Banyak orang tua yang
khawatir anaknya kuliah jauh-jauh ke luar kota apalagi sampai kost segala,
terutama anak perempuan.
Friday, 29 June 2018
Tips Aman Bergaul saat Kuliah “Jauh” (Di Luar Kota)
at June 29, 2018
Waajarrr bangett… Kekhawatiran
tersebut ada benarnya juga sih, takut anaknya kenapa-kenapa, belum lagi, kalau
tidak terbiasa hidup mandiri. Berasa gak tega orang tua untuk melepasnya.
Nah, bagi yang sudah
mencoba untuk out from the comfortable zone. Kalian luar biasa, udah mau
mencoba hal baru, adaptasi dengan lingkungan baru dan lain-lain.
Beruntungnya, kalian
diizinkan oleh orang tua untuk menuntut ilmu di luar kota dan hidup mandiri
disana. Alhamdulillah. :D
Semoga sukses, lulus
tepat waktu. Aamiin !!
Aku mau kasih tips
supaya pergaulan selama kuliah bisa baik-baik aja. Dalam arti, gak salah gaul/jauh
dari pergaulan bebas.
1. Lempeng
Tau
lempeng? Bukan makanan yang terbuat dari ketan dalemnya isi abon itu yaa, HaHa.
Lempeng disini maksudnya. Netral. Gak usah over kalau bergaul. Maksudnya, kalau
ada teman yang ngajak nongkrong, boleh lah sesekali. Karena, penting juga untuk
kita tahu karakter teman-teman. Semakin banyak teman maka semakin kita tau.
Bahwa kita juga harus menyesuaikan/beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Semakin
banyak bergaul maka semakin kita tahu pergaulan mana yang sesungguhnya
memberikan dampak negative/positif terhadap diri kita.
Tentunya
kita tau dong, ketika ada teman yang ajak nongkrong, mereka ngajaknya kemana? Apakah
cuma ke caffe, mall atau ke tempat” club? Diskotik? Atau nginep-nginep dikosan
lawan jenis bareng-bareng?
Nah
… pasti udah tau sendiri, jelas banget keliatan yang mana yang harus dihindari.
Kalau
udah kepalang mau ikutan, misalkan temannya gak ngasih tau mau kemana. Mending
cancel aja deh! Gak usah ikut kalau tujuannya gak jelas. Menolak secara halus
aja. Ngeles mau ngerjain tugas atau bersih-bersih kosan atau terserah deh
bisa-bisanya kita aja.
3. Teguh pendirian
Ini
yang rada susah. Dirayu dikit, jadi pengen ikutan, apalagi diiming-imingi mau dibayarin.
Hmm berasa labil antara iya atau tidak.
Disini
kita harus bener-bener, tetap teguh dengan pendirian.
Lawan
rasa gak enak sama temen. Jangan takut bilang tidak. Ingat sekali kita ikut, misal ke
tempat gak jelas. Tau-tau dibawa ke tempat yang gak seharusnya. Contoh: ke
rumah teman, ternyata disana ada banyak bir atau ke tempat karaoke yang menyewa
perempuan.
Kalau
udah kepalang terlanjut ikutan, besok-besok gak usah ikut lagi, atau kalau
nekat bisa pergi saat itu juga, pura-pura ada urusan mendadak atau apalah.
Karena
sekali kita mau diajak, dan gak bisa nolak, mereka akan terus-terusan ngajak.
4. Jangan mau
kalau diajak hura-hura.
Sering
diajak jalan-jalan ke mall, makan-makan di restoran mahal, atau travelling. Itu
juga gak bagus untuk kondisi keuangan kita yang masih mengalir dari orang tua.
Jika temanmu seperti ini, tolaklah secara halus. Dengan bilang, lain kali aja
ya, atau kapan-kapan deh.
5. Jangan
mengizinkan teman lawan jenis sendirian main ke kost-an dimana kamu juga
sendirian disana.
Selain
mengundang fitnah, ketauhilah ini juga bisa memudahkan setan untuk melancarkan
aksinya. Hhaha. Ehh bener serius loh.
Dilarang
berdua-duaan apalagi di tempat tertutup, kalau dirasa penting mau nugas ya
jangan berdua, ajak teman lain. Atau kalau gak ada temen lagi bisa di ruang
tamu, atau lebih aman diluar aja misal di caffe, perpustakaan atau banyak
tempat nyaman yang lain kok.
Bagi
yang pernah ditawarin ikut pengajian tapi gak jelas. Bukan kegiatan dari
kampus. Aku saranin banget jangan mau!
Pernah
anak temen papaku, ikut suatu pengajian yang gak jelas, tau-tau dia jadi
berubah. Pulang ke rumah minta uang terus. Gak jelas habisnya untuk apa.
Ternyata uangnya dikasihin ke lembaga yang gak jelas itu.
Masih
mending cuma uang aja yang habis. Kalau kena pencucian otak gimana?
Naudzubillah. Akal, jiwa, akidah semua hilang. Bisa jadi pengikut aliran sesat dan
menjadi pembangkang orang tua. Aku berharap semoga pembaca jangan sampai ada yang kayak gini ya. :”
Seperti inilah
tips-tips aman bergaul saat kuliah diluar kota versi aku, karena aku juga
dulu pernah kuliah diluar, jauh dari orang tua. Alhamdulillah.. Sampai sekarang
banyak banget hikmah yang bisa diambil.
Semoga Allah selalu
melindungi kita semua dari kemudharatan. Aamiin..
So kalau kalian punya
tips lain sekalian kritik dan saran boleh share di kolom komentar ya :D
Thursday, 21 June 2018
Pertanyaan Maut
at June 21, 2018Wah masih suasana lebaran ya ini, tepatnya H + 6 Hari Raya Idul
Fitri 1439 Hijriah. Dari judul, pastinya udah pada bisa nebak kan, aku mau
nulis apa? Hehehe …. Kalau ada yang belum tau, tenang aja. Nanti aku uraikan
lengkap disini. Apa aja sih pertanyaan maut itu?
Silaturahmi pada saat lebaran memang sudah menjadi tradisi setiap tahun.
Baik bagi umat muslim maupun nonmuslim. Libur panjang memang waktu yang tepat
untuk mengisi waktu dengan jalan-jalan, ke rumah orang tua atau hanya sekedar me
time di rumah aja.
Bagi yang setiap tahun mudik apalagi kayak kita-kita ini yang udah
diatas 20 tahun ditanyain kapan nikah? Sebelum itu ditanya, kapan lulus? Berapa
IPK-nya? Hahaha. Pengalaman ya? Karena aku juga kemaren waktu mudik ditanyain
begitu.
Well itu sebenarnya, bentuk kepedulian atau kepo? Entahlah. Sampai
segitunya mereka nanyain perkembangan pendidikan atau hidup kita. Sering kita
merasa risih, karena untuk apa ditanya karena belum waktunya untuk ditanya.
Misal seperti kapan lulus? Lah wong kuliah aja baru 3 tahun, ya belum lulus
dong. S1 minimal 4 tahun. Kalaupun udah lebih dari 4 tahun juga kayaknya
kerajinan banget nanya begitu, siapa tau ada kendala dalam akademiknya.
Terus, kapan nikah? Ya belum ketemu sama jodohnya, nanti kalau udah
mau nikah juga dikasih undangannya. Masih banyak pertanyaan lain yang mungkin
lebih menyinggung dari yang diatas.
Perlu kita hati-hati dalam berbicara, meskipun maksud kita gak
seperti itu. Tapi who’s know? Hati orang gak ada yang tau. Mereka mungkin
terlihat biasa aja ketika ditanya, tapi dalam hati? Kalau mereka jadi sedih
gimana?
Nah seperti dari bagan yang aku buat diatas. Orang yang ditanya
bisa aja jadi sedih. Mungkin ada baiknya pertanyaannya diganti kalau memang mau
tau perkembangan hidup teman/saudara kita.
Misal: sekarang kamu semester berapa dik kuliahnya?
Atau, ledekan halus. Cie kemarin jalan sama siapa tuh? Sama pacarnya
ya?
Pacarmu orang mana? Kalau ternyata dia jawab “aku belum punya pacar/calon”
kita baiknya menjawab: oh iya gak apa-apa, fokus kerja/kuliah dulu ya, nanti
juga ada kok jodohnya.
Untuk pertanyaan maut yang lain, kapan punya momongan? Cucu? Sebaiknya tahan dulu aja deh. Mungkin gak jadi masalah kalau pengantin baru. Tapi kalau udah
setahun atau lebih? Kan kasihan ditanya begitu. Siapa tau dia lagi berusaha
program hamil, toh kalo dia hamil juga pasti keluarga dekatnya udah tau duluan dan ngasih tau ke sanak saudara lainnya.
Pun soal perihal kapan nikah? Apalagi kalau udah umur >25 tahun.
Itu udah jelas kita tau belum ketemu aja dia sama jodohnya. Jadi, kenapa harus
ditanya terus?
Apalagi kapan kurus? Yaaah. Itu mah ngeledek namanya.
Kita harus bisa pandai-pandai jaga perasaan orang, apalagi ke
saudara sendiri.
Jadi, jangan sampai acara silaturahmi rusak dengan
pertanyaan-pertanyaan maut itu yaaa.
Wednesday, 20 June 2018
Petaka Culas
at June 20, 2018Culas adalah suatu perbuatan tercela
yang bisa merugikan orang lain maupun diri sendiri.
Culas yang dapat merugikan orang lain
pasti kalian udah tau sendiri kan. Mulai dari mengambil keuntungan yang
berlebihan dalam berjualan, menipu, dan perbuatan licik lainnya.
Sedangkan, culas terhadap diri sendiri
yaitu menyontek. Jangan kalian pikir aku orang suci yang gak pernah nyontek. Sungguh
sangat-sangat pernah. Mulai dari SD sampai kuliah semester 3 kalau gak salah.
Disini, aku akan banyak berbagi tentang MENYONTEK sebagai perbuatan culas terhadap diri sendiri. Cheating of Myself/Yourself
Tidak percaya diri? Iya. Itu adalah
salah satu penyebab hasrat ingin menyontek atau bahasa gaulnya kalau orang
sunda mah niron.
Padahal udah belajar, tapi tetap aja gak
percaya sama diri sendiri.
Segala sesuatu yang dosa itu enak. Niron
enak kan? Berasa gak ujian tapi kayak diskusi. Malahan gak usah belajar bisa
dapet nilai bagus.
Nipu orang? Enak juga bisa dapat
keuntungan yang besar. Tanpa harus kerja keras.Ehh tapi bukan berarti aku
pernah nipu ya. Namun realitanya memang tujuan mereka seperti itu.
Dulu waktu aku masih kuliah awal semester,
masih bodo amat mau nyontek juga, cuek aja. Teman-temanku rata-rata juga sama.Demi nilai yang lumayan.
Tapi entah aku dapat ilham atau perasaan bersalah. Hal itu terus menerus menghantui. Seperti ada bisikan.. mau sampai kapan?
Tapi entah aku dapat ilham atau perasaan bersalah. Hal itu terus menerus menghantui. Seperti ada bisikan.. mau sampai kapan?
Kamu begini terus. Kemampuan akademik gak akan maju kalau terus berbuat culas. Nyontek adalah hal sepele tapi
dampaknya gak dirasa bisa merugikan diri sendiri. Yaa.. Aku selalu terngiang
dengan bisikan itu...
Masih mending kalau dosennya gak tau
kita nyontek, tapi kalo tau? Terus negor kita? Malu. Kalau gak ditegor,
tiba-tiba disuruh keluar? Atau dicatat dilembar soal. Nilai tau-tau dikurangin.
***
Akhirnya, aku mencoba percaya dengan
diri sendiri. Caranya : belajar sungguh-sungguh. Tekadkan niat untuk mengerjakan
sendiri. Jangan tergoda lirik-lirik teman sebelah atau buka-buka
handphone/kertas. Walaupun udah jadi kebiasaan. Tapi itu semua bisa dirubah.
Sebelum terlambat.
Tau gak? Pertama kali aku jujur
mengerjakan ujian dengan mengandalkan otak, percaya diri dan doa. Nilaiku masih
jeblok aja tapi gak semua mata kuliah sih. Mungkin kurang maksimal belajarnya
atau gak konsentrasi? Entahlah, pernah aku mengerjakan dengan keadaan sakit. Kepalaku
terasa panas, dan demam luar biasa (gejala typus). Aku mengerjakan ujian dengan
keadaan seperti itu.
Namun, aku tidak menyerah. OK, aku coba
lagi belajar dengan giat, dan lagi-lagi aku mencoba jujur. Gak nyontek sama sekali.
Kali itu aku berhasil, walaupun nilai gak bagus-bagus amat, tapi cukup untuk
mengukur kemampuan akademikku. Jadi, ohh kalau aku belajar segitu hasilnya
segini. Iya iya. Terus dan terus.. rajin belajar, banyak latihan, merangkum, dan memahami
materi berulang-ulang.
***
Akhirnya, Alhamdulillah nilai memuaskan
berhasil kudapatkan dengan kerja keras sendiri.
Saranku, buang kebiasaan buruk itu
segera, jangan sampai mendarah daging seumur hidup. Karena apa? Nyontek sama
aja perbuatan tercela yang membuatmu terus-menerus mengandalkan kemampuan orang
lain dan akan terbawa gak cuma saat ujian, tapi saat mengerjakan tugas apapun. Bagaimanapun
hasilnya, mau jelek juga, terima aja. Kamu lebih menghargai hasil kamu sendiri
daripada culas dengan mengcopy hasil orang lain.
Jadi, kemampuan akademik bisa terukur kalau mengerjakan
dengan jujur. Beda rasanya kalau nyontek, meskipun nilai bagus, tapi gak ada
ketenangan hati dan rasa puas, karena? Kamu mendapatkan sesuatu itu dengan cara
instan, gak ada upaya kerja keras sebelumnya.
Jangan
takut dibilang pelit. Masalah kejujuran dalam ujian itu penting. Dosenku aja
sampai nulis hadist dibagian lembar terakhir soal. Intinya, jangan berbuat
culas, Allah Maha Melihat.
Tuh, sampai diingetin sama dosen.
Kalau temanmu bilang kamu pelit, gak
usah didengar. Memang mereka ikut belajar bersamamu? Memang mereka siapa? Ada
hak untuk mengcopy hasil kerja kerasmu?
Mereka bukan siapa-siapa.
Tolong-menolong dalam kebaikan aja.
Kecuali, sebelum ujian mereka ada usaha
diskusi atau bertanya. Itu berbagi ilmu namanya.
1. Dosa
2. Membuat malas diri sendiri.
Itu
akan terbawa sampai nanti kerja.Kalau bisa lulus karena nyontek dari awal
sampai akhir, nanti akan malu sendiri kalau udah kerja. Apalagi kalaun sampe
skripsinya dibikinin orang lain. Seperti kerja tim, yang dibutuhkan adalah
kerjasama yang baik, kalau kebiasaan mengandalkan orang lain bagaimana bisa
bekerja secara tim? Sedangkan jobdesk pada saat kerja tim bisa berbeda bisa
fleksible.
3.Otak gak berkembang
Pecaya deh, nyontek gak akan membuatmu
jadi pinter.
Sama seperti halnya diriku, yang dulu
sempat sering menyontek, Tapi itu masa lalu yang sudah lama kutinggalkan. Demi masa
depan, demi menjauhi kebiasaan burukku bahkan harus dihilangkan.
Culas kepada orang lain. Sama. Pasti
membawa petaka juga buat diri sendiri. Dosa, gak dipercaya orang, dan pasti
kena akibatnya. Sesuai dengan yang Allah bilang. Sekecil apapun perbuatan pasti
akan ada balasannya.
Sunday, 27 May 2018
Sering dikira Sombong. Ini Alasan The Silent Reader Sering Mengabaikan Chat Grup.
at May 27, 2018
Mau berangkat ke kampus, kerja atau
mau pergi. Grup masih aja ramai. Lagi belajar di kampus, lagi kerja, lagi main.
Handphone masih getar-getar. Pulangnya eehh masih belum rampung juga itu
bahasan.
Mungkin mereka ini senang eksis digrup media sosial. Tidak ada yang
salah. Namun, tidak semua orang suka dengan obrolan chat grup. Bahkan sampai
ada yang dinotifikasi (mute) sampai seminggu atau bahkan setahun. Agar, ketika
ada chat yang masuk, handphone si Silent Reader tidak bergetar.
Yang lebih
parahnya lagi, ada yang sampai left grup wah mungkin sudah merasa terganggu
sekali ya dia.
Disini writer akan review, sebenarnya
apa sih penyebab The Silent Reader sering mengabaikan chat grup?
1. Silent Reader (SR) memang malas membalas chat beruntun yang terkesan seperti “boom chat”.
1. Silent Reader (SR) memang malas membalas chat beruntun yang terkesan seperti “boom chat”.
Handphone ditinggal sebentar, chat
langsung masuk puluhan bahkan ratusan. Jadi, mereka lebih memilih untuk diam,
karena mereka memang tidak suka keramaian. Termasuk keramaian getaran handphone
:D
2. Kebanyakan
isinya bercanda.
Memang tidak ada salahnya untuk
bergurau, atau hanya sekedar iseng-iseng “nyepam” di grup. Tapi itu semua tidak
berlaku untuk SR. Mereka hanya mau merespons hal-hal penting yang menyangkut
diri mereka, itu juga kalau chatnya tidak keburu tenggelam ya. Contoh: “Bulan gimana laporan yang udah diedit kemarin? Ada
tambahan lagi ngga? Gue ada tambahan nih. Sini biar gue lanjut, besok kan
giliran gue”. Sekian lama, tidak ada jawaban. Bulan hellooo,, are you there?.
Akhirnya dichat personal lah si Bulan, baru dibalas. Saking banyaknya chat digrup
itu, si Bulan jadi malas membalas hingga mengabaikannya. Jika grup tidak ramai, kemungkinan SR masih mau membalas pertanyaan penting tersebut.
3. Pernah dikacangin/dicuekin digrup.
Siapa sih yang tidak kesal dicuekin?
Udah bales chat, ehh ketimpa sama teman kita yang lain. Alhasil chat tenggelam
dan gak dibales-bales. Jadi SR malas deh muncul digrup lagi.
Tidak usah jauh-jauh deh. Contohnya
aja grup kelas. Mungkin hanya beberapa aja yang dekat dengan SR. Tapi, teman
dekatnya SR juga tidak suka tuh gabung-gabung kedalam chat grup. Jadilah, tidak
pernah ada percakapan Antara SR dan teman-teman grup deh. Karena, kalau
bercanda/komentar digrup rasanya canggung juga, apalagi bukan sama teman dekat.
5. Menghindari
konflik/perbedaan pendapat disaat orang-orang sedang berdebat.
SR yang sebenarnya gregetan juga ingin
membalas atau mengemukakan pendapatnya, akhirnya harus dia urungkan lagi deh.
Karena kalau situasi lagi panas, SR yakin perbedaan pendapatnya dengan si
Tukang Debat (TD) tidak akan pernah ada ujungnya. Jadi, SR lebih memilih diam
daripada meladeni TD. Karena masih banyak urusan yang lebih penting ketimbang
masalah chat grup.
Jadi, menjadi Silent Reader bukan
berarti orang itu sombong ya. Mereka cuma berusaha jadi diri sendiri. Anti ribet
dan pusing. Kalau teman-teman ada perlu dengan SR, sebaiknya hindarilah chat
digrup. Lebih baik langsung tanyakan sendiri jika sekiranya ada hal penting
atau urgent.
Mereka juga butuh privasi dan tidak
melulu harus on/membalas pesan digrup :)
Friday, 25 May 2018
Lelah yang diinginkan
at May 25, 2018
Pagi
itu, aku pergi ke Dinas Kesehatan Karawang bersama teman satu tim yang sudah
berpengalaman dalam kegiatan penelitian sebelumnya (RISKESDAS 2013). Kami mengurus
surat-surat yang harus ditandatangani oleh aparat desa dan pengawas. Sebagaimana
mereka menjadi saksi bahwa tim kami benar-benar turun ke lapangan untuk melakukan
pekerjaan sebagai enumerator (mewawancara dan mendata status kesehatan warga).
Banyak
orang bilang “Wah hebat bisa kerja di Kemenkes”. Namun sungguh, pekerjaan kami
mirip kuproy. Kalau gak tau, itu bahasan tren dari “kuli proyek”. Bekerja untuk
proyek negara, dan menjadi posisi yang paling bawah. Diatas enumerator, masih
ada posisi supervisor, validator dan lain-lain yang jenjang pendidikannya minimal
harus S2.
***
Lokasi
kerjaku yaitu di Cikampek. Lumayan jauh dari rumah. Ada yang di Karawang, tapi Cuma
3 desa saja. Sedangkan 8 desa lain di Cikampek.
1.Lemah
Mukti, 2. Bengle, 3. Sukasari, 4. Sukasari (beda RT), 5. Purwasari, 6. Cikampek
Barat, 7. Cikampek Selatan, 8. Kamojing, 9. Dawuan Tengah, 10. Dawuan Barat dan
11. Majalaya.
Itu adalah desa-desa yang kami data, yang
awalnya terpilih sebagai sampel Susenas (Survei Ekonomi Nasional) yang diadakan
oleh BPS (Badan Pusat Statistik) di Karawang.
Nah jadi, Riskesdas ini kerjasama dengan
Susenas, data-data awal Susenas seperti: status keluarga seperti kepala rumah
tangga/istri/anak, cerai mati/hidup, tanggal lahir, sudah menikah/belum dan
lain-lain nantinya akan kami gunakan untuk keperluan input data disistem
aplikasi yang sudah diinstall pada saat pelatihan. Karena data tersebut penting
sebagai data awal untuk memulai sebelum memasukkan data kesehatan selanjutnya.
Data selanjutnya seperti lingkungan rumah tangga, kesehatan
individu dan lain-lain diinput setelah data Susenas sudah benar-benar valid.
Karena kalau ada yang salah, maka seterusnya akan salah dan akan sulit untuk
diperbaiki. Maka dari itu, harus teliti/check ulang dalam pemasukkan data awal.
Kendalanya, ada beberapa rumah tangga
yang tidak bisa diwawancara karena pindah rumah/tidak bersedia untuk
diwawancara. Hal ini membuat kami harus tepat menyertakan alasan mengapa tidak
diwawancara beserta buktinya (tandatangan kepala rumah tangga/foto rumah jika responden tersebut pindah).
Hmm,,, cukup detail ya?
Rumah tangga yang bersedia diwawancara
mendapatkan uang (titipan dari Kemenkes) untuk menggantikan waktu yang terpakai
oleh kegiatan kami.
***
Lokasi
yang jauh tidak menyurutkan semangatku untuk rajin bekerja. Walaupun harus
bertempur dengan medan jalanan yang cukup ramai dengan mobil truk, container
dan kendaraan besar lainnya. Sangat lelah karena berangkat berangkat pagi
pulang sore/malam. Tapi kusiasati untuk istirahat dan makan teratur agar bisa
fokus selama berkendara dan bekerja.
Alhamdulillah, satu tim yang terdiri dari 4
orang termasuk aku, bisa bekerjasama dengan baik. Meskipun pasti ada masalah
tim maupun antarpersonal yang menjadi bumbu pemanis selama bekerja.
Kekompakan
adalah kunci yang paling penting agar seluruh anggota bisa mengerti satu sama
lain. Tidak membawa masalah personal kedalam tim dan tetap professional.
Oh iya, 4 dari 11 desa yang kami
data juga mengadakan pemeriksaan darah gratis di Puskesmas/Kantor Desa. Khusus
untuk responden yang telah diwawancara dan menyetujui/ttd surat persetujuan
bersedia untuk diperiksa darah. Hanya 3 item pemeriksaan aja: hemoglobin, gula
darah dan malaria.
Acara
pemeriksaan darah tersebut dibantu juga oleh tim dokter gigi/exnumerator
beserta asistennya, dokter umum dan tenaga kesehatan (bidan/perawat).
Pertama,
responden mendaftar di bagian pendaftaran. Yang mengurus pendaftaran ini
enumerator.
Kedua,
warga harus periksa dulu ke dokter umum yang posisinya tepat disebelah meja
pendaftaran. Tujuan periksa ini adalah untuk mengetahui adanya penyakit berat/tidaknya
yang dialami oleh responden.
Ketiga,
kalau dokter sudah mengizinkan untuk periksa darah, maka langsung saja diambil
darah oleh tenaga kesehatan. Darah yang diambil adalah dari pembuluh darah
vena. Apabila darah yang diambil ternyata hanya sedikit, maka harus diulang
sekali lagi. Jika, responden menolak, maka dianjurkan untuk diambil darah
kapiler (yang ditusuk dijari itu lhooo). Waktu pengambilan darah juga dicatat
oleh enumerator.
Kenapa
harus darah vena yang diambil? Karena nanti, darahnya dimasukkin ke tabung,
lalu diproses di mesin centrifuge (mesin darah yang muter-muter). Sampai 10
menit. Terus darah dikeluarin dan diambil serumnya (cairan kuning bening diatas darah yang mengendap) untuk dikirim ke pusat.
Tujuan
pengambilan serum ini sendiri gak tau untuk apa heheheee.. yang tau tindak
lanjutnya cuma orang pusat aja :D
Keempat,
darah responden siap dimasukkan kedalam alat pendeteksi Hb, gula darah, dan
malaria. Hasil pemeriksaan dicatat oleh enumerator yang kemudian akan diinput
kedalam sistem aplikasi biomedis.
Sebelumnya,
enumerator wajib bertanya apakah responden puasa/tidak? Karena penting untuk
pemeriksaan gula darah. Jika responden puasa dan gula darahnya diatas 126 mg/dl
maka diwajibkan minum susu khusus diabetes yang sudah disediakan oleh
enumerator dibagian pembebanan/pemberian larutan tambahan. Sebaliknya, jika
responden puasa dan gula darahnya dibawah 126 mg/dl, maka larutan yang harus
diminum adalah gula monohidrat, kayak gula halus gitu (ini rasanya manis
banget). Nah, pengecualian nih untuk yang punya riwayat diabetes, mau gula darah
puasanya dibawah 126 mg/dl juga tetap dikasih susu khusus diabetes. Karena
memang itu prosedur yang sudah diatur dari pusat.
Tujuan
dari pembebanan untuk mengetahui kadar gula darah sesudah minum larutan selama
2 jam kemudian (2 jam post prandial). Nahh,, nanti kalau hasilnya tinggi,
responden akan dikasih surat rujukan dari dokter untuk ke puskesmas, karena khawatir ada gejala diabetes
yang baru terdeteksi.
Kelima,
responden diarahkan untuk melakukan pemeriksaan gigi. Kecuali yang ikut
pembebanan. Diwajibkan untuk pembebanan dulu, baru periksa gigi. Setelah itu
selesai deh!! Oh iya responden juga dikasih uang loh setelah pemeriksaan
selesai. Enak kaaan, udah gratis dikasih uang lagi :D. Heheee… uang itu amanah
dari Kemenkes.
***
Seperti
itulah pekerjaan enumerator. Capek banget, pusing, harus gesit. Yaa tapi
bayarannya juga setimpal. Inilah lelah yang aku inginkan. Lelah yang bermanfaat
untuk diri sendiri dan orang lain. Menambah pengalaman baru dan mempunyai keluarga
baru.
ADELINA RAMADHANI,
ENUMERATOR RISKESDAS 2018. 02 APRIL – 08 MEI 2018.
Sunday, 13 May 2018
The Crazy Buddy
at May 13, 2018
Pertama kali ku kenal dia sejak
kelas 2 SMA. Siapa yang tidak kesal melihat tingkah lakunya yang begitu “overacting”,
pecicilan dan terkesan judes.
Dia tidak lebih tinggi dari
aku, berperawakan mungil dan lincah sekali. Namun tidak disangka awal dari
pertemanan kami adalah hal yang baik.
Dela Pratiwi. Nama depannya
seperti nama panggilku sedari kecil. Aku panggil dia Dela.
Bernostalgia? Boleh bukan? karena masa-masa
SMA adalah masa yang paling indah. Konflik dengan teman merupakan suatu hal
yang lumrah. Kalo gak ada konflik gak seru. Hahaaaa :D
Seperti aku dengan dia.
Terlibat konflik gara-gara 1 teman laki-laki yang sebenarnya adalah gebetan
Dela. Si miss rempong marah karena aku terkesan lebih dekat dengan Surya
dibandingkan dengan dirinya.
Perselisihan itu dimulai dari
terbentuknya tim drama Bahasa Indonesia yang terdiri dari 7 orang.
Saat itu hubungan pertemanan
kami renggang karena kesalahpahaman. Padahal aku samasekali gak suka sama
Surya.
Wajar Dela marah. Bagaimana mungkin
seseorang rela pujaan hatinya disukai juga sama temannya sendiri? Padahal itu
hanya ada dalam persepsi dia saja.
***
Saat itu Stefi jadi penengah
perselisihan kami berdua. Berusaha mendamaikan dan memberi nasehat yang baik.
Vinda juga. Mereka berdua netral pada kami. Tidak pernah menjelek-jelekkan.
***
Bukan Dela namanya kalau gak
cerewet.
Bukan Dela namanya kalau gak
lebay.
Bukan Dela namanya kalau gak
baperan.
Bukan Dela namanya kalau gak
berani.
Bukan Dela namanya kalau gak
royal sama teman.
Bukan Dela namanya kalau tidak
bisa mendengarkan keluh kesah sahabatnya dengan khidmat.
Cewek yang pemberani. Berani
terus terang jika aku salah. Berani membelaku mati-matian saat disakiti orang
lain. Rela menanggung malu demi memarahi orang yang telah menyakitiku. Tidak
peduli apapun perkataan orang. Bersedia dengerin aku curhat sampai dini hari.
***
Singkat cerita Dela pernah
memarahi temanku karena sudah bersekongkol menjadikanku sebagai taruhan apabila
salah satu dari teman-temannya berhasil dekat denganku dan juga mengajak jalan.
Tapi sialnya aku menolak mereka semua. Tapi Dela tetap kesel karena emosi gak
terima aku dijadikan taruhan.
Saat orang lain menghakimi dia
lebay, ataupun yang jelek-jelek. Aku gak peduli.
The real best friend is orang
yang gak akan pernah ninggalin ketika sahabatnya dijauhin orang lain dan gak
pernah nusuk dari belakang.
Tanya sebabnya apa. Dengarkan
keluh kesahnya. Kalaupun semua salah dia. Kita wajib kasih masukan dan saran.
Jangan dijudges apalagi ditinggalkan.
***
Cerita lagi.
Kau tahu? Aku bahkan tidak
pernah merayakan surprise ulang tahun atau hias-hias kamar dengan sahabat-sahabatku.
Cukup diucapkan selamat dan doa itu sudah membuatku senang karena mereka ingat.
Persahabatan tidak diukur dari
seberapa sering bertemu, intensitas mengobrol dan materi.
***
Maaf kalau tulisanku
kepanjangan yaa heheee… tetaplah jadi diri sendiri… gak usah pedulikan
perkataan orang lain yang membuatmu minder…
Sahabat kamu lebih tahu siapa
dirimu. Mereka hanya lihat dari cover tanpa tahu isinya.
Friday, 11 May 2018
Paradise in Bandung
at May 11, 2018Aku berangkat ke Bandung
naik bus bersama teman-teman calon enumerator. Tidak perlu waktu lama untuk
beradaptasi dengan mereka. Alhamdulillah mereka baik-baik dan welcome.
Sesampai di Hotel Ibis
Trans Studio Bandung, aku dan teman-teman langsung menarik koper ke lobby hotel
dan naik keatas untuk registrasi.
Semangat kami begitu
menggebu-gebu, seolah ingin menyambut sesuatu yang sangat menyenangkan.
Bagaimana tidak senang. Kami menginap di hotel sudah dijamin semua biaya tanpa
pungutan sepeserpun. Hanya membawa uang saku saja untuk jajan diluar.
***
Kami sudah dibayar
mahal-mahal disini, otomatis harus mematuhi setiap peraturan dan belajar
sungguh-sungguh untuk persiapan turun lapangan.
Sungguh bermanfaat sekali
kegiatan disana itu. Aku sekamar dengan temanku namanya Rizky. Jangan salah
paham ya. Dia itu perempuan lhoo hehe. Ketika ada kesulitan dan masalah, selalu
berbagi dengannya, bercerita bahkan kami tidak segan-segan saling meledek hanya
untuk melepas kepenatan sejenak sepulang dari pelatihan.
***
Pada saat pelatihan, kami
(calon Enumerator Karawang) sekelas dengan calon Enum Kabupaten Bogor. Aku banyak
kenalan dengan orang Bogor, bahkan bisa ketemu dengan dosen dan teman satu angkatan
di kampus Uhamka.
Senang sekali bisa
menjalin silaturahmi dengan mereka.
***
Materi yang dipelajari
saat pelatihan adalah teknik wawancara, bagaimana cara bertanya yang baik dan
benar tanpa membuang-buang waktu.
Pertanyaannya meliputi
lingkungan kesehatan rumah tangga, status kesehatan individu: riwayat penyakit
menular (Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), radang paru-paru, tuberculosis, hepatitis,
diare, kaki gajah dan malaria) serta penyakit tidak menular (asma, kanker, kencing
manis dan jantung), seputar kesehatan jiwa, kebersihan gigi dan masih banyak
lagi.
Materinya cukup banyak dan
memang itulah yang harus ditanyakan ke masyarakat. Tapi harus bisa menghemat
waktu juga. Yang paling menantang adalah enum harus bisa menggali setiap
informasi yang diberikan masyarakat sampai menemukan jawaban yang tepat.
Selain itu, enum juga
belajar praktik pengukuran tinggi badan, berat badan, Lingkar Lengan Atas
(LILA), lingkar perut dan memeriksa tekanan darah (tensi darah) tentunya dengan
cara yang benar dan akurat.
Setelah mempelajari semua
teknik, kami turun ke desa yang dekat dengan hotel untuk mempraktikan semua
yang dipelajari dari wawancara sampai pengukuran. Alhamdulillah semua lancar….
Tapi yang bikin aku
deg-degan adalah ketika mewawancarai ibu rumah tangga yang kena penyakit tuberculosis.
Aku tidak menyadarinya. Baru sadar setelah diberitahu temanku yang sudah membaca
surat dokter ibu tersebut.
Pulang dari sana kami
langsung minum susu untuk daya tahan tubuh. Pppftt … ada-ada saja….
Seperti itulah kegiatanku
selama pelatihan di hotel.
***
Pertama kali menginjakkan
kaki di hotel Bandung menurutku adalah “paradise for a while”. Bisa makan enak,
banyak buah-buahan, berbagai macam minuman. Kalau kalian berpikir aku norak
tidak apa-apa. Toh, memang benar baru pertama kali aku menginap di hotel dan
dijamin semua biayanya. Sungguh pengalaman yang mengesankan. Semoga dilain
waktu bisa mendapatkan pengalaman berharga lagi.
Mimpi yang Tertunda
at May 11, 2018
Dear pembaca setia blog Adelina,
maaf untuk kekosongan dibulan April kemarin. Si penulis sibuk sekali
menjalankan tugas negara yang bisa terbilang luar biasa lelahnya mulai dari
tanggal 2 April hingga 8 Mei. Tapi sungguh, lelah itu tidak akan pernah
sia-sia. Aku suka bekerja. Sekalipun kerjaanku kemarin lumayan berisiko bagi
seorang perempuan. Mengenai pekerjaanku, akan kuceritakan nanti setelah cerita
ini.
***
Pengumuman itu tidak
membuatku galau samasekali. Entah. Tapi, aku berpikir mengapa aku bisa kalah
dari mereka? Dari lulusan D3. Ya, aku tidak lulus tes di salah satu RS Tegal,
Jawa Tengah. Bagaimana mungkin semua lulusan S1 gizi tersingkir oleh lulusan
D3? Bukan hanya aku saja, tapi temanku yang tinggal di Tegal juga bernasib
sama.
Mungkin, dari segi
kemampuan/skill jelas mereka lebih unggul. Selama kuliah umumnya lulusan D3
lebih banyak praktikum dibandingkan S1, mungkin itulah salah satu pertimbangan
pihak RS. Ingin mempunyai karyawan yang skillnya bagus tetapi gajinya juga bisa
lebih rendah. Karena jenjang pendidikan juga sangat menyesuaikan gaji.
***
Aku tidak pernah mau putus
asa. Selalu kulakukan upaya untuk mencari pekerjaan lain. Apapun. Bahkan tidak
sesuai dengan pendidikanku juga tidak apa-apa. Aku sudah malu sekali kalau
harus terus meminta uang pada orang tuaku, karena tidak ada pemasukan setiap
bulan. Akhirnya aku mencoba ikut seleksi untuk menjadi Enumerator Riset
Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018.
Apa itu enumerator? Yaitu orang yang membantu kegiatan survey di lapangan seperti wawancara dan pengumpulan data-data lain untuk kepentingan penelitian.
Apa itu enumerator? Yaitu orang yang membantu kegiatan survey di lapangan seperti wawancara dan pengumpulan data-data lain untuk kepentingan penelitian.
Riskesdas ini adalah
sebuah penelitian kesehatan yang diadakan oleh Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) dibawah naungan Kementrian Kesehatan (Kemenkes).
Kegiatan ini hanya dilakukan 5 tahun sekali. Jadi sangat beruntunglah aku
apabila bisa gabung dalam penelitian ini.
Persyaratan yang harus
dipenuhi adalah minimal D3/S1 semua lulusan kesehatan. Aku tidak ragu untuk
mendaftar. Alhamdulillah pertengahan Februari melamar, seminggu kemudian aku dipanggil
untuk test di Dinas Kesehatan Karawang yang lokasinya tidak jauh dari rumahku. Saat
itu aku hanya bisa berdoa agar dikasih kesempatan untuk mengikuti kegiatan itu.
***
Tidak lama setelah tes, 3
hari kemudian aku dipanggil tes di salah satu RS Karawang, Alhamdulillah. Semoga
bisa menjadi awal yang baik.
Kau tahu mimpiku? Yaitu
bisa mengamalkan ilmuku di RS, bertemu dengan pasien, mengatur makanan, menghitung kebutuhan zat gizi, walaupun
“katanya” gaji tenaga kesehatan di RS itu kecil tapi aku masih tetap ingin
sekali bisa bekerja menjadi Ahli Gizi di RS.
Seketika saat itu, aku
mengalihkan doaku dari menjadi enumerator ke ahli gizi. Apabila aku diterima
jadi ahli gizi di RS dan menjadi enumerator, aku akan lebih memilih jadi ahli
gizi di RS. Meskipun gaji enumerator jauh lebih besar dibandingkan dengan ahli
gizi di RS.
***
Allah berkehendak. Kun
Fayakun. Sudah 3 minggu aku sangat menantikan kabar dari RS ternyata kabar baik
itu tak kunjung datang. Sepertinya, lagi-lagi aku kalah dengan lulusan D4 gizi.
Pada saat itu aku test hanya berdua. Aku hanya bisa menyimpan mimpiku
dalam-dalam sebelum nanti jadi kenyataan.
Namun, Allah sediakan gantinya.
Aku terpilih menjadi Enumerator Riskesdas 2018 dan kemudian wajib mengikuti
pelatihan selama 9 hari di Bandung. Syukur Alhamdulillah. Aku senang, akhirnya
bisa memulai suatu pengalaman baru.
Thursday, 8 March 2018
Duniaku adalah Kamu
at March 08, 2018
Setiap orang mempunyai
kesukaan yang berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksakan atau menyuruh orang lain
berperilaku/berbicara seperti apa yang kita inginkan. Belajar menghargai dan
memahami memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Seringkali kita merasa
bahwa pendapat kita adalah yang terbaik. Mungkin saja benar, tapi ada kalanya
kita harus mendengarkan, bukan hanya ingin didengar. Sebab Tuhan menciptakan
dua telinga dan satu mulut yang berarti bahwa kita harus lebih banyak mendengar
daripada berbicara.
Aku memang suka
menulis, walaupun bukan penulis. Hanya mencoba untuk berbagi pengalaman. Menurutku,
menulis apapun bukan suatu masalah selama masih ingat norma dan tidak melanggar
hukum. Contoh: pencemaran nama baik dan SARA.
Referensi menulis yaitu
dari membaca, seringkali kita merasa ingin menulis sesuatu tapi bingung harus
mulai darimana. Bagaimana menggunakan kata-kata yang tepat untuk dirangkai
sehingga terbentuk sebuah narasi yang mudah dipahami semua orang. Dengan banyak
membaca, maka semakin banyak kosakata yang kita dapat serta menambah ilmu dan wawasan.
Untuk dirimu yang tidak
menyukai tulisanku, terima kasih. Beribu terima kasih lagi jika kau mau memberikan
kritik dan saran, bagian mana yang tidak kau suka. Tapi jika tidak berkenan,
kau juga bisa mengabaikan tulisanku dan tidak usah mengklik situs blogku lagi.
Hehe. This life so simple right? Jangan dibikin ribet okay, apalagi sampai
dibuat nyinyir atau gossip.
Bagi yang menyukai tulisanku,
alhamduillah, terima kasih. Yaa aku berharap, pembaca juga bisa memberikan
kritik dan sarannya atau mengungkapkan apapun setelah membaca tulisan-tulisanku
ini.
***
Ini
menyangkut perubahanku. Tadinya tidak suka membaca, lama-lama jadi ketagihan
dan betah membaca berjam-jam. Semua berawal dari …. kusebut saja tidak apa-apa
ya. Buku Tere Liye yang berjudul Tentang Kamu. Aku membelinya pada bulan
Februari 2017. Buku dengan ketebalan yang phew… tebal sekali sekitar 500’an
lembar. Buku itu membuatku excited, bawaannya pengen terus baca, padahal aku
belum suka membaca, maksudnya belum banyak baca buku. Tapi aku nekat membeli buku
setebal itu, entah ada bisikan apa yang menuntun tanganku untuk bergerak
memilih buku itu. Ternyata tidak sedikit pun menyesal, karya Bang Tere tuh
jempol!! Thanks Bang! Awal kegemaranku adalah bukumu :D
Aku
membacanya dikala waktu luang, dan saat itu aku masih kuliah dalam tahap
proposal skripsi, semester 7. Sembari memanfaatkan waktu saat menunggu dosen di
kampus atau hanya sekedar membacanya di dalam bus atau dimanapun ketika lagi
kosong, aku selalu membacanya. Hingga buku tersebut berhasil kutamatkan selama
5 hari. Menarik ceritanya, bahasanya pun mudah dipahami.
Dilain
waktu, aku ketagihan untuk membaca buku lagi, namun aku penasaran dengan buku
yang lebih menantang. Yaitu tentang misteri semacam detektif atau berbau
kriminal.
Sehingga kuputuskan untuk pergi ke toko
buku nan terkenal di seluruh Indonesia itu, hanya untuk melihat berbagai macam
buku misteri. Pandanganku tak lepas dari buku karya Sir Arthur Conan Doyle.
Beliau menulis banyak buku detektif dan aku langsung membeli 2 novel detektif
yang terkenal di Eropa. Sherlock Holmes. Aku juga menyukai asisten Sherlock
Holmes “Dr. Watson” yang karakternya sungguh sangat aku dambakan: seorang
dokter, cerdas dan cekatan.
***
Kesukaan membacaku itu
berlanjut sampai sekarang. Terus saja aku membeli buku-buku lain, mungkin bisa
dibilang aku ini seorang kolektor buku novel karena jumlahnya cukup banyak. Sampai
bingung harus menyimpan dimana lagi karena sudah penuh sesak dengan barang-barang
yang lain. Tidak hanya buku misteri, buku pelajaran hidup, kisah cinta dan
artikel-artikel apapun yang ada di internet juga kubaca. Aku lebih senang
membaca buku daripada internet, karena mataku sakit kalau harus terus-menerus
melihat ke layar dalam waktu yang lama.
Perasaanku saat membaca
seringkali terbawa suasana. Penulis buku memang hebat yaa, bisa membuat pembaca
jadi merasa masuk ke dunia dalam buku itu. Contohnya saja Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea. Aku
sudah membacanya bulan Juni 2017, jauh sebelum filmnya tayang dan menurutku
Dilan itu bagus sekali. Apresiasi untuk Ayah Pidi Baiq yeaay!! Temanku bersedia
meminjamkanku ketiga seri buku Dilan, dan aku membacanya dengan sangat
antusias, selesai dalam 3-5 hari untuk 1 buku.
***
Mungkin banyak orang
yang merasa membaca itu membosankan. Tapi bagiku menyenangkan. Aku suka membaca
bukan berarti aku tahu segala hal. Justru semakin sering membaca, aku semakin
merasa kurang pengetahuan. Kelemahanku, aku tidak begitu tertarik dengan topik
berbau sains atau ilmu pengetahuan. Walaupun kalau ada bukunya aku masih mau
membaca sedikit. Tapi tetap saja aku lebih tertarik untuk membaca buku yang
dirangkai dengan kata-kata yang mudah dipahami.
Mungkin salah satu
penyebab tidak begitu tertarik dengan buku pengetahuan karena bahasanya yang
tidak bisa langsung dipahami oleh banyak orang. Karena dalam buku tersebut
banyak kata-kata asing, atau bahkan kita harus mencari tahu dulu kata-kata itu
melalui internet dan itu juga belum tentu langsung paham. Harus benar-benar
konsentrasi dan telaten.
***
Pantas saja ya orang
yang kuliahnya sampai kejenjang tinggi: S2 atau S3 itu sangat banyak hafalan
teori dan mungkin tidak diragukan lagi dari segi intelektualnya. Lah wong
mereka aja belajarnya buanyaaak banget. Bukunya juga segudang. Apa lagi
penelitiannya belum ujiannya, tesis dan disertasi (S3). Semakin tinggi jenjang
maka semakin harus banyak belajar bahkan harus terus lebih keras. Aku saja yang
S1, pusing banget skripsi. Bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang baik juga
sudah sangat bersyukur.
Yaaa sesuai dengan
judul, duniaku adalah kamu kegemaranku: membaca dan menulis. Judulnya agak menipu sedikit
ya hehehe kamunya itu ternyata hobbyku sendiri :D Walaupun bukan orang yang
pintar dan bukan penulis juga, namun aku punya hobby yang bisa membuatku
senang, serta bisa mengisi waktu luangku. Plus murah dan tidak ribet hehehe,
karena kalau lagi tidak memiliki rezeki lebih, aku masih bisa membaca artikel
atau buku digital dari internet dan kalau tidak malas bisa juga sambil main ke
kampus terdekat dari rumah hanya sekedar
numpang membaca hahaaa walaupun aku sendiri belum pernah main ke perpustakaan
sana.
Subscribe to:
Posts (Atom)









