May 2018

Paradise in Bandung

Aku berangkat ke Bandung naik bus bersama teman-teman calon enumerator. Tidak perlu waktu lama untuk beradaptasi dengan mereka. Alhamdulillah mereka baik-baik dan welcome.

Sesampai di Hotel Ibis Trans Studio Bandung, aku dan teman-teman langsung menarik koper ke lobby hotel dan naik keatas untuk registrasi.
Semangat kami begitu menggebu-gebu, seolah ingin menyambut sesuatu yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak senang. Kami menginap di hotel sudah dijamin semua biaya tanpa pungutan sepeserpun. Hanya membawa uang saku saja untuk jajan diluar.
***
Kami sudah dibayar mahal-mahal disini, otomatis harus mematuhi setiap peraturan dan belajar sungguh-sungguh untuk persiapan turun lapangan.
Sungguh bermanfaat sekali kegiatan disana itu. Aku sekamar dengan temanku namanya Rizky. Jangan salah paham ya. Dia itu perempuan lhoo hehe. Ketika ada kesulitan dan masalah, selalu berbagi dengannya, bercerita bahkan kami tidak segan-segan saling meledek hanya untuk melepas kepenatan sejenak sepulang dari pelatihan.

***
Pada saat pelatihan, kami (calon Enumerator Karawang) sekelas dengan calon Enum Kabupaten Bogor. Aku banyak kenalan dengan orang Bogor, bahkan bisa ketemu dengan dosen dan teman satu angkatan di kampus Uhamka.  
Senang sekali bisa menjalin silaturahmi dengan mereka.

***
Materi yang dipelajari saat pelatihan adalah teknik wawancara, bagaimana cara bertanya yang baik dan benar tanpa membuang-buang waktu.
Pertanyaannya meliputi lingkungan kesehatan rumah tangga, status kesehatan individu: riwayat penyakit menular (Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA),  radang paru-paru, tuberculosis, hepatitis, diare, kaki gajah dan malaria) serta penyakit tidak menular (asma, kanker, kencing manis dan jantung), seputar kesehatan jiwa, kebersihan gigi dan masih banyak lagi.

Materinya cukup banyak dan memang itulah yang harus ditanyakan ke masyarakat. Tapi harus bisa menghemat waktu juga. Yang paling menantang adalah enum harus bisa menggali setiap informasi yang diberikan masyarakat sampai menemukan jawaban yang tepat.
Selain itu, enum juga belajar praktik pengukuran tinggi badan, berat badan, Lingkar Lengan Atas (LILA), lingkar perut dan memeriksa tekanan darah (tensi darah) tentunya dengan cara yang benar dan akurat.

Setelah mempelajari semua teknik, kami turun ke desa yang dekat dengan hotel untuk mempraktikan semua yang dipelajari dari wawancara sampai pengukuran. Alhamdulillah semua lancar….

Tapi yang bikin aku deg-degan adalah ketika mewawancarai ibu rumah tangga yang kena penyakit tuberculosis. Aku tidak menyadarinya. Baru sadar setelah diberitahu temanku yang sudah membaca surat dokter ibu tersebut.
Pulang dari sana kami langsung minum susu untuk daya tahan tubuh. Pppftt … ada-ada saja….
Seperti itulah kegiatanku selama pelatihan di hotel.

***
Pertama kali menginjakkan kaki di hotel Bandung menurutku adalah “paradise for a while”. Bisa makan enak, banyak buah-buahan, berbagai macam minuman. Kalau kalian berpikir aku norak tidak apa-apa. Toh, memang benar baru pertama kali aku menginap di hotel dan dijamin semua biayanya. Sungguh pengalaman yang mengesankan. Semoga dilain waktu bisa mendapatkan pengalaman berharga lagi.

Mimpi yang Tertunda


Dear pembaca setia blog Adelina, maaf untuk kekosongan dibulan April kemarin. Si penulis sibuk sekali menjalankan tugas negara yang bisa terbilang luar biasa lelahnya mulai dari tanggal 2 April hingga 8 Mei. Tapi sungguh, lelah itu tidak akan pernah sia-sia. Aku suka bekerja. Sekalipun kerjaanku kemarin lumayan berisiko bagi seorang perempuan. Mengenai pekerjaanku, akan kuceritakan nanti setelah cerita ini.
***
Pengumuman itu tidak membuatku galau samasekali. Entah. Tapi, aku berpikir mengapa aku bisa kalah dari mereka? Dari lulusan D3. Ya, aku tidak lulus tes di salah satu RS Tegal, Jawa Tengah. Bagaimana mungkin semua lulusan S1 gizi tersingkir oleh lulusan D3? Bukan hanya aku saja, tapi temanku yang tinggal di Tegal juga bernasib sama.

Mungkin, dari segi kemampuan/skill jelas mereka lebih unggul. Selama kuliah umumnya lulusan D3 lebih banyak praktikum dibandingkan S1, mungkin itulah salah satu pertimbangan pihak RS. Ingin mempunyai karyawan yang skillnya bagus tetapi gajinya juga bisa lebih rendah. Karena jenjang pendidikan juga sangat menyesuaikan gaji.
***
Aku tidak pernah mau putus asa. Selalu kulakukan upaya untuk mencari pekerjaan lain. Apapun. Bahkan tidak sesuai dengan pendidikanku juga tidak apa-apa. Aku sudah malu sekali kalau harus terus meminta uang pada orang tuaku, karena tidak ada pemasukan setiap bulan. Akhirnya aku mencoba ikut seleksi untuk menjadi Enumerator Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018. 

Apa itu enumerator? Yaitu orang yang membantu kegiatan survey di lapangan seperti wawancara dan pengumpulan data-data lain untuk kepentingan penelitian.
Riskesdas ini adalah sebuah penelitian kesehatan yang diadakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) dibawah naungan Kementrian Kesehatan (Kemenkes). Kegiatan ini hanya dilakukan 5 tahun sekali. Jadi sangat beruntunglah aku apabila bisa gabung dalam penelitian ini.

Persyaratan yang harus dipenuhi adalah minimal D3/S1 semua lulusan kesehatan. Aku tidak ragu untuk mendaftar. Alhamdulillah pertengahan Februari melamar, seminggu kemudian aku dipanggil untuk test di Dinas Kesehatan Karawang yang lokasinya tidak jauh dari rumahku. Saat itu aku hanya bisa berdoa agar dikasih kesempatan untuk mengikuti kegiatan itu.

***
Tidak lama setelah tes, 3 hari kemudian aku dipanggil tes di salah satu RS Karawang, Alhamdulillah. Semoga bisa menjadi awal yang baik.
Kau tahu mimpiku? Yaitu bisa mengamalkan ilmuku di RS, bertemu dengan pasien, mengatur  makanan, menghitung kebutuhan zat gizi, walaupun “katanya” gaji tenaga kesehatan di RS itu kecil tapi aku masih tetap ingin sekali bisa bekerja menjadi Ahli Gizi di RS.

Seketika saat itu, aku mengalihkan doaku dari menjadi enumerator ke ahli gizi. Apabila aku diterima jadi ahli gizi di RS dan menjadi enumerator, aku akan lebih memilih jadi ahli gizi di RS. Meskipun gaji enumerator jauh lebih besar dibandingkan dengan ahli gizi di RS.
***
Allah berkehendak. Kun Fayakun. Sudah 3 minggu aku sangat menantikan kabar dari RS ternyata kabar baik itu tak kunjung datang. Sepertinya, lagi-lagi aku kalah dengan lulusan D4 gizi. Pada saat itu aku test hanya berdua. Aku hanya bisa menyimpan mimpiku dalam-dalam sebelum nanti jadi kenyataan.
Namun, Allah sediakan gantinya. Aku terpilih menjadi Enumerator Riskesdas 2018 dan kemudian wajib mengikuti pelatihan selama 9 hari di Bandung. Syukur Alhamdulillah. Aku senang, akhirnya bisa memulai suatu pengalaman baru.

Thursday, 8 March 2018

Duniaku adalah Kamu

Setiap orang mempunyai kesukaan yang berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksakan atau menyuruh orang lain berperilaku/berbicara seperti apa yang kita inginkan. Belajar menghargai dan memahami memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Seringkali kita merasa bahwa pendapat kita adalah yang terbaik. Mungkin saja benar, tapi ada kalanya kita harus mendengarkan, bukan hanya ingin didengar. Sebab Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut yang berarti bahwa kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Aku memang suka menulis, walaupun bukan penulis. Hanya mencoba untuk berbagi pengalaman. Menurutku, menulis apapun bukan suatu masalah selama masih ingat norma dan tidak melanggar hukum. Contoh: pencemaran nama baik dan SARA.
Referensi menulis yaitu dari membaca, seringkali kita merasa ingin menulis sesuatu tapi bingung harus mulai darimana. Bagaimana menggunakan kata-kata yang tepat untuk dirangkai sehingga terbentuk sebuah narasi yang mudah dipahami semua orang. Dengan banyak membaca, maka semakin banyak kosakata yang kita dapat serta menambah ilmu dan wawasan.
Untuk dirimu yang tidak menyukai tulisanku, terima kasih. Beribu terima kasih lagi jika kau mau memberikan kritik dan saran, bagian mana yang tidak kau suka. Tapi jika tidak berkenan, kau juga bisa mengabaikan tulisanku dan tidak usah mengklik situs blogku lagi. Hehe. This life so simple right? Jangan dibikin ribet okay, apalagi sampai dibuat nyinyir atau gossip.
Bagi yang menyukai tulisanku, alhamduillah, terima kasih. Yaa aku berharap, pembaca juga bisa memberikan kritik dan sarannya atau mengungkapkan apapun setelah membaca tulisan-tulisanku ini.
***
            Ini menyangkut perubahanku. Tadinya tidak suka membaca, lama-lama jadi ketagihan dan betah membaca berjam-jam. Semua berawal dari …. kusebut saja tidak apa-apa ya. Buku Tere Liye yang berjudul Tentang Kamu. Aku membelinya pada bulan Februari 2017. Buku dengan ketebalan yang phew… tebal sekali sekitar 500’an lembar. Buku itu membuatku excited, bawaannya pengen terus baca, padahal aku belum suka membaca, maksudnya belum banyak baca buku. Tapi aku nekat membeli buku setebal itu, entah ada bisikan apa yang menuntun tanganku untuk bergerak memilih buku itu. Ternyata tidak sedikit pun menyesal, karya Bang Tere tuh jempol!! Thanks Bang! Awal kegemaranku adalah bukumu :D
            Aku membacanya dikala waktu luang, dan saat itu aku masih kuliah dalam tahap proposal skripsi, semester 7. Sembari memanfaatkan waktu saat menunggu dosen di kampus atau hanya sekedar membacanya di dalam bus atau dimanapun ketika lagi kosong, aku selalu membacanya. Hingga buku tersebut berhasil kutamatkan selama 5 hari. Menarik ceritanya, bahasanya pun mudah dipahami.
            Dilain waktu, aku ketagihan untuk membaca buku lagi, namun aku penasaran dengan buku yang lebih menantang. Yaitu tentang misteri semacam detektif atau berbau kriminal.
Sehingga kuputuskan untuk pergi ke toko buku nan terkenal di seluruh Indonesia itu, hanya untuk melihat berbagai macam buku misteri. Pandanganku tak lepas dari buku karya Sir Arthur Conan Doyle. Beliau menulis banyak buku detektif dan aku langsung membeli 2 novel detektif yang terkenal di Eropa. Sherlock Holmes. Aku juga menyukai asisten Sherlock Holmes “Dr. Watson” yang karakternya sungguh sangat aku dambakan: seorang dokter, cerdas dan cekatan.
***
Kesukaan membacaku itu berlanjut sampai sekarang. Terus saja aku membeli buku-buku lain, mungkin bisa dibilang aku ini seorang kolektor buku novel karena jumlahnya cukup banyak. Sampai bingung harus menyimpan dimana lagi karena sudah penuh sesak dengan barang-barang yang lain. Tidak hanya buku misteri, buku pelajaran hidup, kisah cinta dan artikel-artikel apapun yang ada di internet juga kubaca. Aku lebih senang membaca buku daripada internet, karena mataku sakit kalau harus terus-menerus melihat ke layar dalam waktu yang lama.
Perasaanku saat membaca seringkali terbawa suasana. Penulis buku memang hebat yaa, bisa membuat pembaca jadi merasa masuk ke dunia dalam buku itu. Contohnya saja Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea. Aku sudah membacanya bulan Juni 2017, jauh sebelum filmnya tayang dan menurutku Dilan itu bagus sekali. Apresiasi untuk Ayah Pidi Baiq yeaay!! Temanku bersedia meminjamkanku ketiga seri buku Dilan, dan aku membacanya dengan sangat antusias, selesai dalam 3-5 hari untuk 1 buku.
***
Mungkin banyak orang yang merasa membaca itu membosankan. Tapi bagiku menyenangkan. Aku suka membaca bukan berarti aku tahu segala hal. Justru semakin sering membaca, aku semakin merasa kurang pengetahuan. Kelemahanku, aku tidak begitu tertarik dengan topik berbau sains atau ilmu pengetahuan. Walaupun kalau ada bukunya aku masih mau membaca sedikit. Tapi tetap saja aku lebih tertarik untuk membaca buku yang dirangkai dengan kata-kata yang mudah dipahami.
Mungkin salah satu penyebab tidak begitu tertarik dengan buku pengetahuan karena bahasanya yang tidak bisa langsung dipahami oleh banyak orang. Karena dalam buku tersebut banyak kata-kata asing, atau bahkan kita harus mencari tahu dulu kata-kata itu melalui internet dan itu juga belum tentu langsung paham. Harus benar-benar konsentrasi dan telaten.
***
Pantas saja ya orang yang kuliahnya sampai kejenjang tinggi: S2 atau S3 itu sangat banyak hafalan teori dan mungkin tidak diragukan lagi dari segi intelektualnya. Lah wong mereka aja belajarnya buanyaaak banget. Bukunya juga segudang. Apa lagi penelitiannya belum ujiannya, tesis dan disertasi (S3). Semakin tinggi jenjang maka semakin harus banyak belajar bahkan harus terus lebih keras. Aku saja yang S1, pusing banget skripsi. Bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang baik juga sudah sangat bersyukur.
Yaaa sesuai dengan judul, duniaku adalah kamu kegemaranku: membaca dan menulis. Judulnya agak menipu sedikit ya hehehe kamunya itu ternyata hobbyku sendiri :D Walaupun bukan orang yang pintar dan bukan penulis juga, namun aku punya hobby yang bisa membuatku senang, serta bisa mengisi waktu luangku. Plus murah dan tidak ribet hehehe, karena kalau lagi tidak memiliki rezeki lebih, aku masih bisa membaca artikel atau buku digital dari internet dan kalau tidak malas bisa juga sambil main ke kampus terdekat dari rumah  hanya sekedar numpang membaca hahaaa walaupun aku sendiri belum pernah main ke perpustakaan sana.

By :
Free Blog Templates